Pintu kaca utama Mansion Lee tergeser perlahan, membiarkan angin dingin malam masuk membawa aroma hujan yang belum sepenuhnya reda. Lisa berdiri di ambang pintu, menuntun koper kecilnya dengan jemari yang gemetar pelan.
Di ruang tengah, ke-tiga kakaknya telah menunggu. Namun, alih-alih pelukan hangat yang seharusnya menyambut seorang adik yang baru saja meraih kemenangan besar di panggung final, suasana di ruangan itu mendadak membeku.
" Annyeonghaseyo," sapa Lisa pelan sembari menundukkan badannya dalam-dalam, menggunakan tingkatan bahasa yang sangat formal dan santai seolah ia sedang menyapa sekelompok orang asing.
Rose, yang berdiri paling depan, membelalakkan matanya kaget. Suara formal adiknya menusuk pendengarannya bagaikan bilah pisau. Sementara itu, Jisoo dan Jennie menatap Lisa dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa rindu yang membuncah, sama sekali belum menyadari perubahan bahasa yang digunakan oleh adik bungsu mereka karena terfokus pada kelelahan di raut wajah Lisa.
Jisoo mengambil satu langkah maju, mengulurkan kedua tangannya hendak merengkuh tubuh Lisa ke dalam pelukan hangat. Namun, Lisa dengan cepat mundur setengah langkah, menyilangkan tangannya di depan dada.
"Ah... jwesonghamnida, Jisoo-sshi. Saya belum membersihkan diri setelah perjalanan jauh. Tubuh saya kotor," potong Lisa dingin, menghentikan pergerakan Jisoo di udara.
Jisoo mematung. Uluran tangannya mengudara canggung sebelum akhirnya terkulai lemas di samping tubuhnya. Lisa mengabaikan raut wajah Jisoo yang mendadak pucat, lalu berjalan mendekati sofa tempat Jennie terduduk lemas dengan selang infus yang masih menempel di punggung tangannya. Dari dalam tas kainnya, Lisa mengeluarkan sebuah kantong kertas hangat.
"Jennie-sshi, saya membelikan dumpling hangat untuk Anda. Silakan dimakan selagi masih hangat," ujar Lisa tanpa sedikit pun menatap langsung ke dalam mata Jennie. Usai meletakkan makanan tersebut di atas meja kaca, Lisa berbalik menarik kopernya menuju anak tangga tanpa menoleh ke belakang lagi.
Jennie menatap kantong dumpling itu dengan bibir bergetar. Tangannya melayang di udara, hendak menggapai ujung baju Lisa, namun tubuhnya terlalu lemas untuk bangkit dari sofa.
"Apakah... apakah dia sangat marah pada kita, Eonnie?.." tanya Jennie dengan suara parau dan sangat lemah. Sejujurnya, Jennie ingin sekali berlari memeluk Lisa detik itu juga. Andai saja rasa mual di perutnya dan sakit kepala yang menusuk tidak menahannya di sofa.
Jisoo melangkah mendekat, mendudukkan dirinya di samping Jennie lalu mengelus lembut pucuk kepala adiknya. "Wajar jika dia merasa sangat kecewa pada kita, Jennie-ya. Jangan dipikirkan terlalu berat dulu, ya? Kondisi tubuhmu sedang tidak baik."
Di dalam kepalanya, otak Jisoo terus berputar keras mencari cara untuk menyusun kata maaf yang pantas, berusaha meruntuhkan dinding tebal yang baru saja didirikan oleh Lisa demi mengembalikan kehangatan keluarga mereka seperti semula.
"Dia bahkan sama sekali tidak mau menatapku..." suara Rose menyela dari arah lorong, terdengar sangat serak menahan tangis. Rose berdiri bersandar pada dinding dengan bahu terkulai. "Dia mengabaikanku sepenuhnya. Dia hanya mau berbicara panjang lebar dengan Nara Imo..."
Jennie dan Jisoo mendongak menatap Rose. Tersirat rasa sakit dan kehilangan yang mendalam di wajah Rose. Di atas anak tangga lantai dua, Lisa sebenarnya masih bisa mendengar gema suara ke-tiga kakaknya. Lisa memejamkan mata rapat-rapt, meremas pegangan kopernya erat-erat. Hatinya kacau; ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk menetralkan rasa sakit yang terpatri di dadanya.
...
...
...
Usai membersihkan diri dan berganti pakaian dengan kaos longgar, Lisa melangkah kembali ke kamarnya. Namun, begitu memutar gagang pintu, langkahnya terhenti. Di atas ranjangnya, terlihat sosok Jennie terbaring membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Jennie mengintip dari balik selimut, menatap Lisa dengan mata sayu yang memohon kehangatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
FanfictionPlease Just Choose to Stay . . . . Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya. Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
