18. Tour Show 1

1.8K 148 2
                                        

21 Juli 2018 — 

Empat bulan lebih berlalu sejak melangsungkan debut resmi di atas panggung musik, kehidupan Lalisa dan anggota SevG lainnya berubah secara drastis. Gelombang popularitas yang membumbung tinggi membuat kebebasan mereka terkikis perlahan. 

Wajah-wajah mereka kini terpampang di baliho kota, layar televisi, hingga majalah mode ternama. Bahkan ketika mereka hanya mencoba mengunjungi kedai ramen kecil di pinggir jalan, kerumunan penggemar dan kilatan kamera ponsel akan menyambut mereka dalam hitungan detik.

Hari ini, SevG sedang berada di negara tetangga, lebih tepatnya di Tokyo, Jepang. Ini adalah kota tujuan kedua dalam rangkaian tur konser Asia mereka setelah membuka pertunjukan yang terbilang sangat sukses di Busan. 

Pihak agensi dan ke-tujuh anggota SevG sendiri telah berjuang habis-habisan selama berminggu-minggu demi menyiapkan konser tur ini—mulai dari memproduksi album mini terbaru, menyusun koreografi yang lebih rumit, hingga merancang panggung unit khusus yang belum pernah ditampilkan sebelumnya.

"Setelah ini, kalian semua harus langsung masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat dengan benar. Jangan ada yang mengulur waktu tidur atau bermain ponsel sampai larut malam!" tegas Manager Eonnie memberi peringatan keras saat mereka tiba di koridor lantai khusus tempat mereka menginap.

" Nde, Eonnie!" sahut Lee Kaeun dengan patuh mewakili seluruh anggota.

Sistem pembagian kamar hotel kali ini ditata secara acak oleh pihak manajemen, yang secara otomatis membuat Lisa dan Seongmin terpisah lantai.

" Kajja, Lisa-ya! Adik kesayanganmu itu sudah aman dijaga oleh  tetua grup," celetuk Im Nayeong sembari mendelik jahil ke arah Sejeong, yang usianya hanya terpaut satu tahun darinya.

" Agh, I'll miss you so much, Eonnie!" seru Seongmin penuh drama. Ia merentangkan tangan lalu memeluk Lisa dengan sangat erat, mengabaikan fakta bahwa mereka hanya terpisah beberapa kamar saja.

Anggota lain yang menyaksikan tingkah konyol Seongmin hanya menggelengkan kepala dan berjalan menjejaki lorong, meninggalkan Seongmin dan Lisa berdiri berdua di depan pintu kamar.

Saat pelukan dilepaskan, raut wajah Seongmin yang semula bercanda mendadak berubah menjadi jauh lebih serius. Ia menatap lekat-lekat pada sepasang mata Lisa.

"Tidurlah dengan baik malam ini, Eonnie. Beristirahatlah dengan benar... agar jantungmu tidak berulah lagi," bisik Seongmin lirih.

Lisa sedikit tertegun. Langkah kakinya tertahan dan dahi mulusnya mengkerut heran. "Apa yang sedang kau bicarakan, Seongmin-a?"

Seongmin mendesah pelan. "Aku sering mendengar rintihan napasmu saat malam hari di dorm. Napasmu pendek-pendek, dan kau juga makin sering mengeluhkan detak jantungmu yang terkadang berdetak tidak beraturan setelah latihan keras."

Sebenarnya Seongmin tidak ingin berspekulasi terlalu jauh tanpa tes medis yang jelas. Lagi pula, dia hanyalah seorang remaja biasa dan bukan seorang dokter. Namun, perhatiannya pada Lisa melampaui rasa takutnya untuk bersuara.

Lisa terkekeh canggung, mengibaskan tangannya mengelak. "Aku baik-baik saja. Kenapa kau membeberkan hal sepele seperti itu? Semua anggota pasti juga merasakan lelah dan napas terengah-engah setelah menari belasan jam."

Seongmin menyunggingkan senyum tipis, senyuman khasnya yang terkesan dewasa sebelum waktunya. " Ahh, geureyo? Tapi tetap saja, tubuhmu memiliki hak untuk beristirahat malam ini, Eonnie."

Seongmin membalikkan badan hendak melangkah menuju kamarnya di ujung lorong, namun pergelangan tangannya dengan cepat dicegat oleh Lisa.

"Kalau begitu, aku juga ingin memberikanmu satu nasihat penting," potong Lisa tegas, menghentikan langkah Seongmin. "Kau ingat, kan? Kau pernah menjadi trending topic dunia karena tidak kuat menahan rasa sakit di pergelangan kakimu setelah kita tampil di acara award bulan lalu? Bisakah Eonnie meminta padamu untuk mau menggunakan tongkat penyangga kaki saat berjalan, meskipun kau pikir rasa nyeri itu sepele?"

STAYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang