02. The Beginning

3.8K 297 9
                                        

10 September 2017

Sosok gadis tinggi menjulang berdiri menyendiri di balkon lantai dua mansion keluarga Lee. Angin petang Kota Seoul berembus cukup dingin, membelai lembut helai rambutnya yang berterbangan. 

Dari ketinggian ini, ia menikmati pemandangan gurat jingga di langit barat dan keheningan sekelilingnya—memanfaatkan sisa waktu santai yang makin menipis sebelum seminggu kemudian ia harus benar-benar berjuang keras mempertaruhkan segalanya demi meraih mimpi besarnya. 

Ia amat bersyukur sang ayah, Lee Dongwook, memiliki mansion yang terletak cukup jauh dari pusat keramaian dan kebisingan kota, memberikan ruang privasi yang menenangkan.

"Aahh... tubuhku benar-benar butuh istirahat ekstra," gumam gadis itu pelan sembari memijat leher dan bahunya yang terasa kaku akibat latihan dance yang tiada henti.

Dari bibirnya, terkepul asap putih tebal beraroma buah manis yang membumbung ke udara—hasil dari vape (rokok elektrik) yang tersembunyi di genggaman jemarinya. Itu adalah satu-satunya pelarian rahasianya saat tekanan dan rasa lelah menumpuk di pundak.

Greb.

Tiba-tiba saja sepasang lengan terulur dari belakang dan melingkar erat di sekitar perut Lisa.

Sontak Lisa tersentak hebat. Dengan refleks secepat kilat, ia menyelipkan pod vape ke dalam saku celana training-nya sebelum asap sempat terlihat. 

Di saat yang sama, dadanya berdenyut perih—jantungnya berdetak liar bukan hanya karena terkejut, melainkan juga rasa sakit misterius yang makin sering menyiksanya. Beruntung, sosok di belakangnya tak menyadari kepulan asap maupun gejolak perih yang tengah ia tahan.

"Eonnie sangat merindukanmu, Lisa-ya," gumam Rosé manja. Ia menyandarkan dagunya dengan sangat nyaman di bahu lebar sang adik, mengabaikan fakta bahwa Lisa sedikit menegang.

"Setiap hari kita bertemu di rumah ini, Eonnie," balas Lisa terkekeh pelan. Ia berusaha menetralkan napasnya lalu mengelus lembut jemari Rosé yang melingkari perutnya.

"Pertemuan yang mana? Pertemuan canggung yang bahkan tidak sampai sepuluh menit di pagi hari saat kita terburu-buru sarapan itu?" protes Rosé dengan nada merajuk.

"Bukankah itu sudah cukup? Dari pada tidak bertemu sama sekali di tengah kesibukan kita masing-masing," sahut Lisa logis.

"Tapi tetap saja Eonnie sangat merindukanmu... Menurutmu, apa nanti ketika kau sudah masuk program karantina dan berhasil debut, kita akan semakin sulit bertemu, Lisa-ya?" Rosé menanyakan kondisi masa depan dengan nada cemas. 

Rasa takut merayapi hatinya saat membayangkan adik bungsunya tak lagi hanya milik keluarga Lee, melainkan milik masyarakat luas.

"Mungkin saja, Eonnie. Jadwal seorang idol kan sangat padat," jawab Lisa seadanya, berusaha realistis.

Mendengar jawaban jujur itu, Rosé justru semakin mempererat pelukannya dari belakang, seolah takut Lisa akan menghilang detik itu juga. 

Lisa terhenyak sebentar, lalu pelan-pelan membalikkan badannya. Ia merengkuh tubuh Rosé ke dalam dekapan hangatnya, menepuk-nepuk pelan punggung sang kakak yang mendadak emosional.

...

...

...

"Aaa! Kkamjjakya!" Jisoo berteriak kaget, hampir saja menjatuhkan gelas yang ia pegang ketika melihat sesosok kepala tiba-tiba muncul dari balik meja bar dapur yang gelap.

"Yaaa! Kau menakutiku tahu!" Jisoo kembali berteriak pelan sembari mengelus dadanya yang berdegup kencang.

"Mianhae, Eonnie... Tadi aku tidak sengaja menjatuhkan tutup botol dan harus mengambilnya di bawah meja," ujar Jennie sembari menegakkan tubuh. 

STAYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang