*Mohon koreksi dan kasih tau ya kalau ada typo dan salah penulisan*
Tinggalin jejak kalian ya, komen dan vote pliiisss biar aku semangat nulisnya...
Yang vote sama komen baik banget deh, suer....
💜
💜
💜
Suara hujan di pagi hari mungkin memang didambakan oleh banyak orang yang memiliki waktu luang. Siapa yang ingin membuang kesempatan untuk berbaring dan bermalas-malasan di kasur dengan selimut yang menutupi tubuh saat suara hujan yang deras memasuki indera pendengaran? Tidak ada. Tapi sayangnya beberapa orang harus melewatkan kesempatan berharga itu saat waktu memaksa mereka untuk memulai aktivitas yang harus dilakukan.
Sama seperti yang Arabbel rasakan saat ini. Ia menggerutu di depan cermin dengan jari-jari tangannya yang lincah menata rambutnya saat ia harus bersiap untuk pergi ke sekolah di tengah hujan deras pagi hari yang—seharusnya—indah.
Ia kembali berjalan ke arah kasurnya setelah memastikan rambut panjangnya terikat tinggi dengan rapi ke belakang hanya menyisakan poni yang panjangnya sudah melebihi mantanya terurai di bagian wajahnya.
"Agrrrhhh..." gerutu Arabbel saat ia menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan posisi tengkurap agar rambutnya tidak terganggu.
Apa nggak usah sekolah ya?
Ah, pikiran itu sudah terlintas berkali-berkali di otaknya pagi ini.
Gadis itu kembali duduk merenung di pinggir kasurnya dan menghela napas saat hujan seakan semakin mengamuk memaksa ingin keluar dari langit.
Berdiam diri tidak akan memperlambat waktu. Jarum jam tidak akan berhenti sejenak untuk membiarkan Arabbel berpikir untuk menentukan apakah akan pergi ke sekolah atau kembali tidur. Jika tidak segera diputuskan yang ada Ia akan terlambat. Keputusan terakhir yang Ia pilih—atau yang sebenarnya harus ia pilih—adalah segera pergi ke sekolah.
Segera setelah mengambil ranselnya, ia berjalan keluar kamar menuju lantai bawah yang tentu saja perlu melewati kamar Aravvel yang tertutup rapat.
Di bawah, hanya ada Leonel duduk sendiri di meja makan sambil mengunyah roti dengan selai kacang.
🥀🥀🥀🥀🥀
"Mau, nggak?"
Arabbel yang tadinya memposisikan kepalanya di meja dengan lengannya sebagai bantalan kini menoleh ke arah Vanilla yang menyodorkan dua bungkus chocolatos rasa vanilla kepadanya.
Arabbel menengadahkan telapak tangannya pada Vanilla dengan maksud agar gadis itu meletakan chocolatos itu di telapak tangannya.
"Makasih," ucap Arabbel dengan senyum lebarnya saat Vanilla memberikan kedua chocolatos itu padanya.
Vanilla yang tadinya berdiri kini mendudukan dirinya di kursi sebelah Arabbel. "Lo dari pagi malas-malasan mulu, heran."
Arabbel diam saja. Tidak tau juga harus membalas apa dari ucapan Vanilla barusan. Ia sibuk membuka bungkus chocolatos itu. Mulutnya langsung melahap makanan itu setelah plastiknya terlepas.
"Nalla sama Faliya mana?" tanya Arabbel setelah menelan suapan pertamanya. Karena seharusnya Vanilla kembali bersama Nalla dan Faliya setelah dari kantin untuk makan siang.
"Faliya diculik kak Kenzo tuh. Nalla kembali menjalankan kewajibannya sebagai kakak OSIS yang rajin."
Ya, besok sekolah mereka akan mengadakan acara pensi tahunan, dan tentu saja siswa yang paling disibukan dalam persiapan acara ini adalah pengurus OSIS.
KAMU SEDANG MEMBACA
Goresan ARABBEL
Teen Fiction"it hurts when I make a promise" Arabbel pikir ia sudah bebas, tapi ternyata tidak. Itu semakin parah. Sesak dan kesakitan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Bahkan darah terbuang sia-sia dari tubuhnya. 17 tahun adalah impiannya, dan baginya itu...
