"it hurts when I make a promise"
Arabbel pikir ia sudah bebas, tapi ternyata tidak. Itu semakin parah.
Sesak dan kesakitan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Bahkan darah terbuang sia-sia dari tubuhnya.
17 tahun adalah impiannya, dan baginya itu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*Mohon koreksi dan kasih tau ya kalau ada typo dan salah penulisan*
Tinggalin jejak kalian ya, komen dan vote pliiisss biar aku semangat nulisnya... Yang vote sama komen baik banget deh, suer....
❤️ ❤️ ❤️
Mobil putih Alvarro melaju dengan kecepatan sedang di tengah jalanan yang sudah mulai ramai oleh kendaraan. Kini ia tidak sendiri, melainkan ditemani Arabbel yang duduk di bangku sebelah kemudi.
Pagi tadi, jam setengah tujuh kurang Alvarro sudah datang ke kediaman keluarga Stynlic untuk menjemput putri satu-satunya keluarga itu menuju sekolah.
"Nanti pulang sama siapa?" tanya Alvarro tanpa mengalihkan pandangnya dari jalanan.
"Dijemput Bang Leon sama Bang Ravvel. Katanya sekalian mau ambil baju buat acara nanti malam."
Alvarro mengangguk. Ia melirik sebentar ke arah Arabbel lalu kembali fokus ke depan, tangan kirinya terangkat untuk menaikkan suhu AC mobil dan menggeser AC itu agar tidak terlalu mengarah pada Arabbel.
"Kamu nanti datangnya sama Bunda atau sama yang lain?" tanya Arabbel.
Arabbel mengangguk antusias, "iya. Papa kan juga undang keluarganya Kak Raven. Nah aku bilang sekalian sama teman-teman yang lain juga biar rame. Nalla, Fali sama Vanila juga datang. Teman-teman abang yang lain juga banyak yang datang."
Alvarro mengangguk, "Sama Bunda aja kayaknya."
"Oooo, oke deh."
Memakan waktu dua puluh menit perjalanan ke sekolah, kini mobil yang dinaiki Alvarro dan Arabbel sudah memasuki pekarangan SMA Global Exander.
Baru saja memarkirkan mobilnya, pandangan Alvarro menangkap seorang perempuan dan laki-laki baru saja keluar dari mobil yang berada di depannya.
Hal itu tidak terlalu mengejutkan Alvarro. Jika perempuan itu bersekolah di sini, maka kemungkinannya terbesarnya adalah, kakak laki-lakinya juga bersekolah di tempat yang sama, menduduki bangku kelas dua belas.
"Varro?"
Suara Arabbel berhasil mengalihkan padangan Alvarro dari kaca mobil beralih pada dirinya.
"Kenapa?" tanya gadis itu.
Alvarro menggeleng singkat, "gak papa. Nanti pulang jangan kemana-mana lagi, langsung ke gerbang aja."
"Pulangan nanti kamu mau kemana emang?"
"Ada urusan basket sama Raven," jawab Alvarro sambil mengelus singkat puncak kepala Arabbel.