chapter fourty-two

13.1K 1.6K 270
                                        

Speechless dapat apresisasi sebesar ini🤧

Dan, kenapa banyak banget yang ingin mommy wei jadi pembunuh si? Psikopat sekali anda sekalian wkwk

Sayangnya ini bukan cerita bergenre gore yang bisa bikin mommy wei bebas cabik-cabik, mutilasi dan ngebelek organ dalam mangsanya😂

.
.

Wei Wuxian adalah pemuda yang tumbuh dalam keluarga yang baik dan luar biasa harmonis.

Bahkan sejak dalam buaian kandungan Changse Sanren, ia sudah dilimpahi kasih sayang luar biasa banyak dari kedua orangtuanya.

Wei Wuxian selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, ia benar-benar dimanjakan selayaknya tuan muda dari kaum bangsawan.

Namun begitu, ia tidak tumbuh menjadi sosok arogan.

Mungkin sedikit nakal, namun tetap menjadi kebanggaan bagi orang-orang terdekatnya. Orang-orang memujinya sebagai sosok yang hangat dan rendah hati.

Singkatnya, Ia adalah sosok yang hampir mendekati sempurna.

Namun tentu, disamping semua itu Wei Wuxian tetaplah manusia biasa.

Ia bukan malaikat yang hanya memiliki sisi baik, tapi juga sisi iblis yang akan muncul saat seseorang berusaha mengusik kehidupan damainya.

Wei Wuxian bisa berubah menjadi mimpi buruk bagi siapapun yang terlalu berani menyinggung kehidupan nyaris sempurnanya.

Seperti Song Lan dan Luo Qingyang.

.
.

Rintik hujan turun dalam intensitas ringan.

Langit mendung menggantung diatas kota yang masih dipadati orang-orang yang senantiasa mengikis aspal dalam kesibukan tak kenal waktu.

Kepenatan tergambar jelas diwajah mereka, seolah tengah bercerita tentang hari yang begitu berat juga melelahkan.

Sama seperti beberapa orang berwajah muram lainnya, Luo Qingyang tak ubahnya manusia yang telah kehilangan gairah hidup.

Beban dipundaknya terasa amat berat dan hampir merobohkannya.

Semua masalah yang ia ciptakan benar-benar menguras habis tenaganya.

Dan meski ia memiliki semua simpati itu, hatinya tetap tak merasa tenang.

Ia terus menerus merasa gelisah. Seolah-olah ada hal buruk yang siap menantinya didepan sana.

Ia terpuruk dalam ketakutan.

"Hah."

Helaan napas berat untuk kesekian kalinya ia keluarkan, irisnya menatap kedai kopi dihadapannya.

Mungkin, secangkir cafein bisa sedikit mengurai jalinan kusut dalam dirinya.

Atau mungkin, ia bisa memikirkan cara untuk menyelesaikan semua ini sesuai yang dia inginkan.

Membawa Lan Wangji berlutut dibawah kakinya.

"Satu capppucino."

Silly MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang