23: Me and My Twins

1.7K 107 65
                                        

*Mohon koreksi dan kasih tau ya kalau ada typo dan salah penulisan*

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*Mohon koreksi dan kasih tau ya kalau ada typo dan salah penulisan*


❤️
❤️

Seperti yang Aravvel bilang di chat tadi kepada Arabbel, sepulang sekolah Ia akan datang ke sekolah Arabbel bersama Pak Raffi. Ia berniat mengajak Arabbel ke suatu tempat yang pasti sangat dirindukan bukan hanya olehnya melainkan oleh seluruh keluarganya juga. Tapi untuk saat ini ia hanya berniat berdua saja dengan Arabbel ke tempat itu. Setelah sampai di tempat tujuannya, Aravvel langsung meminta Pak Raffi untuk meninggalkan mereka berdua disini.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore saat Arabbel dan Aravvel masuk ke dalam rumah minimalis yang terbuat dari kayu jati. Rumah itu masih berdiri kokoh sampai saat ini dengan pemandangan danau yang sangat indah di belakangnya.

"Kangen banget," ucap Arabbel saat mereka memasuki rumah itu.

Diletakkannya tas yang mereka bawa dari tadi ke sebuah kursi rotan yang berada di ruang tamu rumah itu, kemudian membuka alas kaki mereka masing-masing.

"Kok gak berdebu ya, Bang? Padahal udah lama banget kita nggak kesini."

"Papa tetap nyuruh orang buat bersihin rumah ini setiap dua minggu sekali," jawab Aravvel sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan ini.

"Danau yuk," ajak Aravvel sembari berdiri dari duduknya yang diikuti oleh Arabbel.


Mereka duduk di pinggiran danau, sama-sama terdiam melihat indahnya pemandangan dari yang ada disitu.

"Jadi pengen nyanyi," gumam Arabbel.

"Hm?" sahut Aravvel menoleh karena kurang jelas mendengar suara Arabbel.

"Nyanyi yok, kayak dulu. Keyboard sama gitarnya masih ada di dalam 'kan?"

Aravvek mengangguk, "kayaknya si masih ada. Kita liat dulu."

Mereka masuk ke dalam sebuah kamar bernuansa coklat dan cream kemudian mengambil satu gitar dan keyboard mini yang bisa di bawa kemana-mana, kemudian menuju balkon satu-satunya yang ada di rumah ini.

Perlahan mereka duduk di lantai balkon kemudian sibuk mengatur dan menyesuaikan alat musik yang mereka pegang.

"Mau nyanyi apa?" tanya Aravvel sambil menyesuaikan senar gitarnya.

"Abang tau lagunya Nadin Amizah?"

Aravvel terlihat mengingat sejenak, "bertaut?"

"Nah!" balas Arabbel semangat. "itu lagu buat orang tua gak sih? Tapi cocok buat kita."

Aravvel terkekeh, "sama-sama keras kepala?"

"Iya, gitu lah."

"Ayo mulai. Abang main gitar, Abbel main keyboardnya."

Goresan ARABBELCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang