Rencana yang terlupakan

2.4K 126 8
                                        

#Latepost
Sebelumnya aku sangat minta maaf karena kelamaan update. Hhhh. Jujur, tadinya pengen langsung ditamatin aja ini cerita. Etapi setelah dipikir lagi, sayang banget, first story aku ini (ehm,gajugasih) lumayan seru, menurut pandangan aku sih-_- Baru selese ucun, ntar senen uas, senennya lagi, praktek, terus us, terus un (curhatceritanya) Aku harap kalian semua ngertiin aku. Yaaa, mungkin emang gak ada yang peduli juga sih. Hh, yaudahlah wish me luck. And semoga juga aku bisa nyuri waktu buat lanjut ini cerita-_- GANBATE!!

Happy reading, <3

(Soal mulmed diatas, i'm so sorry, aku gak bisa sama yang namanya ngedit-ngedit yang kayak begitu) iye tau tuh author kagak kreatip dasar!)

****

"Dia mati," kata Robert yang telah duduk kembali di kursinya. Di sebrangnya, Lucas memperhatikan Robert dengan teliti. Mercari letak kesalahan andaikan ada. "Aku tidak tahu kenapa dia bisa di bunuh. Sandra yang bersamanya," lanjutnya sambil menunjuk Sandra yang berdiri di belakangnya dengan dagunya.

Sandra menunduk. "Kalian berdua di gudang itu?" tanya Lucas pada Sandra. Lalu Sandra mengangguk sambil menatap mata Lucas. "Apa yang dia bicarakan saat kalian di sana?"

"Dia hanya menceritakan bagaimana dia menyiksa Alexa. Lalu dia mempraktikannya di depanku dengan memakai, tubuh David," jawab Sandra yang mulai berlinang air mata.

Lalu tiba-tiba terdengar bunyi deheman di belakang Robert dan Sandra. Lucas langsung menatap lelaki di belakang Sandra dan seketika itu, kata-kata yang setidaknya sopan untuk dikeluarkan nanti terbang tertiup angin dengan satu kali helaan nafas yang berat. "Apa maksud kalian?" tanya lelaki itu.

"Pak," sapa Lucas sambil mengangguk hormat tanpa menjawab pertanyaan dari lelaki itu. Di belakang Lucas, Frankie pun hanya mengangguk sambil mulai bangkit dari posisi duduknya.

"Ku tanya, apa yang kalian maksud dengan memakai tubuh David?!" tanyanya dengan nada yang mulai meninggi.

Sandra menegang dan hendak berbalik. Tapi kengeriannya sudah terlanjur menaik ke level teratas. Baru kali ini, dia mendengar amarah yang keluar dari lelaki ini begitu memuncak. Ayah David, Christoff Burg, seorang ketua Deandle dan juga pemimpin para penyihir. Tapi dengan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, Sandra mulai berbalik dan menemukan Christoff Burg dengan keadaan yang kacau. Sandra langsung terpaku pada mata coklatnya. Matanya terlihat sangat lelah dan memerintahkan pemiliknya untuk beristirahat. Lalu wajahnya yang tua dan sudah keriput, mengingatkan Sandra akan David. Ya, David. Anak kesayangan dan satu-satunya yang dimiliki oleh sang ketua ini. Sudah satu tahun lebih, mungkin, dia mengenal orang tua ini cukup dekat. Karena hanya lelaki ini yang mempunyai bayangan ayah bagi Sandra. Dan tanpa ragu, dia mulai memeluk lelaki ini dan menangis.
"David telah mati, Paman," katanya di sela-sela tangisnya. Paman, hanya dia yang memanggilnya begitu.

Christoff membalas pelukan itu. Tapi badannya terasa menegang dan sangat kaku. "Kenapa bisa?" tanya Christoff dengan wajah setegar mungkin, tanpa ada yang tahu bahwa hatinya menjerit ingin menangis. Anaknya, satu-satunya, yang selalu ia bangga-bangakan, mati? Ya Tuhan, batin Christoff. Dia tidak pernah membayangkan kalau situasinya akan menjadi seperti ini, sekacau ini, serumit ini, dan sepilu ini. Dari hari ke hari, satu per satu penyihir meninggal hanya karena orang tua, mantan ketua penyihir, yang meminta permintaan sederhana.

****

Saat itu, bertahun-tahun yang lalu sekali, terdengar sebuah informasi yang sangat membuat semua orang kota merinding ngeri. Seorang perempuan berambut coklat yang panjang datang ke rumah Christoff yang saat itu menjadi mentri keamanan dalam sambil berkata, "Pak, tolong turunkan ketua penyihr itu. Aku melihatnya. Dia membunuh ketua sebelumnya. Aku bersumpah! Dia kejam," ucapnya dengan wajah panik. Katanya dia sudah memberitahu semua anggota mentri dan dewan lainnya. Tapi tidak ada yang merespon sedikit pun. Dan entah mengapa, Christoff merasa perempuan ini mencoba untuk berkata jujur. Lalu, ada bau yang sangat familiar tercium hingga memenuhi paru-paru terdalam Christoff saat menghirupnya

The First ChanceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang