26. Aku Datang Lagi

157 15 0
                                        

Tatapan tajam Xilan memperhatikan dengan seksama bayangan yang keluar dari paviliun Raja Agung Arsakana. Bergerak cekatan dalam kegelapan malam, bergerak di undakan tangga dengan cepat. Sesekali tubuhnya merapat dinding, dia sangat tahu dimana lokasi keberadaan para pengawal.

Xilan menahan napas seakan takut terdengar sosok yang diikuti. Kemampuan bela diri Xilan sangat baik, Xilan yakin begitu pula dengan sosok yang diikutin. Hati Xilan membuncah membayangkan Prasmewari gembira akan laporannya. Hadiah apa yang akan diberikan wanita mulia itu, hmm Xilan menepis pikiran yang mampir sebelum dia kehilangan fokus.

Hitungan detik dia bisa melihat bagaimana sosok yang diikuti memutar tali cakram pengait di ujungnya lalu ketika tali itu sudah menempel erat di dinding pagar istana. Dia merayap sangat cepat lalu hilang dalam bayangan malam tanpa rembulan.

"Sial, cepat sekali larinya dia. Aku jangan sampai ketinggalan"

Seandainya besok ada kejadian menggemparkan di istana ini bisa dijadikan bukti lemahnya pertahanan istana. Seseorang menyusup tanpa diketahui para pengawal, hal ini bisa digunakan untuk menyingkirkan menteri Pertahanan.

Xilan menyungging senyum membayangkan ekspresi senang Prasmewari. Sudah lama dia tidak menyukai menteri Pertahanan, tentu saja Xilan harus memberi alasan tepat kenapa dia tidak berhasil menangkapnya.

Perlahan Xilan mengikuti jejak sosok bayangan tersebut, melempar tali cakram lalu memanjat secepat mungkin. Ketika di atas pagar dia bisa melihat sosok itu berlari merapat dinding agar tidak tampak dari jalanan.

Dia berlari dalam kegelapan tembok, malam gelap tanpa cahaya bulan dan bintang menyamarkan dengan baik sosok berbalut pakaian dan topeng hitam yang terus diikuti Xilan dengan penuh minat.

Siapa lagi yang bisa menguasai daerah istana dengan pengawal yang minim. Hanya orang tertentu yang bisa mengetahuinya. Istana dijaga ketat, penempatan pengawal pada beberapa titik penting sesuai kebutuhan pengamanan. Semakin tinggi status dalam istana maka makin banyak jumlah pengawal.

Di daerah istana ada daerah tertentu yang minim pengawasan seperti daerah pelayan atau dayang, area taman yang hanya digunakan pada siang hari atau daerah yang jarang dilakukan aktivitas.

Daerah minim pengawasan akan dilakukan peningkatan pengawasan pada waktu tertentu dengan jadwal acak sehingga tidak bisa terbaca untuk orang-orang yang punya niat tidak baik.

Bahkan para ketua pos pengawal mendapatkan perintah peningkatan pengawasan sejam sebelum tugas pengawasan dilakukan. Sehingga tidak mudah untuk bocor mengenai jadwal peningkatan pengawasan.

Xilan yakin target kali ini adalah orang tepat karena dia tahu danau istana saat ini minim pengawasan. Target Xilan keluar melalui pagar di sisi danau.

Kali ini pengawal kepercayaan Prasmewari ini memusatkan keseluruhan pendengaran. Dia mengandalkan suara tapak menginjak rerumputan di depan pagar istana,instingnya mengikuti langkah tersebut.

Gelap malam menyamarkan sempurna gerakan target Xilan, berlari cepat hendak menuju ke jalan perkotaan yang mulai senyap menuju tengah malam.

"Sial, Ini siapa lagi". Suara ringkikan kuda yang ditarik penunggang berhenti tepat di samping Xilan.

"Aku hampir menabrak anda tuan Xilan". Salah satu dari trio Bakuda menatap tajam Xilan.

"Beruntung Aku berpapasan dengan pengawal Yang Mulia dengan mata tajamnya. Jika seorang yang memiliki penglihatan buruk tentu bisa ditabrak nya". Tristan tersenyum dalam hati, sebuah pujian atau sindiran yang diucapkan karena tadi dia memang sengaja hampir menabrak Xilan.

"Mau kemana kau, Xilan?".

"Pulang". Xilan menjawab dingin tentu saja dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Di sisi lain Xilan mengerutu dia kehilangan jejak targetnya.

" Tanpa kuda?". Tristan berpura-pura mengernyitkan keningnya.

"Iya Aku bisa berlari sama cepat dengan kuda mu".

" Waaahh anda memang hebat tuan Xilan ". Tristan mengulum senyum, pandangannya yang memang menunduk karena diatas kuda membuat ekspresi Xilan berubah walau untuk sesaat kembali datar.

"Aku jalan dulu pengawal Yang Mulia Raja Agung". Xilan berlalu cepat dia tidak ingin membuat waktu. Tristan mengangguk sekilas lalu menarik kekang kudanya memacu tunggangan tersebut menghentak kakinya lalu berlari cepat meninggalkan debu bertebaran disekitaran Xilan.

"Sial". Xilan memaki terlebih dia telah kehilangan jejak targetnya. Tristan yang mengawasi dari jauh tertawa dalam hati. Dia bahkan menurunkan kewaspadaan pada Tristan yang menghentikan kudanya dan bersembunyi dalam kegelapan malam.

Arsakana telah menduga kejadian ini akan terjadi. Dia menugaskan salah satu trio Bakuda mengawasi dirinya.

************

Denting meletakkan botol minuman diatas meja, cangkir coklat di sampingnya. Kudapan kue kering berada dalam piring mungil berbentuk daun.

Berkali-kali dia meremas lembaran kertas yang salah, Kertas-kertas malang berakhir menjadi gumpalan berbentuk bola. Ada mendarat sempurna dalam tong sampah sedangkan yang lainnya hanya berakhir di lantai.

Gadis itu mengambil minuman, Meraih kue kering lalu kembali menulis tapi sekali lagi dia merasa rangkaian kata tersebut membentuk kalimat tidak jelas.

Aaahh apakah dia terlalu malu untuk mengajak Partha menikah?

Disisi lain dia merasa kesal, Dia memang tidak menyiapkan plan B untuk kegagalan rencana. Dia bukan wanita yang bermimpi amat tinggi sehingga bisa bersanding dengan Raja Agung penguasa negeri.

Berhasil meraih hati Partha dan keluarganya sudah membuat banyak wanita muda dengki padanya. Apalagi meraih hati penguasa negeri ini, Seorang sosok tidak terjangkau bagi Denting.

Denting meletakkan kedua tangannya di atas paha. Memejamkan mata sambil menengadah kepalanya ke atas plafond.

Untuk sesaat dia merasa ada bayangan menutup dirinya. Refleks dia membuka mata. Kedua pasang netra Denting bertubrukan dengan sepasang mata tajam dalam naungan alis tebal yang bertaut sempurna.

"Kau tidak menutup jendela lagi Sayang, jangan di ulangin lagi. Jika bukan kekasih mu yang datang maka dengan posisi duduk mu yang membelakangi jendela akan sangat berbahaya,"

Denting bergerak cepat untuk menghindari dari sosok yang tidak diharapkan tapi Arsakana sigap menahan bahunya gadis semampai ini lalu berbisik perlahan.

"Aku menyukai posisi jarak pandang sependek ini"

"Aku akan berteriak, Yang Mulia"

"Berteriak lah sampai seisi rumah mu tahu dan mereka akan berkata, Betapa kehidupan memberkahi mu Denting"

Denting mendengus lalu dengan suara pelan dia berkata.

"Maafkan hamba Yang Mulia tidak menyambut tapi bukankah posisi seperti ini tidak baik untuk dilakukan."

Arsakana mengendorkan pegangannya. Dia berjalan cepat ke jendela lalu menutupnya.

"Apakah baik apa yang dilakukan Paduka Raja Agung Arsakana? Ini kamar seorang gadis."

"Apakah baik yang dilakukan kekasih ku mengirim surat memohon menikah dengan laki-laki lain? tanya Arsakana menuntut lalu dia berkata dengan nada tegas.

"Aku datang lagi calon ratu masa depan"

Wanita Sang RajaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang