08 Desember 2017
Gema nada terakhir dari lagu evaluasi surut perlahan di dalam studio utama. Lampu sorot panggung yang menyilaukan meredup, menyisakan napas terengah-engah dari para trainee yang berdiri sejajar di atas panggung. Di barisan depan meja juri, Soyou menghentikan catatannya, lalu mengangkat pandangannya tepat ke arah garis depan formasi.
"Lee Lisa, kau sudah semakin baik dibandingkan saat di kelas latihan kemarin. Nadamu terdengar jauh lebih stabil dan ketukanmu sangat sesuai dengan tempo," puji Soyou sembari mengacungkan dua jempol ke arah Lisa.
Chowon yang berdiri di samping Lisa tersenyum lebar, lalu menepuk-nepuk pelan punggung temannya itu untuk membagikan rasa bangga. "Kau sangat hebat, Lisa-ya," bisik Chowon dengan nada penuh kagum.
Namun, Lisa tak langsung merespons pujian Chowon. Pandangannya justru tertuju ke sudut lorong samping panggung, tempat di mana adiknya, Seongmin, berdiri menatapnya sembari menyunggingkan senyum paling bahagia yang pernah Lisa lihat. Senyuman polos itu seolah menjadi penawar letih bagi Lisa setelah melalui berminggu-minggu tekanan mental yang menguras fisik.
Setelah seluruh mentor memberikan evaluasi dan masukan penutup bagi tiap trainee di dalam timnya, latihan gladi bersih (rehearsal) terakhir untuk acara final 99 Girls resmi dinyatakan selesai. Lisa menuruni tangga panggung bersama peserta lainnya.
Namun, baru beberapa langkah menyusuri lorong menuju area bilik ganti, langkah Lisa mendadak terhenti. Tangannya menyilang meremas bagian perutnya, sementara tubuhnya membungkuk menahan rasa sakit yang menusuk.
" Eonnie, gwenchana??" Seongmin yang berjalan tak jauh di belakangnya seketika berlari mendekat. Ia menatap cemas wajah Lisa yang mendadak pucat pasi dengan bulir keringat dingin menetes di pelipisnya.
"Hmm... sepertinya... penyakit maag-ku kumat," ujar Lisa dengan suara patah-patah sembari meremas kain bajunya makin kuat.
"Kita ke ruangan kesehatan sekarang juga, Eonnie. Ayo, kuantar," dengan sigap Seongmin memapah tubuh Lisa, memegang kedua bahunya dengan erat agar Lisa tidak kehilangan keseimbangan dan terjatuh di lorong.
...
...
...
Ruang Kesehatan Asrama
Aroma antiseptik yang khas menyambut mereka saat Seongmin membantu Lisa berbaring di atas ranjang periksa. Dokter jaga ruangan kesehatan asrama segera melakukan pemeriksaan singkat sebelum menyuntikkan cairan obat ke dalam selang infus atau otot lengan Lisa. Lisa memejamkan matanya rapat-rapat, menggertakkan gigi menahan rasa takut dan nyeri akibat tusukan jarum.
"Apa kau terlambat makan, Lisa-sshi?" tanya dokter berjas putih itu sembari mengemas peralatan medisnya.
"Kugoreskan keyakinan kalau dia tidak terlambat makan, Dok. Dia selalu makan tepat waktu bersamaku setiap hari," Seongmin yang menjawab mewakili Lisa. Ia tak bisa menahan senyum tipis melihat raut wajah Lisa yang masih menyisakan sisa ketakutan akibat adegan penyuntikan obat tadi.
Dokter tersebut tersenyum memaklumi. "Baiklah. Berikan dia roti dan susu hangat nanti setelah kondisinya agak tenang, lalu minta dia minum obat ini secara teratur." Dokter memberikan dua bungkus obat jalan kepada Seongmin, yang langsung diterima dengan bungkukan badan penuh rasa terima kasih.
Setelah dokter melangkah keluar ruangan, Seongmin berbalik menatap Lisa yang menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
"Ternyata seorang Lee Lisa yang begitu berani di atas panggung adalah penakut besar kalau menghadapi jarum suntik, hahaha!" goda Seongmin terkekeh.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
Fiksyen PeminatPlease Just Choose to Stay . . . . Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya. Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
