40. Love story

106 6 0
                                        

Aku menulis bab ini sambil mendengar lagu Indila - Love Story, walau kagak paham ma bahasa Perancis 😂 tapi beneran menghanyutkan. Pas translate, wuih cucok ma bucinnya King kita.

*****

Dan, aku akan memberimu semua emasku
Dan jika kamu tidak peduli
Aku akan menunggumu di pelabuhan
Dan jika kamu mengabaikanku
Aku akan memberimu nafas terakhir hidupku

Terjemahan Indila -Love Story

***

"Kenapa jendelanya ditutup?" tanya Denting panik menggoyang benda yang menghalangi pandangan dari luar. Sia-sia benda itu tak bergerak.

Jendela ruang baca sekarang dilapisi penutup bercelah, sekedar memberi akses cahaya. Dia memukul dengan tangan terkepal. Rasa sakit menjalar, sedangkan sedikitpun benda itu tak bergeser.

Dilangkahkan kaki mendekati dua dayang yang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu keluar. Cahaya matahari menerobos dari  celah jendela membentuk bayangan Denting memanjang dan memendek.

"Siapa yang memasang penutup tambahan jendela?" tanya retoris Denting, karema sejatinya ia sudah tahu jawabannya.

"Atas perintah Paduka Raja, Yang Mulia."

"Sudah kuduga!" seru Denting frustasi.

Ruang baca merupakan tempat favoritnya di kastil. Ia bisa melihat taman dan halaman dengan cemara berbentuk ujung tombak. Jangkauan pandangan pun lebih luas dibandingkan ruangan lain. Dia betah menghabiskan sepanjang hari di sini, termasuk tidur siang ketimbang di kamar yang terasa muram.

Ranjang yang besar berlapiskan sprei sutra, harum aroma pewangi ruangan, bunga-bunga segar yang diganti setiap hari menghiasi meja-meja sudut berlapis emas.  Kemewahan yang membuatnya sering bergidik. Membayangkan suatu hari Arsakana akan tidur di samping, memeluknya lalu mereka ... ia menggeleng panik. Bayangan itu kian hari, semakin sering datang.

"Buka penutup jendela, aku tak suka berada dalam remang seperti ini."

"Raja melarangnya, Yang Mulia."

"Aku yang tinggal di sini bukan dia," jerit Denting marah, merasa ketidakadilan selagi Arsakana bisa bebas bergerak. Dia harus terkurung seperti burung dalam sangkar.

"Paduka Raja telah menyiapkan ruang baca di sisi lain Kastil. Buku-buku juga telah dipindahkan. Mari kita ke sana, Yang Mulia."

"Bawakan penerang ke sini. Aku tak mau berpindah tempat." Denting menyipitkan mata melihat rak, lenguhan kesal lolos dari bibirnya, menyadari tak ada buku yang tersisa.

"Maaf, Paduka Raja telah menyiapkan tempat yang lebih menarik. Dilakukan agar Anda bahagia."

"Tahu apa dia tentang kebahagiaanku!"

Dada Denting kembang-kempis menahan kekesalan. Arsakana seenak hati mengaturnya bahkan sekedar menghabiskan waktu tak berguna di kastil. Ia melotot memandang Dayang yang memelas meminta pengertian. Keduanya terjepit di antara dua perintah.

"Tentu aku tahu banyak, calon istriku." Tetiba dari balik pintu ruangan muncul Arsakana, menatap Denting yang membelakangi cahaya. Siluetnya dengan gaun mengembang dan tangan terkepal di sisi tubuh, tampak anggun sekaligus menantang. 

Dua dayang bergegas pergi dengan air muka lega. Mereka lega tak harus menghadapi kemarahan wanita kesayangan raja.

Arsakana mengulurkan tangan ke arah Denting. "Ikut aku."

"Tidak! aku akan tetap di sini." Denting mengedarkan pandangan, berkas-berkas cahaya membentuk garis melintang, tidak kuat untuk menerangi, tetapi tidak terlalu gelap untuk meratapi nasib.

Wanita Sang RajaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang