28. Last SeongLi

1.7K 132 5
                                        

10 Januari 2020

Dua gadis muda yang masih tergolong anak di bawah umur menurut hukum Korea sedang berdiri berdua di pelataran Namsan Tower. Ratusan ribu gembok cinta berwarna-warni tergantung mengelilingi pagar besi, menjadi saksi ribuan janji manusia yang ingin mengikat hubungan mereka selamanya. Termasuk pasangan sahabat dan saudara tak sedarah, Seongmin dan Lisa—atau yang kerap disapa SeongLi oleh orang-orang terdekat mereka.

Saat ini, keduanya tengah membisu, menatap sejauh mata memandang ke arah hamparan kerlap-kerlip lampu Kota Seoul dari sudut pandang ketinggian, setelah baru saja puas berdesakan mencari tempat terbaik untuk menyangkutkan gembok milik mereka.

"Eonnie," panggil Seongmin pelan. Suaranya hampir tertelan oleh helaan angin malam yang menusuk tulang.

Lisa menoleh, menatap wajah adiknya dari samping. Seongmin masih terfokus menatap pemandangan kota di bawah sana, namun guratan di wajahnya memancarkan beban yang amat berat.

"Hubungi aku jika kau sudah benar-benar siap melakukannya," lanjut Seongmin dengan nada bicara yang begitu tenang namun menuntut.

Kalimat singkat itu seketika merobek pikiran Lisa, memaksanya terlempar kembali pada ingatan pertemuannya dengan Dokter Ahn Junwan siang tadi di rumah sakit.

Flashback On

Lisa mencengkeram erat punggung tangan Seongmin hingga jemarinya memutih. Matanya tak berkedip menatap raut wajah penuh keseriusan dari sang dokter spesialis jantung yang kini sedang mengamati lembaran hasil rontgen thorax dan echocardiogram milik Lisa di atas layar penerang.

Lisa tahu tubuhnya bermasalah. Ia bisa merasakan detak di dadanya tidak pernah berirama normal dan kerap memberinya rasa nyeri yang menghantam tanpa peringatan. Namun, ia tidak pernah membayangkan seberapa parah kerusakan yang mengintai di dalam dada kirinya.

"Jika kalian baru datang menemui saya tahun depan..." Dokter Junwan menghela napas berat, mengalihkan pandangannya dari layar langsung ke dalam iris mata Lisa yang bergetar. "...kemungkinan besar saya sudah harus angkat tangan."

Cengkeraman tangan Lisa pada Seongmin semakin kuat, seolah-olah hanya Seongmin satu-satunya penopang agar tubuhnya tidak meluruh ke lantai.

"Katup pulmonalmu sudah rusak parah dan tidak bisa dipertahankan lagi," lanjut Dokter Junwan dengan nada tegas namun tersirat rasa iba. "Kau harus segera mengambil keputusan untuk menjalani operasi penggantian katup. Kau masih sangat muda, Lisa-ya. Beritahu keluargamu segera, karena bagaimanapun juga, dukungan dan persetujuan tindakan medis dari keluarga adalah yang terbaik untuk keselamatan nyawamu."

Ruangan itu mendadak sunyi mencekam. Lisa membeku, lidahnya kelu tak sanggup mengeluarkan satu kata pun.

"Maaf, Uisa-nim... Jika operasinya dilaksanakan langsung minggu depan, apakah jadwalnya memungkinkan?" Seongmin akhirnya angkat bicara, memotong keheningan karena melihat Lisa yang sudah linglung.

"YA!!" seru Lisa menoleh kaget pada Seongmin. Menyadari suaranya terlalu tinggi, Lisa segera membungkukkan badan ke arah dokter. "Ehm, maafkan saya, Uisa-nim. Maksud saya... masalah ini akan saya diskusikan terlebih dahulu dengan keluarga saya. Terima kasih banyak atas waktunya hari ini, Junwan Uisa. Kami pamit dulu."

Tanpa menunggu respons lebih lanjut, Lisa langsung berdiri dan menarik paksa tangan Seongmin keluar dari ruang konsultasi.

Di lorong rumah sakit yang sepi, Seongmin menahan langkahnya, memaksa Lisa ikut berhenti. Seongmin mengangkat sebelah alisnya, menunggu penjelasan dari gadis di depannya yang masih bersandar di dinding koridor seraya mengoperasikan napasnya yang memburu. Meski Seongmin merasa amat kesal dengan sikap keras kepala Lisa, ia berusaha menahan diri dan tetap menghargai Lisa sebagai sosok yang lebih tua darinya.

STAYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang