Till the battle's won
Till kingdom come
Oooh, oooh, oooh
I'll never run
Egzod - Royalty
****
Gyan berdiri di bawah bayang-bayang pohon beringin tua yang terletak tidak jauh dari gerbang utama kastil, tempat Denting berada. Malam begitu tenang, hanya angin lembut yang berbisik melalui dedaunan. Ia telah menyusun rencana matang untuk menyusup ke dalam kastil kerajaan Bumantara.
Kesalahan tidak punya tempat dalam rencana kita. Diam, rahasia dan mematikan. Kedudukanku dipertaruhkan di sini, Gyan.
Reputasiku tak tercela, Tuan Harsa.
Peringatan Tuan Harsa, bak dengung pengulangan kata-kata dari pengguna jasanya. Manusia licik yang membutuhkan informasi untuk menjatuhkan musuhnya, para istri yang menaruh dendam terhadap gundik kesayangan suami, seorang gadis patah hati yang menginginkan kehancuran pria yang mencampakkannya.
Niat baik atau buruk mereka, bukan urusan Gyan.
Dengan gerakan lincah, Gyan meraih kantong kecil di sabuknya, mengeluarkan beberapa alat kecil yang biasa ia gunakan. Kunci palsu, kawat tipis, dan bubuk penenang. Semuanya siap sedia. Ia memasang tudung jubahnya, menyembunyikan wajah dalam bayangan. Gesit tanpa suara, ia bergerak ke area samping kastil, menuju pintu kecil yang jarang digunakan. Harsa telah memberitahu akses menuju pekarangan kastil.
Seperti informasi dari sumber terpercaya, pintu kastil dijaga oleh dua prajurit. Gyan mengendap mendekat dan bersembunyi dalam bayang pohon cemara berbentuk ujung tombak. Menunggu hingga salah satu dari mereka beranjak pergi, meninggalkan celah yang cukup baginya untuk bertindak. Ia mengeluarkan jarum yang telah dicelupkan ke dalam bubuk penenang, dan dengan satu gerakan cepat, menusukkan jarum itu ke leher prajurit yang tersisa.
Prajurit itu ambruk tanpa suara.
Dengan hati-hati, Gyan memutar kunci palsu di gembok pintu. Klik, pintu terbuka. Ia melangkah masuk, memastikan pintu tertutup kembali tanpa suara. Lorong gelap dan sepi menantinya di dalam. Ia bergerak cepat tapi tenang, menghindari area yang diketahui sebagai jalur patroli.
Malam itu kastil tampak sunyi. Para pelayan sudah tertidur dan hanya beberapa prajurit yang berpatroli. Gyan terus melangkah dengan langkah ringan, hampir seperti bayangan yang menyusup di antara cahaya obor yang redup. Ia mengingat peta istana yang pernah ia lihat, membimbing langkahnya menuju sayap kastil di mana Denting diyakini berada.
Tiba di dekat kamar Denting, Gyan mendengar suara langkah kaki. Ia segera bersembunyi di balik pilar besar. Dua penjaga berjalan melewatinya, berbicara pelan tentang tugas mereka. Setelah mereka berlalu, Gyan kembali bergerak. Ia mencapai pintu kamar Denting dan memeriksa kunci. Bertahun-tahun ia berlatih dan memahami cara kerja ratusan jenis kunci, menjadikan bukan perkara sulit baginya membuka pintu. Ia mendorong perlahan, memastikan tidak ada suara yang mengganggu.
Di dalam kamar yang remang, Denting tertidur lelap di ranjang megah. Gyan perlahan melangkah masuk, mata tajamnya mengamati sekeliling kamar. Denting terlihat damai, tampaknya berkuda bersama Arsakana menguras energinya, atau karena ciuman raja di pinggir danau yang membius dalam gelap.
Penguasa kerajaan Bumantara telah mabuk cinta.
Pelan, tapi pasti, langkah Gyan mendekat, memastikan tidak ada orang lain di kamar . Ia mencari petunjuk atau surat yang mungkin memberikan informasi tentang hubungan Denting dengan Raja Arsakana. Sepasang mata jeli menyipit ke arah meja di sebelah ranjang, mendapati beberapa surat tersusun rapi. Dengan cepat ia membacanya, mencoba memahami isi dan menelisik memastikan bisa atau tidak menjadi bukti akurat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wanita Sang Raja
RomanceDenting, wanita bangsawan menengah yang telah mendapatkan cinta pertamanya, 'Partha'. Pria tampan kepercayaan Raja Muda Agung, tetapi tanpa di duga Raja Muda jatuh cinta pada dirinya. Sekarang dialah wanita terpilih Sang Raja Muda Agung Arsakana. Sa...
