Ketiga putri pertama Lee Dongwook berdiri amat tegang di dalam kamar rawat VVIP. Pintu kamar rawat Lisa sudah terbuka lebar sejak beberapa menit lalu, menandakan bahwa tim medis akan segera mendorong ranjang si bungsu menuju blok ruang operasi utama.
Rosé berdiri menempel di sisi ranjang, matanya berkaca-kaca tak pernah lepas menatap wajah pucat adiknya. Jisoo di sisi lain tak henti-hentinya mengelus lembut punggung tangan Lisa yang bebas infus, sementara Jennie terus membisikkan kata-kata penenang dengan suara bergetar, meski tubuhnya sendiri bergerak random tak bisa diam akibat rasa cemas yang memuncak.
"Jangan khawatir, hmmm? Eonnie semua ada di sini menemanimu. Jangan takut sedikit pun, Lisa-ya..." bisik Jennie berulang kali, menyeka helai rambut di kening Lisa.
Lisa sebenarnya ingin sekali terkekeh geli melihat tingkah protektif dan kepanikan ketiga kakaknya. Namun, ia menahan diri agar tidak kembali terkena amukan atau teguran keras dari mereka.
"Hmmm... sebaiknya kalian semua duduk dulu, nde? Jangan tegang begitu, Eonniedeul. Tuhan sudah mengutus Dokter Junwan yang sangat ahli untuk membantuku hari ini," tutur Lisa amat hati-hati, memilih diksi kata sedemikian rupa agar tidak menyinggung perasaan sensitif kakak-kakaknya.
"Benar apa yang dikatakan Lisa. Kalian bertiga duduklah dulu di sofa. Lisa justru merasa makin tidak nyaman jika kalian mengerubunginya penuh kepanikan seperti itu," akhirnya Dongwook angkat bicara dari sudut ruangan. Pria paruh baya itu sebenarnya sama gugupnya, dan melihat ketiga putri tertuanya bertingkah histeris justru membuat debaran dadanya makin tak menentu.
"Mommy..." rengek Lisa pelan, mengalihkan pandangannya pada sang ibu karena ketiga kakaknya sama sekali tidak mengindahkan teguran dari sang ayah.
"Ne, kenapa Sayang?" sahut Jisoo cepat.
"Kau merasa haus?!" seru Rosé panik.
"Ada bagian tubuhmu yang mendadak sakit?!" sela Jennie tak kalah heboh.
"Kalian bertiga duduk di sofa sekarang juga, atau Mommy akan mengunci kalian bertiga di kamar sebelah!" ancam Inna tegas, melangkah mendekati ranjang si bungsu.
Mendengar gertakan sang ibu, ketiga gadis itu akhirnya menurut pasrah dan mendudukkan diri di sofa dengan raut wajah melipat.
"Mom... kata Mina kemarin, Daddy membeli lima unit apartemen mewah sekaligus di London, ya?" tanya Lisa mengalihkan perhatian, berusaha mencairkan atmosfer ruangan yang teramat tegang.
Inna tersenyum tipis. "Iya, benar. Kenapa, Sayang? Lisa tidak suka? Atau Lisa mau Daddy membelikan rumah tapak saja di sana?"
"Anniya... geunyang," Lisa menggelengkan kepala. "Kenapa Daddy tidak membelikan satu unit penthouse saja? Bukankah itu jauh lebih berhemat daripada membeli lima unit apartemen sekaligus?"
Lisa paham betul, dua unit apartemen ekstra itu pasti diniatkan sebagai tempat menginap anggota keluarganya saat berkunjung ke Inggris nanti, sedangkan tiga unit lainnya dipersiapkan khusus untuk tempat tinggal dirinya, Somi, dan Mina.
"Kau kan lebih menyukai ruangan pribadi yang luas dan tidak terganggu, makanya Daddy membelikan beberapa unit terpisah," sahut Inna mengusap pipi si bungsu.
"Iya, tapi kan kasihan uang Daddy terbuang banyak. Kalau uang Daddy nanti habis, Lisa mau makan apa di London?" celoteh Lisa polos.
Dongwook seketika tertawa renyah mendengar kekhawatiran konyol dari putri bungsunya. Bagaimana bisa pemikiran seolah-olah akan jatuh miskin seperti itu keluar dari bibir anak seorang taipan bisnis terkemuka dunia?
"Kalau uang Daddy habis dan Daddy bangkrut, minta saja uang pada ketiga Eonnie-mu yang sudah bekerja dan berpenghasilan sendiri itu," goda Dongwook melirik ketiga putri tertuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
FanfictionPlease Just Choose to Stay . . . . Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya. Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
