48. Pertemuan dengan Kemuning

202 8 7
                                        



Naningga dan Kemuning duduk berdampingan di kursi panjang taman belakang kediaman keluarga Harsa. Tempat yang terasa sunyi karena tidak ada siapapun yang boleh mendekat. Pembicaraan mereka yang intim dan rahasia memerlukan kesenyapan tanpa suara.

Kemuning memulai pembicaraan dengan wajah muram. "Naningga, aku telah mengetahui kebenaran hubungan Raja Muda Arsakana dan Denting. Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini."

Sebagai putri Pimpinan Wilayah, Kemuning telah mengetahui kabar yang secara resmi belum diumumkan Dewan Kerajaan. Perkara tersebut tinggal menunggu waktu, ayahnya telah mengatakan pihak istana mengantisipasi kemungkinan buruk yang terjadi saat pengumuman dilakukan. Sebagai sahabat, tentu saja Kemuning merasa prihatin atas nasib Naningga. Ia bisa merasakan kemarahan yang sama dengan dirinya saat tahu campur tangan Denting di hubungannya dan Partha. Tak pernah terbersit dalam pikiran Kemuning, ia dan Naningga akan berurusan dengan gadis yang sama.

Naningga meneguk perlahan teh dalam gelas, sementara pandangannya mengarah kosong ke arah barisan bugenvil. "Kata hancur bahkan tidak cukup mengambarkan perasaanku saat ini. Kekasihku memilih gadis lain dan mencampakkanku. Mimpi buruk baru saja dibangun oleh mereka."

Kemuning menumpukan tangannya sekilas di lengan Naningga yang terbuka, walaupun ia heran pilihan gaun lengan pendek milik sahabatnya. Ia  memilih tidak membahas hal yang kurang penting itu. "Aku tahu, Naningga. Partha juga meninggalkanku karena Denting, sepertinya dia memang terlahir untuk menghancurkan orang lain. Setiap mengingatnya, rasa sakit di hatiku muncul! Denting datang di saat Partha sedang memperjuangkan hubungan kami. Dia sangat jahat."

"Denting memang jahat dan terlahir untuk menghancur kehidupan orang lain. Kita tidak bisa membiarkannya menang."

"Sabarlah, Naningga. Biarlah karma berlaku untuk dia. Gadis itu bangsawan kelas tiga, strata rendah. Yah, sedikit lebih baik dari rakyat biasa, tetapi mana bisa disandingkan dengan kita. Orang seperti itu menyimpan kedengkian, buktinya saja dia menghasut ayahandaku hingga memaksa putus dengan Partha."

Naningga tertawa sekilas. "Dia bisa merayu Partha dan sekarang Arsakana. Mengapa jalang seperti itu bisa melakukannya dengan mudah?"

Nyaris saja Kemuning tersedak oleh teh yang baru saja diteguknya, lekas tangannya meraih sapu tangan sutra, mengelap dengan membuang pandangan ke arah bugenvil. Tatapan Naningga dan kata-katanya barusan membuat Kemuning terhenyak. 'Jalang', Naningga bilang 'Jalang'. Gundik Harsa manakah yang meracuni gadis di sebelahnya dengan kata kasar.

Kemuning memang  menerima surat dari Naningga dengan kata 'setan, menghancurkan'. Walaupun heran, dia masih berpikir ulah Arora yang menambahkan untuk menunjukkan kemarahan nona muda. Namun, kali ini Kemuning percaya kalau Naningga sendiri yang menyebut kalimat kasar itu.

Tak peduli keterkejutan di sorot mata Kemuning, Naningga meraih tangannya. "Kita harus bersatu, Naningga. Kita harus mencari cara untuk menghancurkan Denting. Dia tak pantas mendapatkan kebahagiaan sementara kita menderita. Kerajaan Bumantara tak layak memilki permaisuri seperti gadis licik dan jahat itu."

"Caranya?" tanya Kemuning, tangannya meremas sapu tangan. Sorot kebencian Naningga menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Dia memang tidak menyukai Denting, tetapi hanya sebatas itu. 

"Partha adalah kuncinya. Kamu harus mengatur pertemuan di antara mereka."

"Parthaku?" Telunjuk Kemuning mengarah ke dada, menyatakan keberatan atas ide Naningga. Dia tak mau melibatkan pria yang masih dicintainya.

"Ada Partha lain?" Naningga menggengam lebih kuat tangan Kemuning." Ayahmu sekarang menjadi pimpinan wilayah, kudengar dia bekerja dengan baik."

Kemuning mengangguk ragu, merasakan sesuatu yang tak nyaman pada genggaman kuat Naningga yang mulai menimbulkan nyeri. Sama halnya dengan cara gadis itu bicara. "Terimakasih, Naningga. Ayahku memang bekerja keras untuk membuktikan ia layak menjadi pimpinan wilayah."

"Hmm, bekerja keras." Naningga menaikkan alisnya. "Bagaimana dengan sogokan kepada keluarga kami dulu agar bahan makanan berkualitas rendah dari kerajaan kecil kalian bisa dipasok ke dapur kerajaan?"

Kemuning menelan ludah dengan suara tersendat, ditarik tangannya dari genggaman Naningga. "Kamu bicara apa, Naningga. Ayahku tidak pernah melakukannya."

"Dulu, dulu sekali. Raja Teratai alias ayahmu pernah melakukannya. Kamu mau aku tunjukkan bukti sekarang atau sekalian saja aku tunjukkan kepada Raja Kita, Arsakana." Naningga berkata dengan bibir tersenyum manis. "Arsakana benci terhadap ketidakjujuran, terutama yang merugikan dan berbahaya."

Naningga memang telah menyiapkan tadi malam sewaktu mengatur pertemuan dengan Kemuning. Seperti yang ia yakini saat ini. Dia punya kekuatan, kekuasaan dan pengaruh sebagai putri Harsa untuk mendapatkan apa yang ia mau. Mengatasnamakan Harsa, Kepala pengamanan dengan sigap dan terburu-buru memerintah pekerjanya untuk mencarikan bukti keterlibatan ayah Kemuning. Naningga memang pernah mendengar masalah itu dulu, dan memilih untuk mengabaikan demi menjaga perasaan Kemuning. Namun, sekarang ia menggunakan untuk membuat sahabatnya tunduk.

Ekspresi Kemuning berubah memucat. Ayahnya dulu memang terobsesi untuk menjadi Raja atau pimpinan wilayah yang kaya. Tak menutup kemungkinan demi untung besar, ia melakukan sebelum diangkat menjadi pimpinan wilayah oleh Arsakana.

"Ah, Kemuning sayang. Kamu hanya ikuti saja pintaku dan semua akan menjadi mudah." Senyum di bibir Naningga lenyap melihat Kemuning bergeming.

"Tapi, Naningga."

"Lakukan dan kerjakan! Aku tidak memberimu pilihan melainkan perintah." Naningga meremas tangan Kemuning dengan kuat, matanya menyorot tajam ke bibir gemetar sahabatnya yang gagal mengeluarkan suara.

Kemuning keluar dari kediaman Harsa dengan pikiran kalut. Tubuhnya terasa melayang memasuki kereta yang membawanya pergi dari kediaman Harsa. Diremas tas kain dengan gemetar. Ada surat yang ditujukan untuk Partha dan sebotol kecil cairan berwarna kuning kental.

Naningga tidak menjelaskan rinci tentang isi surat dan botol minuman itu. Di bawah ancaman bukti keterlibatan ayahnya dalam praktik kotor memasukkan bahan berkualitas rendah ke istana berapa tahun lalu, sulit bagi Kemuning untuk menolak. Jika, Naningga bersuara maka kejadian berapa tahun lalu sewaktu para pelayan keracunan berat akan terkuak.

Memang sejak kejadian keracunan menurut Naningga, ayahnya tak berani lagi memasok bahan makanan kualitas rendah yang disajikan sebagai jatah untuk para pelayan. Berkat campur tangan klan Prabawana juga, penyelidikan terhenti. Namun, Naningga mengatakan tidak menutup kemungkinan kasus tersebut akan dibuka. 

Hal yang menakutkan Kemuning karena pernyataan sahabatnya lebih mirip sebagai ancaman.Dia menutup jendela kereta dan merapatkan diri pada sandaran kursi, seakan ada yang mengintainya serta mengetahui rencana yang disuruh Naningga. 

Saat ini pikiran Kemuning bercabang-cabang. Ia bahkan belum menemukan cara untuk menyampaikan dua gulungan surat untuk Partha dan Denting. Entah bagaimana caranya menebus pertahanan wanita Arsakana. Sungguh terasa gila untuknya.

Suara derap kereta mewarnai pikiran Kemuning, tak banyak waktu diberikan oleh Naningga. Dan, dia benar-benar cemas atas segala pikiran buruk yang muncul cepat bagai jamur beracun di musim hujan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 21, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Wanita Sang RajaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang