Dia yang mengetahui semuanya

2.9K 183 1
                                        

Annabelle dan Samuel hanya bisa diam terpanah oleh pemandangan kota ini. Mereka hampir tidak percaya bahwa yang dilihatnya ini hanyalah sebuah proyeksi. Sepenggal kenangan dari kehidupan Alika. Tapi tunggu sebentar!

"Proyeksi?" tanya Anna dengan wajah penuh dengan kebingungan.

"Ya," jawab Alika. "Kau tidak tahu proyeksi ya?" tanya Alika kembali pada Anna. Dia menjentikkan jarinya dan muncul sebuah sofa berwarna abu-abu. Sofa itu pas untuk mereka bertiga.

"Aku tahu," jawab Anna. "Tapi, itu tidak mungkin tanpa bantuan alat-alat yang canggih."

Alika mempersilahkan Anna untuk duduk di sofa itu. Dan Anna pun duduk bersama Alika. "Kenapa aku harus perlu alat-alat yang kau maksud itu?"

Anna tidak menjawab. Tapi Samuel yang bertanya. "Apa maksudmu membawa kami kemari?" Samuel yang sedari tadi hanya diam tanpa berkutip kini telah menoleh ke arah Alika dan duduk di sebelah Anna.

Mendengar pertanyaan Samuel, Anna merasa bersalah telah memberi pertanyaan yang tidak penting untuk Alika.

"Oh iya, aku hampir lupa. Aku hanya ingin memberi sepotong sejarah yang aku tahu tentang 'kita'." Anna dan Samuel tampak siap mendengarkan. "Pertama yang kalian harus tahu adalah, aku, kau dan kau, adalah penyihir," kata Alika dengan mata yang tertuju pada Anna dan Samuel secara bergantian. "Kedua, aku adalah ibu dari Anna," lanjut Alika. Anna terlihat sedikit kaget, tapi dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. "Dan terakhir yang mungkin kalian ingin tahu, mengapa aku disini? Jawabannya adalah, aku sedang dihukum. Dipenjara dalam buku terkutuk itu," kata Alika. "Silahkan bertanya. Aku bingung harus mulai dari mana," lanjutnya sambil melambaikan tangannya.

Dengan penuh lega, Anna bertanya, "Kenapa aku, dan Samuel menjadi penyihir? Ibu maupun Ayahku dan Samuel tidak pernah memberitahu kami kalau kami seorang penyihir."

"Pertanyaan yang bagus, sayang," kata Alika sambil tersenyum manis pada Anna. "Dahulu kala, ada seorang lelaki tua yang sedang sekarat. Di masa hidupnya, dia adalah orang yang sangat baik. Dia mempunyai permohonan terakhir kepada malaikat yang hampir menjemputnya. Katanya, "Kalau aku mati, aku mau mempunyai keturunan yang bisa melakukan yang tidak mungkin."

Malaikat itu menjawab, "Aku tidak akan mengabulkan permohonanmu semudah kau menyobek kertas, ada syaratnya." Tanpa mengetahui apa isi syarat itu, lelaki tua langsung menerimanya dengan sangat terhormat. Lalu si Malaikat memberi tahu syaratnya. "Ada tiga syarat, Pak Tua. Pertama, keturunan yang kau minta ini akan muncul setiap tujuh keturunan. Kedua, mereka sama dengan manusia, hanya saja, mereka bisa melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan manusia," seperti aku tadi," potong Alika yang sedang bercerita. "Mereka dapat hidup abadi, tapi seperti benda yang ada di awetkan. Dan terakhir, kau tidak akan bisa melihat mereka." Sang malaikat langsung mencabut nyawa laki-laki itu. Dan setelah tujuh keturunan, lahirlah kami, para penyihir."

Anna dan Samuel hanya bisa menatap kedua mata Alika yang berwarna cokelat. Bulu kuduknya berdiri karena ketegangan yang tercipta oleh kata-kata Alika.

"Jadi," kata Anna yang mulai memberanikan diri untuk berbicara. "Aku adalah penyihir, keturunanmu?"

"Ya," jawab Alika spontan.

"Aku?" tanya Samuel. "Apa aku juga keturunanmu?"

Alika tersenyum menyeringai melihat sikap Samuel yang terlalu polos. "Tidak, Sam. Setiap penyihir hanya mempunyai satu keturunan penyihir. Kalau pun kau mempunyai adik, pasti dia bukan penyihir. Dia akan tetap menjadi manusia."

Bukannya mengerti, Samuel justru tambah kebingungan. "Lalu aku keturunan siapa?"

Alika menghela nafasnya. Tampak kesal dengan ingatan Samuel yang sangat terbatas. "Richard Arthur. Sepertinya aku sudah memberitahumu, bukan?"

Samuel hanya mengangguk mengerti. "Tapi kau hanya menyebut namanya," gerutu Samuel. "Apa aku bisa bertemu dengannya?"

Wajah Alika berubah seketika. Yang awalnya sangat gembira karena melihat sikap Anna dan Sam, kini dia tampak murung, sedih, dan menyesal. "Aku minta maaf sebelumnya, Sam."
Anna tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Alika. Tapi Samuel merasa bersemangat tentang kehidupannya yang ganda ini.

"Kenapa?" tanya Samuel penasaran.

"Kau dan Anna tidak bertanya mengapa orang secantik aku bisa dihukum," katanya sambil tertawa karena omongannya sendiri. "Aku dan Ayahmu adalah teman yang dekat. Sampai suatu hari, aku melihat seseorang telah membunuhnya. Menusuknya dengan pedang yang panjang, hingga menembus tepat di dadanya," kata Alika yang mulai mengeluarkan air mata. "Dan, saat itu juga, aku langsung menghampiri Richard dan, dia sudah tidak bernyawa lagi. Aku di tuduh telah membunuhnya, karena hanya ada aku yang ada di sana."

Walaupun Richard bukanlah ayah kandung Sam, tapi dia tetap merasa berduka. Bagaimanapun juga, dia mempunyai darah yang sama dengan Richard. Dan Samuel juga tidak terima bila ayah penyihirnya dibunuh.

"Siapa yang membunuh? Katamu kau melihatnya, iya kan?" tanya Samuel dengan emosi di wajahnya.

"Namanya Isaac. Ayahnya Anna," kata Alika dengan penuh kebencian. "Aku sangat benci pada laki-laki itu. Dia menikahiku secara paksa. Aku benar-benar tersiksa tinggal bersamanya."

"Ayahku?" tanya Anna dengan bingung. "Lalu, dimana dia sekarang?"

"Nah, itulah sebabku membawa kalian kemari," kata Alika yang mulai bangkit dari posisi duduknya. "Kalian harus mencari seseorang yang bisa membawa kalian ke kota penyihir, dan menangkap Isaac."

Proyeksi kota penyihir itu mulai lenyap seperti asap yang menghilang. Alika pun juga menghilang. Sekarang yang ada hanya kumpulan asap putih yang kusam. Seperti awan yang mendung.

Tak lama setelah itu, muncul proyeksi seorang wanita cantik berambut merah yang indah. Dia sedang memakai pakaian berwarna hitam beserta tudungnya.

"Dia Clarissa, sahabat Isaac. Dia tinggal di pulau terpencil di negara yang luas. Kalian harus menemukannya. Semoga berhasil," kata Alika.

Dengan hitungan detik, proyeksi-proyeksi tadi sudah menghilang dan semuanya kembali seperti semula, di kamar Samuel, dan mereka sedang duduk di kasur Anna.
Anna dan Samuel saling tatap menatap.

"Jadi?" tanya Samuel memulai.

Tanpa melirik Samuel, Anna langsung menarik lengan Samuel keluar kamar. "Waktu kita tidak banyak, Sam." Lalu mereka keluar dari rumah Samuel tanpa sepengetahuan siapa pun.

The First ChanceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang