40. Find out

1.7K 102 13
                                        

5 Maret 2023

Dua minggu setelah kembali beraktivitas pascaoperasi, udara awal musim semi di Seoul masih terasa begitu menggigit. Begitu bel tanda berakhirnya jam perkuliahan berbunyi, Lisa bergegas membenahi buku-buku kalkulusnya. Ia berlari sekuat tenaga menelusuri koridor kampus menuju area parkiran dosen tempat sepeda motor big-bike miliknya terparkir.

Perasaan gundah yang membuncah membuatnya tak sabar. Hari ini ia mendapat pesan singkat dari Jisoo yang mengajak menyambangi mansion milik Seongmin secara mendadak. Keduanya sudah benar-benar jengah, cemas, sekaligus kesal dengan sikap Seongmin yang seolah-olah lenyap ditelan bumi. Hampir tiga bulan lamanya gadis itu tidak memberi kabar, tak membalas pesan, ataupun mengangkat panggilan telepon dari mereka.

PLAKK!

"Awhh! Eonnie!" pekik Lisa mengaduh kesakitan seraya memegangi punggungnya.

Sesampainya di gedung kantor tempat Jisoo bekerja, Jisoo yang sudah berdiri menunggunya di depan lobi utama langsung memberikan geplakan keras di punggung adiknya begitu Lisa menghentikan motornya.

"Sudah Eonnie duga kau pasti akan mengebut di jalanan!" omel Jisoo beriringan dengan napasnya yang memburu. Ia segera memakai helm dan naik ke jok belakang, melingkarkan kedua tangannya dengan sangat erat di pinggang Lisa. "Jika kau terus-terusan mengendarai motor seperti kesetanan begini, besok motor ini benar-benar akan Eonnie jual kembali!"

"Jalanan sedang sepi, Eonnie!" berteriak Lisa dari balik helm full-face miliknya agar suaranya tidak tertelan hembusan angin.

Namun omelan tegas sang kakak tertua sama sekali tidak membuat Lisa kapok. Meskipun ia tidak memacu kecepatan hingga batas maksimal, gaya mengemudinya tetap seperti seorang polisi yang sedang mengejar buronan yang paling dicari. 

Ia meliuk-liuk cepat di antara sela-sela mobil berukuran besar dan kecil dengan jarak yang amat sempit, memotong jalur tanpa ragu. Hal itu membuat Jisoo terpaksa memejamkan mata rapat-rapt, meremas perut Lisa, dan berulang kali merapatkan doa di dalam hatinya agar mereka selamat sampai tujuan.

Beberapa puluh menit kemudian, deru mesin motor berhenti tepat di depan gerbang mansion Seongmin.

"Kepalaku... sangat pusing..." pangkas Jisoo meringis.

Lisa bergegas mematikan mesin dan membantu Jisoo turun dari jok belakang. Wajah sang kakak tertua tampak begitu pucat pasi, matanya berputar akibat cara membawa motor Lisa yang terlampau liar.

"Eonnie, gwenchana?" tanya Lisa cemas, menahan tubuh Jisoo yang sedikit limbung.

"Besok... motor konyolmu itu benar-benar akan Eonnie jual... Tingkahmu tadi benar-benar... hueeeekk!" Jisoo menghentikan kalimatnya saat rasa mual yang luar biasa hebat mendadak naik dari lambungnya menuju tenggorokan.

"Geure, geure... Lanjutkan omelanmu nanti saja ya, Eonnie. Ayo masuk dulu, nanti aku minta dibuaktan teh hangat untukmu," bujuk Lisa memapah lembut tubuh Jisoo melewati gerbang. Sepeda motor mahal itu dibiarkan begitu saja terparkir di pinggir jalan. Keduanya melangkah masuk melalui pintu samping kecil yang dikhususkan bagi pejalan kaki.

TING NONG!

Lisa menekan bel pintu utama, lalu kembali menopang tubuh Jisoo yang masih terlihat lemas dan memegangi perutnya.

Tak lama kemudian, kunci pintu berputar.

"Nde? Lisa-ya?" sosok yang membuka pintu membelalak kaget saat mendapati siapa yang datang. "Masuklah! Ada apa dengan Jisoo-ssi?"

Dahi Lisa berkerut dalam. Langkah kakinya sempat tertahan di ambang pintu. "Seulgi Eonnie? Kenapa kau ada di sini?"

"Ah, nanti aku jelaskan. Bawa masuk dulu Jisoo-ssi, dia terlihat mau pingsan," sahut Seulgi panik, membantu Lisa membopong Jisoo menuju sofa di ruang tengah. "Aku akan ke dapur sebentar menyiapkan minuman."

STAYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang