25. Lisa ga Mianhae

2K 136 1
                                        

18 Oktober 2019 

Suara derit sepatu yang bergesekan secara kasar dengan lantai parket kayu bernuansa cokelat terang memenuhi seluruh sudut ruang latihan utama. Pantulan dari dinding cermin besar yang membentang luas memperlihatkan enam tubuh gadis muda yang tengah bersimbah keringat. Uap panas seolah menguar dari pakaian latihan mereka yang basah kuyup.

Sedari beberapa hari lalu, satu per satu member SevG telah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan individu mereka. Ada yang baru saja merampungkan pemotretan majalah fashion, menghadiri acara talkshow TV, hingga menyelesaikan syuting iklan komersial. Kini, seluruh fokus dan energi mereka tercurah sepenuhnya pada satu titik fokus utama: proyek comeback terakhir SevG sebelum masa kontrak mereka resmi berakhir.

Hari ini merupakan jadwal vital bagi SevG untuk mempelajari seluruh rangkaian koreografi dari lagu utama album perpisahan mereka. Di depan ruangan, sang koreografer—pria paruh baya yang menciptakan gerakan-gerakan ikonik untuk grup tersebut—mengamati setiap lekuk gerakan anak didiknya dengan mata elang.

" Cak cak dung dung, geure chowa! Bagus sekali! Tangannya agak diberikan power lebih kuat lagi pada ketukan ini, persis seperti yang dilakukan Lisa!" seru sang coach sembari menunjuk ke arah Lisa.

Lisa, yang berdiri mematung di barisan paling depan, langsung memberikan contoh gerakan pengulangan dengan hentakan tubuh yang begitu tajam, presisi, dan penuh karisma. Anggota yang lain mengangguk paham, mencoba meniru lekuk lengan sang main dancer.

"Baik, kita mulai ulang dari awal lagu, ya..." ujar sang coach sembari melangkah menuju meja sudut, menyalakan sistem pemutar musik sound system, lalu berbalik. "Kalian ulangi bagian verse dua dulu. Saya izin sebentar ke kamar mandi."

Begitu pintu ruang latihan tertutup rapat, dentuman bass lagu comeback menggema keras. Namun, stamina manusia tentu memiliki batasnya.

"Apakah kalian lelah?" tanya Lisa dengan napas terengah-engah. Sebagai main dancer sekaligus sosok yang paling bertanggung jawab atas kualitas tarian grupnya, Lisa menatap satu per satu wajah rekan-rekannya melalui pantulan cermin. 

Pasalnya, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam dan sesi latihan maraton ini telah berlangsung tanpa henti sejak empat jam yang lalu.

"Dua kali lagi, Lisa-ya! Kajja!" Sejeong berteriak penuh semangat. Meskipun helai rambutnya sudah menempel lekat di dahi dan kaus hitamnya benar-benar basah oleh peluh, energinya seolah tak pernah habis.

"Iya, dua kali pengulangan lagi lalu kita istirahat," sahut Yoojung dan Chowon hampir bersamaan, mengiyakan ajakan Sejeong.

"Kaeun Eonnie?" tanya Lisa tatkala matanya menangkap sosok sang leader yang hanya berdiri diam. Kaeun mematung di sudut kanan, matanya menatap intens ke arah pemuda bungsu mereka—Seongmin—melalui pantulan cermin depan.

" Eonnie!" panggil Lisa lagi dengan nada lebih tinggi.

" Ah, nde?!" Kaeun tersentak kaget. Ia terbangun dari lamunannya akibat senggolan siku dari Chowon yang berdiri tepat di sampingnya.

"Bagaimana kalau... kita cukupkan satu kali lagi saja?" tutur Kaeun menawarkan. Suaranya terdengar cemas. Sedari tadi, pandangannya tak pernah lepas dari Seongmin yang berulang kali membuang napas kasar dan memegangi area bahu kanannya secara diam-diam.

Seluruh anggota menyetujui usulan sang leader. Tepat saat sang coach kembali masuk ke dalam ruangan, lagu diputar dari detik pertama. Keenam gadis itu menggerakkan tubuh mereka dengan kekompakan yang memukau. 

STAYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang