25 November 2023
Akhir pekan kali ini, Lisa memutuskan untuk meluangkan waktunya dari tumpukan tugas akademik dan pergi berlibur sejenak ke Pantai Naksan bersama ketiga kakak perempuannya. Udara pagi kota Seoul terasa begitu menyejukkan.
Dengan jendela mobil yang sedikit terbuka, Lisa mengemudikan mobil mewahnya menyusuri jalanan kota yang mulus. Tangan kirinya bersandar santai di pintu mobil, sementara tangan kanannya mengendalikan kemudi dengan begitu mahir.
"Aaahhh... akhirnya kita bisa berlibur juga, meskipun ini liburan dadakan!" ujar Rose riang dari kursi belakang.
Rose memejamkan mata, membiarkan helai-helai rambutnya berkibar diterpa hembusan angin segar. Atap mobil yang sengaja dibuka membuat pemandangan jalanan yang diapit oleh barisan pohon-pohon besar terasa sangat memanjakan mata.
"Eonniedeul suka?" tanya Lisa lirih seraya melirik lewat kaca spion tengah, memastikan para kakaknya menikmati perjalanan. "Maaf ya kalau liburannya sangat mendadak."
"Sangat suka, Lisa-ya! Gomawo sudah mengajak kami," ujar Jisoo dari kursi penumpang depan, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi Lisa.
"Eonnie juga sangat suka," timpal Jennie yang duduk di sebelah Rose di kursi belakang. "Lagipula kau harus sering-sering berlibur seperti ini. Jangan hanya mengurung diri di sangkar mumu itu saja!" lanjut Jennie dengan nada sebal saat mengingat betapa berantakannya ruang kerja Lisa di kampus.
"Nde, Eonnie," jawab Lisa diiringi tawa kecil yang canggung.
Sebulan resmi menjadi dosen benar-benar mengubah ruang kerja pribadi Lisa—yang sebelumnya dihiasi interior mewah pemberian Jisoo—menjadi layaknya sebuah sarang burung.
Tumpukan kertas ujian, lembar riset, hingga buku-buku kalkulus tebal yang menggunung tergeletak secara acak memadati ruangan besar tersebut.
"Lisa-ya, kita sarapan di kedai ini ya? Sangat berbahaya bagi lambung jika kita menuju pantai tanpa mengisi perut dulu," kata Rose seraya menyodorkan layar ponselnya ke arah depan.
"Tolong minta bantuan Jisoo Eonnie untuk memasukkan lokasinya ke layar navigasi," sahut Lisa tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
"Eonnie, igeo," Rose menyerahkan ponselnya pada Jisoo. Dengan cekatan, Jisoo mengetikkan alamat kedai tersebut ke layar tab navigasi yang berada di samping kemudi.
Hanya butuh waktu sekitar 10 menit bagi mereka untuk sampai di kedai makan tradisional tersebut. Dari tempat sarapan ini, diperkirakan hanya memakan waktu 12 menit lagi untuk bisa memanjakan mata di bibir pantai.
"Waah, tega sekali Irene Eonnie tidak pernah mengajakku kemari. Padahal dia tahu betul kalau aku ini sangat suka makanan enak!" cerocos Rose saat pesanan hidangan hangat mereka tiba di meja.
Lisa menaikkan sebelah alisnya. "Eonnie? Bukannya Rose Eonnie itu selalu melabeli semua makanan di dunia ini sebagai makanan enak?"
"Iya, benar!" dukung Jisoo cepat. "Kemarin saja teh asam yang rasanya aneh itu cuma kau sendiri yang bilang enak!"
"Tck! Itu karena kalian saja yang tidak punya jiwa pencinta kuliner sejati!" balas Rose tidak mau kalah, merasa paling pro dalam menilai rasa makanan.
"Jja, ini air hangat untukmu," kata Jennie yang baru kembali dari konter kasir seraya meletakkan gelas di dekat Lisa.
"Waaah, daebak! Kau hanya mengambilkan minum untuk Lisa?" protes Jisoo dramatis.
"Eonnie kan tidak sedang menyetir!" tembak Jennie langsung, membuat Jisoo merengut. Sementara Rose hanya diam menikmati sodanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
FanfictionPlease Just Choose to Stay . . . . Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya. Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
