28.Kembali pada ku

135 14 0
                                        

Gelap, hampa, tangan-tangan itu. Mereka yang mengerumuni. Tidak!! Aku tak boleh berakhir di sini! Aku harus bangkit, bangun.

Heehh ... haaaa ... haaaa

Denting memaksa diri membuka mata, ia meraup udara dengan rakus, tersengal menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Detik kemudian ia mengaduh karena nyeri yang menyerang tubuhnya.

"Dia, sudah bangun." Derap langkah yang semakin menjauh, seorang pelayan muda mendekat meraih tangan Denting. Membasahi kain, mengelap, lalu mengeringkan. Denting menarik tubuhnya menjauh dari pelayan.

"Laporkan ke Yang Mulia dan panggil tabib!" perintah yang lainnya.

Di mana ini?

Kamar luas dengan kemewahan yang tak pernah di lihatnya, pelapis tempat tidur dari bahan sutra halus. Meja, kursi, tempat penyimpanan, mangkok, gelas, semua tampak dari bahan dan tangan trampil menandakan kualitas terbaik

Denting menyapu ruangan, mengagumi setiap barang yang tak pernah dilihatnya. Matanya berakhir pada lambang kerajaan ... Kerajaan Arsakana. Aku kembali ke sini, lagi.

"Akhirnya kamu sudah bangun." Arsakana mendekat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis. Seorang tabib wanita mengikuti langkah Arsakana.

Tabib menunduk memeriksa pergelangan Denting, ia tak berani menatap mata gadis itu. Ia membalik perlahan tubuh Denting, membuat Arsakana membuang pandangannya.

"Kondisi semakin membaik Yang Mulia," ucap tabib sambil mundur teratur keluar dari ruangan.

Helaan kasar napas Denting menandakan kekesalan gadis itu. Ia tak menyangka, ketika sedikit lagi tiba di balik gunung menemui sahabatnya. Harus kembali di Kerajaan Arsakana.

"Mengapa kamu membawa ku ke sini?" tanya Denting, ketidaksukaan di tunjukkan secara terang. Melupakan dia berhadapan dengan siapa.

Arsakana mengibaskan tangan ke pengawal dan pelayan. Menyuruh mereka meninggalkan ia dan Denting.

Arsakana duduk di pinggiran ranjang. Menatap lekat manik mata Denting.

"Kamu ingin berakhir dengan para pemberontak?"

"Tidak!" Denting menggeleng kepala gusar. Arsakana terlalu dekat dengan dirinya.

"Kegilaan yang kamu lakukan, membawa tiga Bakuda berhasil menangkap kepala pemberontak. Ada gunanya juga usaha melarikan dirimu."

"Apa? Trio Bakuda mengikuti ku?" Mata Denting membuat, ia sama sekali tak menyangka. Ketiga mengawalnya dalam pelarian. Rasa kesal mulai memenuhi rongga hati. Ia mengepal tangan menahan emosi tak berdaya

Aku tak akan pernah bisa lari dari takdir yang telah ditentukan.

"Aku penasaran mau kemana kamu pergi? Sayang pemberontak itu membelokkan jalan pilihan yang kamu ambil. Seharusnya aku tahu kamu akan melarikan diri kemana?"

"Aku hanya berjalan-jalan, Yang Mulia."

Arsakana meraih dagu Denting, membuat ia terpaksa menatap mata hitam pekat Arsanaka.

"Tak ada yang berjalan-jalan ke hutan belantara, Denting. Kamu mau kemana?"

"Yang Mulia, dua manusia yang terlahir berbeda tanpa ikatan. Tidak sebaiknya berada dalam satu kamar." Denting memberi salam hormat, ia memundurkan tubuh memberi jarak.

"Kamu benar. Mulai hari ini kamu akan berada di sini, sampai ikatan resmi kita di umumkan."

"Apa?"

"Aku sudah sampaikan kepada kedua orangtua mu, pilihan raja telah dijatuhkan pada putri mereka. Demi keamanan dan pergolakan situasi yang timbul, maka keberadaan mu akan di sembunyikan."

"Tapi, Yang Mulia." Denting menggeleng tak percaya. Ia menentukan takdirnya sendiri, menyiapkan masa depan bersama Partha. Mengatur agar pria itu jatuh dalam pelukan. Sekarang ia berada dalam pengaturan orang lain. Ini bukan sesuatu yang di rencanakan olehnya.

"Orangtuamu menyetujui keputusan ini, Denting."

Tentu saja, siapa yang berani menolak keputusan seorang Raja.

Denting menarik napas. Manik matanya bergerak, kening berkerut. Ia memusatkan pemikiran.

"Yang Mulia, saya tidak berharga untuk sebuah pergolakan. Naningga Putri Harsa terlalu bernilai, jika harus bertukar kedudukan dengan hamba."

"Hidup ku sudah diatur, bahkan saat belum keluar dari kandungan. Aku sudah cukup berkuasa untuk sebuah pengaturan."

"Kemuliaan kerajaan mu tak sebanding dengan satu perempuan, Yang Mulia pilih. Hamba, tak mau menjadi bagian dari sebuah kehancuran."

Arsakana berbisik di telinga Denting. "Bukan karena mu saja, Denting. Kemuliaan kerajaan ini ada di tangan ku."

Wangi lembut menyentuh indra penciuman Denting. Ia memberanikan diri menatap Arsakana.

"Harga yang di bayar terlalu mahal."

"Benar, karena mahal membuat aku tak sabar mengambilnya."

Raja tampan itu berdiri, tersenyum tipis. Ia melangkah penuh karisma. Meninggalkan Denting sendirian di kamar.

Tentu saja bukan karena ia memilih Denting, tapi perubahan permaisuri pilihan tepat saat ini. Terlalu banyak posisi stategis ditempatkan tuan Harsa. Arsakana harus memulai merubahnya.

Kehidupan Raja memang tak pernah mudah, tapi kali ini begitu berhasrat melakukannya.

Wanita Sang RajaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang