9 Maret 2020
Pagi itu, udara London terasa cukup menusuk tulang, menyisakan embun tebal di permukaan kaca mobil SUV hitam yang terparkir anggun di tepi jalan tak jauh dari gerbang kampus. Di dalam kabin mobil yang hangat dan beraroma vanilla, ketiga gadis dari keluarga Lee—Jisoo, Jennie, dan Rose—menatap haru ke arah gadis bungsu mereka, Lisa.
Langkah kaki Lisa yang terbalut sepatu kets putih tampak mantap melangkah memasuki area gedung perkuliahan, membawa tas punggung yang terisi penuh dengan buku-buku tebal.
Tatapan ketiga kakak perempuan itu persis seperti tatapan seorang ibu yang untuk pertama kalinya melepas sang buah hati melangkahkan kaki di hari pertama sekolah dasar. Rasa bangga yang membuncah membuat ketiganya mengukir senyum lebar di balik kaca mobil yang gelap.
"Semoga Lisa tidak bergaul dengan anak yang terlalu ambisius di sana," celetuk Jennie tiba-tiba, setelah pandangannya menyapu sekeliling area pejalan kaki di sekitar kampus.
Jisoo dan Rose serta-merta menoleh, menatap Jennie dengan dahi berkerut heran.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu, Jennie-ya?" tanya Jisoo sembari memiringkan kepalanya.
"Coba kalian lihat mereka," sahut Jennie seraya menunjuk ke luar jendela dengan dagunya.
Jisoo dan Rose mengikuti arah yang ditunjukkan Jennie. Di luar sana, tampak beberapa mahasiswa berjalan sendirian. Rata-rata dari mereka mengenakan kacamata berbingkai tebal, memeluk tumpukan buku teks super tebal di dada, dan melangkah terburu-buru tanpa memedulikan sekitar.
Wajah-wajah mereka tampak rupawan dan cerdas, namun gaya berpakaian mereka terkesan seadanya—cukup lusuh dan kontras untuk ukuran standar kehidupan sehari-hari gadis-gadis keluarga Lee yang selalu modis.
"Jangan khawatir, Jennie-ya," ujar Jisoo terkekeh pelan. "Lisa itu mantan idol. Bagaimanapun juga, dia sudah sangat terlatih dan pintar dalam menata penampilannya sendiri."
Rose mengangguk setuju dengan ucapan Jisoo, meskipun di dalam hatinya ia sedikit tertawa. Di antara mereka berempat, Rose sangat tahu bahwa Lisa memiliki kebiasaan yang cukup berantakan jika sudah berada di dalam kamar pribadi. Namun untuk urusan penampilan publik, sang adik memang tidak pernah gagal.
...
...
...
Sementara itu, di dalam gedung fakultas, Lisa melangkah menyusuri lorong dengan napas sedikit tertahan. Sepanjang perjalanan menuju kelas utamanya, Lisa tidak luput dari perhatian para mahasiswa lain yang lalu lalang. Bisik-bisik kagum terdengar samar di sepanjang koridor. Banyak yang memuji parasnya yang cantik alami, rambut panjang berponinya yang terurai indah, serta bentuk wajahnya yang kecil dan proporsional bak boneka Barbie.
Begitu menemukan ruang kelasnya, Lisa segera menaruh tasnya di salah satu meja. Baru saja ia mendaratkan pantatnya di atas kursi kayu dingin tersebut, seorang gadis berparas jelita menghampirinya dengan senyum mengembang dan menyodorkan tangan hangatnya.
"Hello! I'm Nadine," sapa gadis itu ramah dengan logat Inggris yang begitu kental dan elegan.
Lisa sempat tertegun sejenak sebelum membalas uluran tangan itu dengan ramah. "Eoh, hi! I'm Lisa. Kau juga mahasiswa baru di kelas ini?" tanya Lisa berbasa-basi, meskipun ia sadar pertanyaan itu agak konyol mengingat hanya mahasiswa baru yang dijadwalkan menempati kelas pengenalan hari ini.
"Iya, aku mahasiswa baru!" Nadine mengangguk antusias. Tiba-tiba pandangannya memicing penuh rasa ingin tahu saat mengamati wajah Lisa dari jarak dekat. "Wait... apakah kau seorang artis? Wajahmu rasanya sangat tidak asing."
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
FanfictionPlease Just Choose to Stay . . . . Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya. Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
