Dengarkan Aurora-Runaway. Sumpah cucok banget untuk baca bab ini.
*****
Semua perasaan menyerbu dalam diri Denting, tubuhnya merapat ke dinding kastil berharap bisa menyatu dan menghilang. Ia tidak berpikir pertemuan ini justru terjadi. Lehernya menegang sewaktu derap langkah terdengar kian mendekati pintu. Matanya membesar saat sosok yang dirindukan memasuki ruangan.
Sekian detik mereka saling tatap, sebelum kemudian pandangan Partha berpaling tertuju ke lantai, tubuhnya sedikit membungkuk dan memberi salam hormat.
"Aku datang menghadap, Yang Mulia."
"Lihat aku, Partha, pengawal kepercayaanku," titah Arsakana yang ditanggapi patuh oleh Partha tanpa sedikitpun memandang ke Denting.
"Siap, Yang Mulia."
Pengawal, dia memang bukan Pemimpin Wilayah Utara lagi. Denting membatin, Arsakana memang telah mengatur penempatan Partha kembali ke kerajaan, hanya saja kali ini dalam situasi yang sangat berbeda bagi keduanya.
"Aku dan calon permaisuriku sudah menanti kehadiranmu, Partha." Arsakana meraih dan mengenggam tangan Denting, ia membiarkan ketika gadis itu menepis. "Seperti yang kamu lihat, calonku masih merajuk. Ada keraguan dalam dirinya tentang hubungan kalian."
Denting menahan eraman yang nyaris melesak keluar mendengar setiap kata Arsakana. Ia melengos sewaktu tangan Arsakana hendak membelai pipi, dan terpaku ketika bersirobok pandang dengan Partha.
Sepasang mata itu tampak terluka, marah dan kecewa. Akal Denting mungkin sudah hilang ketika maju untuk mendekat, ia ingin memeluk melepaskan rindu yang membebani dan mengiba maaf.
Partha membaca gerakan Denting, perlahan ia melangkah mundur, memberi salam hormat. "Maaf, Yang Mulia."
'Yang Mulia'. Artinya Partha mengakui kalau ia adalah permaisuri sekaligus calon ratu pilihan Arsakana. Panggilan yang menghentikan langkah Denting, melemparkan dirinya kepada jarak yang sekarang begitu jauh di antara mereka.
Dia bukan lagi Denting, sahabat masa kecil Partha, gadis yang dikenal dengan baik oleh keluarga pria yang sekarang tertunduk, larangan untuk memandang wajahnya mulai dilakukan oleh Partha. Sekarang dia tak bisa lagi merayu Partha untuk mengatakan cinta.
Mereka sudah berbeda, jalinan kasih yang diperjuangkan Denting tinggal kenangan, rasa rindu yang berat tak akan berbalas, cintanya telah hilang. Dipejamkan kelopak mata menenangkan denyutan yang mengalirkan rasa sakit dari dada ke seluruh tubuh, menyalurkan rangkaian memori di antara mereka.
"Apakah kau mencintaiku?"
"Kenapa kau tanyakan?"
"Kau tidak pernah mengatakan jika aku tidak bertanya?"
"Bukan kah sudah pernah kukatakan?"
"Tapi, aku selalu ingin mendengarkannya."
"Sikapku sudah menunjukkan apa yang kau minta bukan."
"Ya, tapi jiwaku selalu haus akan kata penuh kasih darimu."
"Aku sudah pernah mengatakannya, Denting. Kau bisa memegang kata itu. Bukankah kekasihmu seorang ksatria? Ksatria tak pernah ingkar."
Remuk perasaan Denting, tak peduli di belakangnya berdiri ada Arsakana. Ia mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada Partha. Kata-katanya terbata, sepasang mata berkaca-kaca, kakinya terus mendekat ke arah Partha.
"Bukankah kekasihku seorang ksatria? ksatria tak pernah ingkar." Denting mengulang kalimat yang pernah disampaikan Partha. Mengabaikan sewaktu-waktu pedang Arsakana yang berdiri di belakangnya berhak menebas lehernya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wanita Sang Raja
RomansaDenting, wanita bangsawan menengah yang telah mendapatkan cinta pertamanya, 'Partha'. Pria tampan kepercayaan Raja Muda Agung, tetapi tanpa di duga Raja Muda jatuh cinta pada dirinya. Sekarang dialah wanita terpilih Sang Raja Muda Agung Arsakana. Sa...
