24 : First Diary

1.4K 93 39
                                        

*Mohon koreksi dan kasih tau ya kalau ada typo dan salah penulisan*

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*Mohon koreksi dan kasih tau ya kalau ada typo dan salah penulisan*


❤️
❤️

Pukul satu dini hari Arabbel masih belum bisa tidur. Ia bergerak ke kanan dan kiri untuk mendapatkan posisi yang nyaman agar segera tidur tapi nyatanya tidak berhasil juga.

Arabbel turun dari kasur menuju meja belajarnya. Ia duduk di kursi meja belajar itu kemudian membuka satu laci dan mengeluarkan sebuah buku. Buku harian yang Dokter Avifah beri kepadanya, yang baru terisi dua lembar.

29 Juli 2021 (01.50)

Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku.
Entahlah apa keputusan yang ku ambil sudah tepat atau malah menimbulkan masalah baru yang besar dalam diriku.

4 tahun yang lalu, aku divonis kanker darah. Segala macam pengobatan yang ku ambil tak membawa banyak perubahan baik dalam diri ku.

Sekitar 6 bulan yang lalu, aku berhasil menjalani operasi sumsum tulang belakang dengan kakak sulung ku sebagai pendonornya.

Aku di nyatakan sembuh dan bersih dari sel kanker. Aku sehat. Aku tidak merasakan sakit lagi.

Suara goresan antara pulpen dan kertas itu menjadi satu-satunya suara yang menemani kesunyian Arabbel di kamar, malam ini. Kata-kata yang Ia tulis mengalir begitu saja di kepalanya tanpa Ia pikirkan sebelumnya.

But I don't know why it didn't last long. Darah kembali menetes dari hidungku. Dada ku seperti ditusuk perlahan dari dalam. Semua yang terjadi tak asing bagi ku, tapi itu sangat menyakitkan.

I was in torment because of all of that. Berusaha menyembunyikan semuanya dari keluarga ku karena aku belum siap jika harus mendengar kenyataan baru yang lebih menyakitkan.

But I have a twin, aku punya seseorang yang selalu merasakan apa yang aku rasakan. Ya, kurasa keputusan ini juga akan menyakitinya. Semakin lama aku menahan dan menyembunyikan rasa sakit ini, aku yakin dia juga akan merasakannya.

Maaf, tapi tolong pahami aku.

Arabbel meletakkan pulpennya pada lipatan buku kemudian menutup buku hariannya.

Tak pernah terpikirkan sebelumnya untuk rutin menulis kisahnya disebuah buku harian. Tapi sepertinya mulai sekarang ia akan menumpahkan semua isi hatinya kedalam buku ini.

Tes, tes, tes

Tiga tetes darah berhasil menetes di atas sampul buku itu. Arabbel yang menyadari itu dengan cepat mengambil dua lembar tisu yang terletak di meja belajarnya ini.

Goresan ARABBELCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang