Please Just Choose to Stay
.
.
.
.
Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya.
Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
Sudah hampir seharian penuh Lisa berada di dalam area mansion megah keluarga Lee. Ketiga kakaknya secara kompak tidak mengizinkannya keluar rumah atau pergi bermain bersama teman-temannya setelah ia pulang dari sekolah.
Alasannya sederhana dan mutlak: besok pagi Lisa harus sudah kembali memasuki asrama karantina 99 Girls, sehingga hari ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk beristirahat total di rumah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jisoo Eonnie... Apakah kau benar-benar tidak ada janji pertemuan dengan klien hari ini?" tanya Lisa sembari memperhatikan kakak tertuanya yang sedang sibuk membolak-balik potongan daging di atas pemanggang listrik.
Jisoo hanya menggelengkan kepalanya tanpa menoleh, fokus memastikan daging panggangnya matang sempurna.
"Jennie Eonnie... Apa kau juga tidak ada jadwal konsultasi dengan dosen pembimbingmu atau menggambar desain busana baru?" Lisa beralih menatap Jennie yang sedang sibuk menyusun piring dan peralatan makan di atas meja.
Sekali lagi, Lisa hanya mendapat gelengan kepala pendek dari Jennie sebagai jawaban.
"Rosé Eonnie... Apa kau tidak punya tugas kuliah atau jadwal latihan rutin bersama band kampuspun hari ini?"
Kini, bukan sekadar gelengan yang Lisa dapatkan. Rosé melepaskan bantal sofa yang dipegangnya, lalu berlari kecil menuju sofa panjang tempat Lisa sedang meluruskan kakinya.
"Kenapa? Kau tidak suka berada di rumah dan menghabiskan waktu bersama kami?" tanya Rosé sembari membetulkan posisi duduk Lisa agar ia bisa menaruh kepalanya dengan nyaman di atas pangkuan si bungsu.
"Anni... bukan begitu, tapi..."
"Kemarin kami sudah memberimu kebebasan penuh untuk keluar dan bertemu dengan teman-teman kesayanganmu itu, kan?" potong Jennie cepat, menyela ucapan adiknya.
"Tapi Eonnie... Kemarin aku tertidur pulas padahal jam baru menunjukkan pukul dua pagi!" keluh Lisa dengan raut wajah memelas.
Seketika itu juga, ketiga kakaknya membelalakkan mata terkejut.
"Ya!! Neo!! Paboya?!" Jennie dan Rosé berteriak bersahutan penuh kejutan. Rosé bahkan langsung mengubah posisi duduknya, bangkit dan bersiap melayangkan omelan panjang pada adiknya.
"Chakkaman, yeorobun... Lisa-ya, dengarkan Eonnie baik-baik," Jisoo meletakkan penjepit daging dan mengambil alih kendali pembicaraan. "Kemarin kau bahkan menyempatkan diri membawa buku latihan matematika ke dalam asrama karantina. Kau pulang ke rumah ini untuk bersekolah dan beristirahat. Tubuhmu memiliki hak untuk beristirahat secara layak, Lisa-ya."
Jisoo menasihati dengan suara lembut namun tegas. Lisa hanya bisa menundukkan kepalanya, tidak berani membalas karena takut melihat tatapan tajam yang dilayangkan Rosé dan Jennie padanya.