26. Exposed

1.6K 131 9
                                        

10 Desember 2019


Ruang makan utama di kediaman megah keluarga Lee malam itu dibalut oleh kesunyian yang amat mencekam. Suara denting samar antara garpu, pisau, dan piring porselen buatan Eropa yang bersentuhan satu sama lain menjadi satu-satunya dentum bernada yang terdengar di ruangan beratap tinggi tersebut. 

Di ujung meja, Lee Dongwook duduk tegak dengan raut wajah yang sukar diartikan, sementara Inna—sang istri—duduk di sampingnya sambil sesekali melirik anak-anak mereka dengan pandangan penuh kecemasan yang tersembunyi.

Masing-masing dari mereka terlihat terfokus menatap hidangan makan malam bernilai tinggi yang tersaji rapi di hadapan mata. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bisa menikmati rasa gurih makanan tersebut sebagaimana mestinya. Tenggorokan mereka seolah menyempit, tercekik oleh atmosfer dingin yang memancar dari kepala keluarga.

Jisoo, sang putri sulung yang duduk di barisan kanan, mengunyah kunyahan terakhirnya dengan tenang. Setelah mengelap sudut bibirnya menggunakan serbet kain berenda, ia meletakkan serbet tersebut secara perlahan di samping piringnya. 

Jisoo beranjak bangun dari duduknya, merapikan gaun rumahannya, lalu membungkuk tipis hendak meminta izin berpamitan untuk kembali ke kamarnya terlebih dahulu demi menghindari ketegangan yang kian menebal.

"Chakkaman, Jisoo-ya. Ada hal penting yang ingin Daddy tanyakan kepadamu," tegur Dongwook. Suaranya rendah, berat, dan dipenuhi oleh artikulasi yang menuntut ketegasan tanpa penolakan.

Langkah kaki Jisoo terhenti seketika. Tanpa membantah, ia kembali menarik kursinya dan duduk perlahan. Sebelum menjawab, matanya bergerak dingin menatap satu per satu adik perempuan yang berada di meja makan. 

Ketika tatapannya berselisih dengan Rose, gadis berambut pirang itu hanya bisa mengangkat kedua bahunya sedikit, memberikan isyarat tanpa suara bahwa dirinya benar-benar tidak tahu-menahu mengenai topik berat yang akan diangkat oleh sang ayah.

"Benar kau melayangkan tuntutan hukum secara resmi kepada Pimpinan Hwang?" nada bicara Dongwook terdengar sangat dingin, seolah menahan letupan amarah yang siap pecah kapan saja. 

Sebagai pemimpin perusahaan besar, Dongwook merasa ditikung karena ia tidak mengetahui secara pasti apa sebenarnya rencana yang sedang disusun oleh putri tertuanya tersebut di luar sepengetahuannya.

Jisoo tidak segera menjawab. Ia menundukkan kepalanya sejenak, mengamati jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan, lalu mengangguk perlahan tanpa mau menoleh secara langsung ke arah mata sang ayah.

Melihat ketegangan yang mulai merayap naik, Inna dengan lembut mengelus lengan suaminya. Jarinya jemarinya yang lentik mencoba menyalurkan ketenangan, sebab ia bisa merasakan betapa kerasnya otot lengan Dongwook yang menegang akibat menahan amarah terhadap Jisoo. 

Dongwook menarik napas dalam-dalam. Ia tahu betul, sejak skandal penggelapan dana besar-besaran yang mengguncang perusahaannya beberapa bulan lalu berhasil diatasi, arus keuangan dan operasional bisnisnya berjalan sangat lancar tanpa menemui kendala berarti. 

Bahkan seluruh anggota keluarga yang tinggal di rumah ini terlihat sehat, aman, dan berada dalam kondisi yang sangat baik di matanya saat ini. Lantas, mengapa Jisoo harus mengusik Pimpinan Hwang kembali?

"Bisa Daddy mengetahui alasannya yang masuk akal, Jisoo-ya?" tanya Dongwook lagi, mencoba menekan intonasi suaranya agar tetap terkontrol.

Jisoo akhirnya mengalihkan pandangannya. Matanya menghunjam tepat ke arah mata Dongwook selama beberapa detik penuh ketegangan, sebelum akhirnya ia memindahkan tatapan matanya menuju sang Mommy dengan guratan rasa iba yang mendalam.

STAYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang