Dalam ruangan berwarna biru muda, di sisi kanan ruangan terdapat jendela besar yang memberikan pemandangan ke arah laut lepas. Hembusan angin lembut memasuki ruangan membelai wajah tampan sosok di balik meja lebar yang kokoh. Duduk bersandar di kursi megah dibelakang meja menghadap pintu besar yang akan memberitahu siapa saja yang datang ke ruangan.
Matanya tajam dengan naungan alis indah. Garis rahang sempurna menambah karisma menawan pimpinan wilayah utara. Partha menatap tumpukan dokumen di atas meja, laporan, hasil kerja semua yang terjadi di wilayahnya berada di atas meja ini.Semua hal di wilayah ini akan diketahui Partha segera setelah membuka lembar demi lembar.
Membaca isi, mengamati, memahami lalu otaknya berpikir mencerna semua laporan tertulis. Apakah mereka akan membohongi atau itu kejujuran. Semua mencurigakan akan masuk dalam penyelidikan dan yang tidak bermasalah berada dalam persetujuan Partha.
Melelahkan batin pimpinan muda, dia tidak pernah menempuh pendidikan kenegaraan. Dirinya bukan seorang sarjana tapi Ksatria, dia membutuhkan seorang cakap untuk membantu mengurus keperluan ini. Sampai detik ini dia belum menemukan orang yang bisa dipercaya.
Wilayah utara bukan berasal dari Kerajaan yang ditaklukkan Arsakana tapi merupakan hadiah perdamaian dengan Kerajaan Ning.
Kerajaan yang dibantu oleh kakek Arsakana ketika terjadi penyerangan dengan Kerajaan Zon.
Sebagai tanda terimakasih Raja Ning maka dihadiahkan lah wilayah utara yang lebih dekat dengan Kerajaan Arsakana daripada Kerajaan Ning. Letak wilayah utara bersebelahan dengan laut memudahkan armada laut memantau musuh, hasil laut melimpah serta hasil bumi yang banyak jelas menguntungkan Kerajaan Arsakana.
Dikarenakan merupakan wilayah pemberian bukan dari Kerajaan yang ditaklukan maka pimpinan wilayah utara bisa diangkat orang Raja Agung Kerajaan Arsakana.
Disini lah sekarang Partha berada. Memimpin wilayah makmur yang telah berjalan, keberadaannya menjadi kejutan bagi petinggi wilayah utara. Beberapa petinggi menunjukkan wajah manis di depan, pahit di belakang. Beberapa terang-terangan di depan bersikap tidak suka akan keberadaannya.
Jika bukan Arsakana dan Pangeran Bairu berada dalam kubunya maka nasib Partha tidak akan bertahan lama di wilayah ini.
Dia pun harus menghadapi masalah pribadi, para gadis bangsawan selalu mencari alasan bersua dengan Partha dan terakhir dia mendapatkan surat dari kemuning mengajak untuk bertemu.
Partha berjalan ke arah jendela menatap lautan luas. Jika dia mencari wanita yang tulus mencintainya maka Denting adalah orangnya tapi hati Partha meragu ketika mengetahui kebenaran keterlibatan Denting dalam putusnya hubungan dia dan Kemuning.
Apakah didasarkan karena ketulusan dan bermaksud melindungi dirinya atau ada maksud lainnya. Partha tahu ibunya menyayangi Denting. Tidak mudah jika harus memberitahukan keretakan hubungan dia dan Denting.
Sebentar lagi akan ada panen raya, apakah dia akan mengajak Denting sebagai pasangan atau tidak?. Keraguan masih menyelimuti dirinya. Dengan pengakuan Arsakana jika menginginkan Denting maka itu bearti Raja Agung telah menyatakan Denting adalah wanitanya.
Di saat kejelasan hubungan Arsakana belum di umumkan. Seharusnya Partha masih bisa menjalin hubungan dengan Denting. Ada penyesalan ketika dia 'mengusir' Denting tanpa menanyakan apa alasan Denting ikut campur dalam jalinan asmaranya.
Siapakah yang membantu Denting rasanya tidak mungkin jika semua dilakukan Denting sendiri berhubungan dengan Raja Teratai.
Dia seorang Ksatria seharusnya kisah cinta tidak begitu rumit. Keluarganya menerima Denting, apakah dia masih berharap cinta seorang gadis dengan keluarga yang menerima dengan syarat.
Partha menghembuskan napas perlahan, diraihnya daftar persiapan menyambut panen raya kali ini. Memastikan semua pejabat wilayah memberi upeti yang pantas untuk Kerajaan Arsakana.
Dia menatap ke arah lautan, semburat kemerahan tampak terlihat. Matahari perlahan turun menandakan tugas hari ini akan usai. Perlahan langit mulai gelap. Satu hati telah terlewati dan kali ini Partha memantapkan hatinya.
Tangannya mulai merangkai kata, dia akan mengirimkan surat ke keluarganya dan satu lagi untuk Denting. Pria tampan itu telah memutuskan Denting untuk mendampinginya di kursi kehormatan pimpinan wilayah dalam panen raya kali tahun ini.
Ada resiko kemarahan Arsakana tetapi belum ada pemberitahuan resmi status Denting tentu Raja Agung tidak dapat bereaksi.
Dia juga harus menyelesaikan permasalahan dengan Denting. Seorang Ksatria tidak akan lari dari masalah harus dituntaskan sampai selesai.
Menghindari dan menjauhi Denting hanya akan menghasilkan tanya di hati tanpa jawaban. Keresahan yang bisa die pecahkan dengan pertemuan kenapa harus ditunda.
Denting adalah sahabat sedari kecil lalu takdir memutuskan dia menjadi kekasih dirinya selama dua tahun.
Banyak hal telah mereka lewati, apakah kehidupan harus sempurna? Apakah tidak ada cela memaafkan untuk sebuah kesalahan walaupun kesalahan itu jelas memutar balikkan kehidupan Partha.
Jika dia tidak menjalin kasih dengan Denting dan tetap bersahabat. Arsakana tidak akan menempatkan dirinya dalam posisi pimpinan wilayah.
Takdir memang akan menemukan jalannya sendiri. Hadapi dan jalankan itu lah yang harus dilakukan Partha saat ini.
Dia menyelesaikan dua surat, pimpinan muda itu memanggil Xeno. Sejak dia menjadi pimpinan di wilayah utara, Satu-satunya kepercayaan di wilayah ini hanya Xeno. Adik tingkat di perguruan Ksatria Kerajaan. Dia telah meminta Xeno menjadi pengawal pribadinya.
"Baik Tuan wilayah akan segera Hamba sampaikan".
" Kau tak perlu seresmi ini memanggil Ku saat hanya berdua".
"Hamba tak berani tuan".
"Sudah lakukan saja apa yang Ku perintah kan".
"Baik segera laksanakan".
Partha tinggal menunggu waktu panen raya, surat untuk keluarga dan Denting sedang menuju ke tempatnya tiba-tiba wajahnya terasa panas dan hatinya menghangat membayangkan Denting menerima suratnya.
Apakah dia merindukan Denting? Ah tidak bukankah dalam hati terdalam Partha belum menerima Denting ataukah ini selama ini tanpa sadar Partha menahan rasa untuk Denting. Padahal jiwanya sudah merasa nyaman akan kehadiran Denting.
Partha menghirup udara sebanyak mungkin. Jika rasa itu telah hadir lebih kuat maka dia harus menahan sebanyak mungkin. Dia berada dalam dilema karena keinginan Arsakana untuk memiliki Denting tapi disisi lain masih ada kemarahan atau kecurangan yang dilakukan Denting.
Dia harus menyingkirkan perasaan melankolis ini secepatnya. Tugas di wilayah utara membutuhkan energi lebih untuk menyelesaikan. Siapa perduli akan kehidupan cintanya. Sebuah kedudukan menghadirkan tanggung jawab dan kewajiban untuk ditunaikan.
Atau inilah yang dimaksudkan Arsakana. Menyingkirkan siapa pun yang akan menghambat keinginannya. Partha tersadar sang penakluk belum mengumumkan keinginan tetapi sudah bergerak memuluskan jalan untuk meraihnya.
Seharusnya Partha merasa senang bukan kah ada alasan untuk memutuskan Denting , bukankah selama ini dia masih gamang akan kehadiran gadis ini tetapi mengapa ada sakit dihatinya membayangkan Denting bersanding dengan Arsakana.
Pertemuan dengan Denting harus segera dilakukan agar semua tuntas. Dia tak sabar menunggu sampai pertemuan kembali hadir diantara dirinya dan Denting.
Langit mulai berganti gelap, pijar bintang mengganti birunya langit siang. Apa yang telah dilakukan hari ini tak dapat diulang tapi hari besok masih menjanjikan sesuatu untuk dilakukan dalam kehidupan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wanita Sang Raja
RomanceDenting, wanita bangsawan menengah yang telah mendapatkan cinta pertamanya, 'Partha'. Pria tampan kepercayaan Raja Muda Agung, tetapi tanpa di duga Raja Muda jatuh cinta pada dirinya. Sekarang dialah wanita terpilih Sang Raja Muda Agung Arsakana. Sa...
