"it hurts when I make a promise"
Arabbel pikir ia sudah bebas, tapi ternyata tidak. Itu semakin parah.
Sesak dan kesakitan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Bahkan darah terbuang sia-sia dari tubuhnya.
17 tahun adalah impiannya, dan baginya itu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*Mohon koreksi dan kasih tau ya kalau ada typo dan salah penulisan*
Tinggalin jejak kalian ya, komen dan vote pliiisss biar aku semangat nulisnya... Yang vote sama komen baik banget deh, suer....
Fun fact : membaca cerita wattpad akan lebih menyenangkan jika sambil diselingi untuk memberi komentar di paragraf-paragrafnya, dan memberi vote pada setiap part saya membaca juga menambah pahala dan sebagai tanda kalau kalian menghargai penulis🙂
💜 💜 💜
Arabbel menutup keran wastafel setelah ia selesai membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Ia mengambil tisu yang tersedia untuk mengeringkan tangan dan wajahnya lalu membuang tisu itu ke dalam tong sampah dengan asal. Helaan napas keluar dari mulutnya saat ia memandang pantulan wajahnya yang berada di cermin. Wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari biasanya.
Ia melangkahkan kakinya keluar dari toilet perempuan. Tepat saat Arabbel sedang berjalan di lorong-hendak kembali ke kelasnya-bel sekolah berbunyi di setiap ruang kelas tanda waktu mengerjakan soal ujian sudah berakhir.
Perempuan ini semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai ke kelas. Arabbel memang sudah selesai mengerjakan soal ujiannya dua puluh menit sebelum ia izin ke toilet karena mimisan. Tapi tetap saja ia harus cepat sampai untuk mengumpulkan kertasnya. Apa lagi nomor absennya berada di bagian awal.
"Bel, are you sure everything is okay?" Faliya menghampiri meja Arabbel setelah pengawas ujian keluar dari kelas.
"Pucat, ya?" Arabbel terkekeh kecil.
"Banget! Lo kenapa sih? Gak sarapan tadi pagi? Ini baru ujian pertama di hari pertama loh. Habis istirahat nanti lanjut lagi ujian kedua," ucap Faliya gemas.
"I know. Gak mungkin aku lupa. Aku juga gak bakal pingsan kali."
"Jangan ngomong gitu heh!"
"Lah, Salah di mana coba?"
Akhirnya mereka berdua berjalan bersama menuju kelas di mana Vanila dan Nalla melaksanakan ujian kerena ruang ujian mereka memang terpisah.
Di hari ujian seperti ini, banyak siswa-siswi yang memilih menghabiskan waktu istirahatnya untuk belajar di kelas walau ada juga yang lebih mementingkan isi perut mereka dengan makan di kantin., seperti yang dilakukan keempat sahabat perempuan ini.
Arabbel, Faliya, Nalla dan Vanila masing-masing sedang mengantri di kantin untuk membeli makanan dan minuman. Kondisi kantin yang lumayan sepi membuat mereka leluasa untuk bergerak-membeli makan tanpa harus berdesakan.
"Meja mana?" tanya Nalla setelah mereka mendapatkan makan dan minum masing-masing.
"Sana aja." Vanila menunjuk meja paling pojok tepat di sebelah dinding yang berbatasan langsung dengan ruang musik.