47. Hati yang mati

74 5 0
                                        


 "Kamu tahu yang harus dilakukan, kerjakan sekarang!" Naningga menyibak bagian bawah gaunnya menghindar kaki Ramona yang terbaring di lantai dengan sudut bibir masih menyisakan darah.

Empat pelayan yang datang tergopoh usai Harsa keluar ruangan saling pandang. Belum pernah mereka melihat ekspresi tanpa perasaan dari Naningga yang selama ini dikenal begitu dekat dengan Ramona. Menyadari tidak ada pergerakan dari pelayannya, Naningga mendekat ke arah salah satu dari mereka. Tangannya terayun memukul kemudian menjambak rambut seorang pelayan yang refleks menjerit, ditarik hingga tubuh gadis malang itu tertunduk ke arah Ramona.

"Panggil tabib, bawa dia keluar dari sini. Kalian paham?" Suara Naningga teratur, tenang. Namun, sungguh menakutkan. Berdiri sambil tetap menjambak rambut pelayan yang setengah tubuhnya terarah ke Ramona.

Gagap salah seorang dari mereka menjawab. "Baik, Nona." Dia segera mengangkat gaunnya setinggi mungkin agar bisa berlari cepat. Pemandangan yang dilihat barusan membuatnya bergidik.

Dua pelayan segera mendekat ke arah Ramona, mengelap sudut bibirnya. Mereka tidak berani menengadah memandang Naningga, tangan keduanya gemetar mendengar rintihan tertahan pelayan yang dicengkram rambutnya dengan kuat oleh Naningga. Sekian menit kemudian, kepala pelayan masuk bersama tabib.

Mausa, kepala pelayan terhenti langkahnya di depan pintu, terperangah melihat pemandangan di ruangan. Tabib bahkan nyaris melepaskan semua peralatan pengobatan di tangan. Keduanya baru ingat untuk melangkah sewaktu Naningga dengan kasar melepaskan tubuh si pelayan yang segera ditahan temannya, agar tidak menimpa Ramona yang sedang terbaring. 

"Urus mereka, Mausa! Aku tak punya waktu." Naningga menepuk kedua tangannya bagai baru saja melakukan hal menjijikkan. Dia melangkah anggun keluar ruangan, tersenyum manis yang terlihat mengerikan bagi si kepala pelayan dan tabib.

Bertahun-tahun mereka selalu menganggap Naningga adalah penenang bagi pekerja di kediaman Harsa. Cantik, lembut dengan keanggunan alami. Sekarang berubah sekejap, ia bagai Harsa dalam bentuk yang berbeda.

Ruangan yang ditinggalkan Naningga laksana kuburan malam hari, semua bekerja dalam senyap. Senandung merdu Naningga sepanjang selasar kediaman menjadi satu-satu suara yang membangkitkan bulu kuduk yang mendengar.

Mengapa harus menjadi baik? 

Jika, tidak menyenangkan.

Terpenjara oleh ketakutan atas prasangka

Sekarang aku bebas

Bebas, bebas, bebas. 

Langkah Naningga terayun ringan, tubuhnya berputar dengan lompatan kecil, tangannya menari-nari dengan tempo cepat, lambat lalu bergerak kian lincah. Sewaktu berhenti di depan seorang pengawal yang memandang lurus ke taman. Napasnya terengah menoleh, ia harus menengadah karena tubuh mungilnya sebatas dada sang pengawal.

"Apakah aku cantik?"

Si pengawal terkerjap, tangannya memegang tombak panjang dengan kuat. Ia tak berani menjawab pada pertanyaan mendayu.

"Aku jelek?" tanya Naningga lebih berupa bentakan. "Kenapa kamu diam?"

Selasar panjang itu terdiri dari tiang-tiang tinggi. Ada satu pintu tinggi besar dan melengkung yang menjadi akses keluar masuk, di sisi pintu itulah sang pengawal yang kebingungan oleh ulah Naningga berdiri sigap. Di satu sisi lagi, pengawal lain tidak berani menoleh, tetapi saat Naningga berdiri di hadapannya. Ia segera memberi hormat.

"Cambuk dia 100x."

Si pengawal memandang Naningga tak percaya.

"Kamu tuli?"

Wanita Sang RajaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang