08 September 2017
Dengan terseok karena mata masih betah terpejam, pria paruh baya itu melangkah ke arah kamar mandi dengan iringan mata tajam dari sang istri.
"Kau akan telat jika kecepatan seperti siput itu kau pertahankan, TUAN LEE!!!" kesal sang istri melihat betapa malasnya suami sekaligus orang yang sangat dikagumi banyak orang itu.
Inna menghela napas membuang kesalnya, lalu beranjak merapikan tempat tidur. Setelahnya, dia berjalan ke walk-in closet menyiapkan setelan untuk suaminya tersebut.
Berlanjut membangunkan ke-4 anaknya—lebih tepatnya memeriksa—meski sebenarnya hanya satu yang masih tertidur. Sudah menjadi kebiasaan ketiga anaknya yang lain bangun lebih awal, tampil rapi dan cantik. Berbeda dengan si bungsu, anak SMA kelas 10 tersebut.
"Apakah kau nanti akan pulang malam, Jisoo-ya?" tanya Inna mengamati Jisoo yang sedang memakai lipstik di depan cermin.
"Kurasa tidak, Mom. Hari ini cukup senggang untuk pulang sesuai jam kantor," balas si sulung yang diangguki oleh Inna.
"Mommy akan menyiapkan makanan. Rosé sudah terlihat seperti peri kelaparan tadi, dan kau bisa membantu Jennie di kamar bungsu, oke?" Inna memerintah dan segera pamit setelah sebelumnya mengecup pipi sang anak. Dia tak jadi membangunkan Lisa karena tak tega dengan wajah kelaparan anak ketiganya tadi.
...
Di kamar si bungsu, perhatian Jennie malah tersita untuk memunguti jaket kulit hitam beserta celana panjang yang berserakan di lantai. Niatnya untuk membangunkan gadis SMA tersebut menjadi tertunda sejenak.
"Kau akan menjadi maid tercantik, Jennie-ya," komentar Jisoo yang melihat kegiatan Jennie sekarang.
"Lihatlah Eonnie, Lisa membuat kamarnya menjadi kandang hewan seperti ini," seru Jennie sambil menunjuk buku dan kertas yang juga berserakan di lantai kamar. Bahkan piala perlombaan math seminggu yang lalu tergeletak begitu saja di lantai bersama yang lain.
"Ck, sudahlah. Biarkan maid yang membersihkan... Lisa, hey sayang, bangunlah," Jisoo mengecupi seluruh muka si bungsu Lisa untuk membangunkannya.
Jennie menyusul Jisoo dan duduk di tepi ranjang sampingnya, melakukan hal yang sama seperti Jisoo.
"Engh..." Lisa terusik lalu meregangkan otot tubuhnya.
"Bangun atau kau terlambat nanti." Jennie menatap gemas melihat Lisa yang mengucek mata, menyesuaikan dengan cahaya dari luar.
"Kalian mencium orang yang baru bangun? Iiuuhh," Lisa berkomentar dengan nada serak, lalu beranjak pergi ke kamar mandi.
"Kenapa dia yang merasa jijik?" heran Jennie.
"Bahkan bau bayinya takkan hilang meski parfum dengan aroma mint yang ia pakai setiap hari," ucapan Jisoo disetujui oleh Jennie.
Sebelum menggeser pintu kamar mandi, Lisa berbalik dan membuka piyama di hadapan kedua kakaknya.
Jisoo dan Jennie tertegun melihat otot yang tercetak jelas pada tubuh sang adik. Yang mereka tahu, si bungsu termasuk jajaran anak yang malas berolahraga berat. Ketiga kakaknya selalu mencontohkan yoga atau olahraga peregangan, begitupun dengan Mommy Inna. Lalu, bagaimana bisa bagian perut dengan garis yang membagi kotakan seperti roti sobek pada Lisa itu tercetak jelas di sana?
"Apa dia melakukan gym dengan keras?" Untuk kesekian kalinya, Jennie melontarkan pertanyaan yang entah ditujukan untuk siapa.
.
.
.
.
"Si Bungsu sudah dewasa rupanya. Kenapa aku merasakan perubahan yang begitu cepat setahun terakhir ini?" Jisoo membuka suara ketika seluruh keluarga, kecuali Lisa, sudah siap di meja makan formal.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
FanfictionPlease Just Choose to Stay . . . . Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya. Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
