Happy reading~
.
.
"Hoamh." Wei Wuxian menguap lebar.
Matanya yang semula tertutup perlahan mulai terbuka, sedikit menyipit ketika cahaya matahari masuk ke retina matanya yang masih berat akibat rasa kantuk yang belum tuntas.
Ia menolehkan kepalanya kesisi tempat tidur yang telah kosong, menatapnya selama beberapa saat sekedar untuk mengumpulkan nyawanya yang masih berceceran.
Sampai kemudian ketika pintu kamar mandi terbuka, bersamaan dengan aroma cendana yang menguar lembut membuat Wei Wuxian bergeming. Ia mengubah posisinya kembali terlentang lalu terkikik dengan suara serak saat Wangji memberi kecupan kecil dihidung mancungnya.
"Selamat pagi." Bisik pemuda Lan itu lembut.
"Hm." Wei Wuxian hanya menjawab sekedarnya. Suara dan tenaganya belum pulih betul, mengingat bagaimana hebohnya acara percintaan mereka semalam.
Sampai-sampai Wei Wuxian yang biasanya binal harus memohon agar Wangji mau memberinya jeda untuk sekedar menarik napas.
Dan tentu saja, Lan Wangji tidak mengabulkan, kekeke.
Tangan besar Wangji mengusak halus surai sang istri sebelum menarik diri untuk segera bersiap ke kantor.
Sebuah rutinitas baru yang masih belum terbiasa. Karena sekarang, Wangji tak bisa lagi berlama-lama melakukan cudling bersama orang terkasihnya dipagi hari.
Tidak seperti saat ia hanya memiliki jadwal kuliah, ia memiliki banyak waktu santai bersama Wei Wuxian, tidak terikat waktu seperti saat ini. Dimana waktu mereka bertemu sangat sedikit dan terbatas.
Dipagi hari sebelum berangkat dan malam hari sebelum tidur.
Dan itu benar-benar menyebalkan.
Wei Wuxian memperhatikan gerak-gerik Wangji yang telah memilih pakaian kantornya.
"Jangan pakai itu." Ujarnya.
Lantas ia bangun, sedikit meregangkan tubuhnya yang masih terasa kaku lalu menghampiri Wangji yang masih berdiri didepan lemari besar mereka.
Pemuda yang hanya memakai kemeja oversize itu merampas kemeja putih milik suaminya dan menggantungnya kembali dilemari, "kenapa kau suka sekali sih memakai kemeja putih? Aku sampai bosan melihathya tau." Omelnya sembari memilih kemeja yang cocok untuk Wangji.
Sedang pemuda Lan hanya memperhatikan dalam diam, sembari lengan berototnya mendekap pinggang ramping Wei Wuxian dan bibirnya yang tak berhenti mengecup collarbone istrinya yang terbuka.
"Bagaimana dengan yang ini?" Tawar Wei Wuxian, menunjukan kemeja berwarna maroon.
"Apapun yang kau pilihkan aku akan menyukainya."
Pemuda Wei mengernyitkan hidungnya, mengejek kalimat cheesy sang suami dengan pipi yang merona.
"Jadi meskipun aku memberimu kemeja polkadot dengan warna mencolok kau akan tetap memakainya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Silly Marriage
FanficBagaimana jika Wei Wuxian dijodohkan dengan Lan Wangji? "apa aku boleh bunuh diri?"-Wei Wuxian "kekanakan!"-Lan Wangji . . ...
