Happy reading~
.
.
Hari ini cuaca cukup sejuk, tidak cerah tidak mendung juga.
Oleh sebab itu, selepas kelasnya berakhir, Wei Wuxian memutuskan untuk sedikit menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di salah satu pusat kota Cina yang ramai.
Hanya sekedar mampir ketoko kemudian keluar tanpa membeli apapun, lalu berkeliling lagi, menatap setiap bangunan yang ia lewati dengan pikiran yang lari kemana-mana.
Sebenarnya, ia hanya ingin membuang-buang waktu. Menghindari Lan Wangji dan Song Lan yang terus mengganggunya.
Apalagi, setelah apa yang Wangji katakan kemarin malam.
Itu terlalu berani, juga-
Bukan gaya Lan Wangji sekali.
Iapun tak tau alasannya, kenapa Lan Wangji bersikap begitu?
Setelah semua yang dia lakukan satu tahun yang lalu, kemudian muncul secara tiba-tiba dihadapannya dan mengatakan akan mengejarnya,
Jujur saja, itu seperti sebuah lelucon untuknya.
Wei Wuxian hanya merasa dirinya sedang dipermainkan dan ia tidak menyukainya.
Dan untuk Song Lan,
"Hah." Wei Wuxian menghela napas.
Jujur saja, itu adalah masa lalu paling mengerikan dalam hidupnya. Ia tak ingin mengingat apapun tentang hari-hari itu, tapi kemudian Song Lan datang dan membuatnya kembali mengingat seolah semua itu baru terjadi kemarin.
Setiap kali ia bertemu dengan pemuda Song itu, ia seperti menggali kembali semua yang telah ia kubur.
Itu tidak bisa dicegah, melainkan terus membuatnya menggali sampai rasanya ia terjebak dalam ruangan gelap dan sempit, hingga, rasanya semua pasokan oksigennya ditarik paksa saat menyadari dirinya telah jatuh dalam trauma yang menyiksa.
Ia menghentikan langkahnya saat rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya.
Selalu seperti ini ketika ia mengingat semua yang berkaitan dengan Song Lan.
Wei Wuxian memukul dadanya, untuk mengurai sesak yang terasa mengikatnya dengan erat.
"Sialan." Ia mendesis, mencoba mengenyahkan semua ingatan yang baru saja merangsek kedalam kepalanya.
Ia memutuskan untuk memasuki sebuah cafe didekat sana, mungkin secangkir kopi bisa menenangkan hati dan pikirannya yang terasa kusut.
"Caramel machiato."
"Caramel machiato satu, ada tambahan?"
"Tidak."
"Baik, totalnya 5 dollar."
Setelah menunggu beberapa saat ia mendapatkan pesanannya dan berjalan menuju kursi disamping jendela.
Itu adalah spot favoritnya, dimanapun ia berada.
Menyaksikan dunia luar dari balik jendela seperti ini, entah kenapa selalu mampu membuat pikirannya yang kusut terurai secara perlahan.
Wei Wuxian memainkan pinggiran cangkir porselainnya dengan tatapan kosong, hingga uap tebal dari permukaan kopi menipis, ia tak juga menyesap cairan beraroma manis itu.
Seolah, pikirannya telah dibawa kesuatu tempat entah dimana.
"Bukankah kopi sebaiknya diminum selagi hangat?"
Ia tersentak saat suara seseorang menginterupsi lamunannya. Iris keabuan miliknya melirik seseorang yang duduk disampingnya tanpa permisi.
Wei Wuxian melengos, ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Silly Marriage
Fiksi PenggemarBagaimana jika Wei Wuxian dijodohkan dengan Lan Wangji? "apa aku boleh bunuh diri?"-Wei Wuxian "kekanakan!"-Lan Wangji . . ...
