Denting menyeret langkahnya ke ruangan Arsakana. Seandainya tidak ada yang terjadi antara dirinya dan Raja Muda ini, bisa dipastikan dia akan kegirangan bertemu penguasa negeri ini, tetapi ini bukanlah keberuntungan akan ada jalan panjang yang harus dilewati. Suatu hal yang akan merembet membawa keluarganya.
Entah takdir apa yang terjadi ketika Raja Muda memilih dirinya. Sebuah keberuntungan atau malapetaka kah?. Pasangan Raja bukan sembarangan orang, bukan hal yang aneh jika pasangan seorang Raja bukan wanita yang dicintai olehnya, yang terpenting calon Permaisuri memiliki kekuasaan yang bisa diandalkan.
Justru merupakan hal luar biasa jika Raja bisa bersanding dengan wanita yang dicintai dan direstui oleh istana serta rakyat negeri ini.
Wanita terpilih harus mendapat dukungan kuat baik dari militer, ekonomi, garis keturunan bahkan kekuasaan keluarga wanita karena seorang Raja harus mendapat dukungan dari segala hal. Denting tidak memiliki itu semua hanya keajaiban yang dimiliki oleh dirinya. Seperti sebuah dongeng pengantar tidur.
Arsakana berapa kali melirik Denting, gadis itu tampak berbincang lepas dengan kepala pelayanan Bario, sesekali Denting tersenyum yang disambut dengan antusias dari Bario. Entah perbincangan macam apa yang mereka lakukan sehingga Denting begitu lepas, Arsakana menebak mereka berbincang tentang pakaian karena berkali-kali Denting menyodorkan beberapa bahan pakaian kepada Bario.
Arsakana mengabaikan pengukur dan perancang pakaian yang mencoba berbicara dengan dirinya.
"Lakukan dengan Bario karena tugas itu sudah Ku serahkan". Arsakana merapikan kembali jubah kebesarannya. Dahlia mundur menjaga jarak kembali dengan pria mulia yang begitu dingin. Ibunda Partha yang ikut berbicara dengan Bario melirik ke arah Dahlia memberi kode untuk menyelesaikan urusan dengan Arsakana.
*****************************
Arsakana kembali ke ruangan kerjanya. Bukan urusan yang harus dikerjakan olehnya mengenai pakaian kebesaran, Bario sudah mengambil alih. Tanpa peluang bersama Denting, Arsakana tidak tertarik untuk berlama-lama.
Melihat bagaimana Denting berbincang dengan Bario. Arsakana tahu gadis itu sedang bekerja, kejelian Bario untuk semua hal menyangkut simbol kerajaan sudah tidak diragukan lagi.
Arsakana menarik napas dalam-dalam. Dia belum bisa mengumumkan keinginan untuk memiliki Denting, menggantikan Denting dengan seorang calon Permaisuri sekelas Naningga bukan perkara mudah. Apa alasannya itu yang harus dipikirkan Arsakana.
Menyingkirkan Partha bukan perkara sulit mengingat pria itu masih diliputi keraguan akan hubungan yang terjalin walaupun dia mencoba berusaha untuk serius dengan Denting.
Diam-diam Arsakana memerintah Treos menyelidiki hubungan Partha dan Denting kemudian memerintah Treos menyampaikan keterlibatan Denting dalam putusnya hubungan Partha dan Kemuning.
Dengan kata lain menghancurkan hubungan Partha dan Denting dengan jalinan kasih yang masih rapuh, hanya butuh sedikit taktik maka sekejap menjadi hubungan itu buyar.
Arsakana menatap keluar jendela istana. Dia penguasa negeri ini, pemilik kerajaan Arsakana. Sudah ratusan tahun kerajaan ini berdiri tidak ada keturunan raja yang menggunakan nama kerajaan sebagai nama mereka.
Kelahiran Arsakana berbarengan dengan kemenangan Ayahandanya terhadap pemberontakan yang telah menggoroti kerajaan sekaligus peningkatan hasil bumi negeri mereka yang menambah kekayaan kerajaan maka disematlah nama Kerajaan Arsakana sebagai nama putra prasmewari.
Arsakana lahir dengan harapan besar, dia di didik sebagai calon Raja. Pendidikan akademis, bela diri, militer telah menjadi keseharian Arsakana. Tak ada pilihan selain menjalani, serius atau tidak menjalani semuanya itu tetap menjadi keharusan.
Sebagai satu-satunya putra Prasmewari, semua harapan ibundanya dipikul Arsakana. Ayahnya hanya memiliki 2 putra, Arsakana dan Bairukana dari Selir Agung Listra. Dua putri Listra bukan lah pewaris tahta.
Tidak mengherankan Prasmewari tidak menyukai Bairukana karena berpotensi menyingkirkan Arsakana. Pangeran Baru tumbuh menjadi anak yang cerdas dan cakap, seakan dia terlahir secara alami memiliki kecerdasan dan kemampuan mumpuni.
Kehidupan tanpa beban sebagai putra mahkota membuat Bairu menjalani hari dengan santai. Dia lebih sering bermain, hal yang kadang membuat iri Arsakana.
Dia tahu Bairu sering menghabiskan waktu berpesta dan menikmati pertunjukan di tempat hiburan terkenal kerajaan. Hal langkah yang tidak bisa dilakukan Arsakana dengan mudah.
Bairu juga sering berganti pasangan. Tabiat Bairu membuat dia sering dihukum selir Listra. Sepertinya ibunda Listra kewalahan mendisiplinkan putranya.
Bairu bisa menjalankan kehidupan sesuai kehendak hati sedangkan Arsakana harus bertindak sesuai aturan yang telah ditetapkan ratusan tahun lalu. Dia ditakdirkan hidup untuk menjalankan kerajaan sesuai keinginan leluhurnya.
Hari-hari Arsakana di lewati dengan menjalankan aturan demi aturan. Beberapa kali penolakan untuk menikah ketika dia menjadi pangeran mahkota menimbulkan ketegangan. Terlebih saat dirinya menjadi Raja tanpa sosok Ratu.
Semua calon yang diberikan ditolak Arsakana saat itu dia memiliki alasan penaklukan beberapa kerajaan, penumpasan pemberontakan.
Hal yang membuat dia lengah ketika Ibunda Prasmewari mencari kandidat calon sendiri. Naningga menjadi pilihan ibunya. Putri rupawan yang tidak pernah mendatangkan perasaan bahagia Arsakana ketika melihatnya. Sebuah perasaan tawar seakan kecantikan itu adalah hal biasa yang akan terlewatkan.
Sampai dia melihat Denting, seorang gadis dengan mata menyala penuh harapan. Ketegasan wajahnya menunjukkan isi hatinya yang akan mencapai apa keinginannya. Denting telah menetapkan Partha sebagai kekasihnya.
Dia telah menyingkirkan Kemuning, belahan jiwa Partha lalu dengan berani menemui seorang Raja dengan mengirimkan surat diam-diam. Denting juga secara perlahan masuk ke dalam keluarga Partha. Gadis itu mempelajari semua ketrampilan yang dibutuhkan usaha kain Ibunda Partha. Dia menempatkan dirinya sebagai seorang yang bisa diandalkan dalam keluarga kekasihnya.
Menjadi kepercayaan seorang Ibu pengawal pribadi Raja sekaligus saudagar wanita di kerajaan Arsakana, jelas membutuhkan sesuatu yang dapat diandalkan.
Denting tahu itu, dia yang tertarik mempelajari bela diri untuk mendekati Partha. Mengasah kemampuan keuangan,mempelajari bahan, kualitas, kemampuan tiap bahan kain lalu dia pun mempelajari merancang pakaian. Semua itu untuk menunjukkan dia bisa di andalkan.
Arsakana tersenyum membayangkan apa yang telah dilakukan gadis itu untuk 'mendekap' seseorang yang di cintainya. Denting perlahan memasuki kehidupan Partha, menanamkan dirinya ke dalam keluarga Ksatria dan saudagar kaya itu. Dia yang berasal dari bangsawan lebih rendah meningkatkan kualitas diri, sehingga tidak ditolak oleh keluarga kekasihnya.
Denting menggunakan kesempatan untuk masuk ke dalam jalinan kasih saat Partha terpuruk.
Denting tahu, Partha bisa goyah jika dirinya tidak dapat diandalkan sepenuhnya. Dia menggunakan semua kemampuan untuk merebutnya perhatian keluarga Partha. Sekaligus menempatkan masa depannya pada keluarga kekasihnya.
Arsakana tahu di desa semilir telah dibuka usaha kain Parasataka yang dipegang Ibunda Denting.
Tarikan senyuman di bibir Arsakana menandai pria tersebut lintasan pikiran. Seorang gadis yang bisa melakukan banyak hal, tentu akan belajar bertahan dalam istana tanpa dukungan, apalagi jika dia diberikan dukungan.
Arsakana tertawa kecil sendiri, di saat Bairu bisa bersenang-senang dan bebas memilih pasangannya. Dia harus memikirkan cara untuk menempatkan calon istrinya. Takdir memang harus dijalankan bukan dihindari tapi bukan bearti tidak dinikmati.
Mengapa tidak memandang kesulitan sebagai tantangan?.. Bukan kah lebih menarik bagi seorang penakluk seperti dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wanita Sang Raja
DragosteDenting, wanita bangsawan menengah yang telah mendapatkan cinta pertamanya, 'Partha'. Pria tampan kepercayaan Raja Muda Agung, tetapi tanpa di duga Raja Muda jatuh cinta pada dirinya. Sekarang dialah wanita terpilih Sang Raja Muda Agung Arsakana. Sa...
