Satu kali pertemuan, aku telah memilihmu. Apalagi jutaan kali pertemuan.
***
Satu Minggu Sebelum Panen Raya.
Suasana serius mewarnai pertemuan sebelum Panen Raya berlangsung. Pembicaraan penting di ruang kerja istana. Di awali nada tegas Arsakana kepada Trio Bakuda dan Merna. Kelimanya duduk mengelilingi meja berbentuk lingkaran. Di atasnya terdapat laporan dari masing-masing pengawal.
"Persis seperti dugaanku. Harsa berencana memanfaatkan perkenalan Denting untuk mendapatkan simpati rakyat dan menggerakkan kudeta," kata Arsakana dengan mata berkilat, bayangan Gyan yang tertangkap di gudang arsip kerajaan membias. Jebakan mereka masuk perangkap.
Tindakan Arsakana sesuai rencana. Kabar pergantian Naningga beredar di semua kalangan. Satu langkah awal untuk memancing tanggapan keluarga Harsa. Dia mendapati pancingannya berhasil sewaktu Harsa dan kedua anggota keluarga Prabawana datang ke istana.
Tingkat kewaspadaan Arsakana meningkat. Dia menitahkan Tirta mengikuti pergerakan anggota Klan Prabawana. Pertemuan Harsa dengan Gyan, membuat pergerakan mereka terbaca. Saudagar kaya itu berniat untuk mencari bukti, dan menarik Dewan Kerajaan berada di pihak mereka atas laporan kelancangan raja. Mereka butuh sekutu kuat untuk berpihak.
Arsakana mengatur taktik mengeluarkan Denting dari kastil, berkuda hanyalah sebuah dalih untuk membawa wanita pilihannya keluar dari sana. Mengantisipasi penyelundup akan masuk, diutuslah Merna untuk menyamar. Benar dugaan mereka, Gyan datang mengambil surat cinta palsu. Setelah itu, Arsakana menunggu untuk menyerang, dan teguran Dewan Kerajaan telah membuktikan prediksinya benar akan pergerakan Harsa.
Negoisasi dan laporan yang dipersiapkan tentang kelakuan klan Prabawana beralih ke tangan Caraka. Sebagai Ketua Dewan Kerajaan, dia meneliti dengan hati-hati, menyelidiki diam-diam. Secara rahasia, mereka menggelar rapat dan memutuskan mengikuti rencana raja.
Suara Treos- si sulung Bakuda mengambil alih perhatian Arsakana dari pikiran rencana yang telah berjalan separuh. "Lalu, langkah apa yang harus kami lakukan, Yang Mulia?"
Arsakana tersenyum tipis, senyum yang mengandung ancaman terselubung. "Harsa menggelar perang dingin di bawah permukaan. Gyan bertekuk lutut di bawahku, sementara Harsa belum mengetahui hal ini. Awasi mereka dan berhati-hatilah.
"Siap, Yang Mulia."
"Aku akan bicara dengan Naningga," lanjut Arsakana.
Merna memandang ragu, khawatir menyinggung Arsakana. "Dia gadis yang lembut hati dan tutur katanya. Satu-satu klan Prawabana yang aku kenal menggunakan kebajikan dan kebaikan hati hanya Naningga."
Tirta memandang Merna, menggerutu dalam hati. Dasar wanita! Hati tak digunakan dalam rencana kita. Hanya akal pikiran yang berfungsi. Kecuali perasaan cinta Yang Mulia.
Si bungsu Bakuda itu menyeringai sewaktu terbayang tatapan memuja Arsakana menatap Denting. Raja yang dingin, nyatanya bisa jatuh cinta. Ia sempat berpikir titisan mulia tersebut sudah mati rasa terhadap perempuan, menikah tak lebih karena politik dan nafsu. Sebelum kemudian tatapan raja menghunus tajam. Wajah Tirta kembali serius.
"Tepat pendapatmu, Merna, karena itulah aku tak tertarik memilih Naningga."
Merna menunduk sekilas, lantas menengadah dengan sorot mata paham. "Aku mengerti, Yang Mulia. "Naningga terlalu lemah untuk berada di istana yang indah dari luar, tapi penuh intrik di dalam.
***
Dua hari setelah Panen Raya
Rencana yang berubah sebelum Panen Raya, mengantar Arsakana berada di kediaman tua milik keluarga Bakuda di tengah hutan. Jauh dari keramaian dan terasing untuk membentuk ksatria terpilih Kerajaan Bumantara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wanita Sang Raja
RomanceDenting, wanita bangsawan menengah yang telah mendapatkan cinta pertamanya, 'Partha'. Pria tampan kepercayaan Raja Muda Agung, tetapi tanpa di duga Raja Muda jatuh cinta pada dirinya. Sekarang dialah wanita terpilih Sang Raja Muda Agung Arsakana. Sa...
