Kisah yang tersembunyi

2.4K 120 2
                                        

"Keluargamu tinggal di sini juga ya?" tanya Anna sambil memperhatikan ruang depan yang baru saja ia masuki. Isi rumah itu tidak semodern yang dibayangkan Anna. Ini jauh lebih kuno dari yang pernah ia bayangkan. Perapiannya dengan batu bata berwarna merah tanah. Lantai kayu yang mulai rapuh terdengar menyeramkan bila diinjak. Dan tentang dinding di sini. Tidak aneh bila di dinding rumah ini terukir juga ukiran yang sama dengan di pondok. Tapi, ukiran di sini terlihat lebih menyeramkan dan menakutkan. Ukiran melingkar-lingkar, melengkung-lengkung, hitam, dan berujung tajam setajam pedang. Apa semua ukiran yang Anna lihat mempunyai arti? Sebuah arti yang sangat berpengaruh pada suasana atau keadaan tempat tersebut? Atau hanya sebagai hiasan para penyihir? Tanpa sadar, Anna mengangkat kedua bahunya lagi karena memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalanya.

"Ya. Tapi, mereka sedang di pusat kota," jawab Alexa yang mulai duduk di kursi di depan perapian. Di belakang kursi itu, meja bundar dengan kaca sebagai mejanya, dikelilingi tiga sofa kecil berwarna putih yang sudah kusam. Penerangan di sini tidak terlalu redup. Jadi, Anna bisa memperhatikan warna-warna yang bervariasi di ruangan ini.

Ruangan ini cukup besar. Bisa dilihat dari sini, banyak pintu-pintu coklat yang akan mengantar ke suatu ruangan. Satu, dua, tiga, empat, pikir Anna. Pintu itu mengelilingi setiap sudut di rumah ini. Terlintas di pikiran Anna, jika dua pintu untuk kamar tidur, satu pintu untuk gudang, satu pintu lagi untuk apa? Belum lagi yang di lantai dua. Apa di sana juga ada pintu? Karena penasaran dengan banyaknya pintu, Anna memberanikan dirinya untuk bertanya pada Alexa yang sedang tidak baik cuaca hatinya.

"Pintu itu terpakai semua?" tanya Anna.

Dengan mata yang hampir tertutup, Alexa mengangkat kelopak matanya kembali. "Ah, iya. Kenapa? Kau mau lihat-lihat?" tanya Alexa pada Anna. Anna berpikir sebentar dan memutuskan untuk mengangguk. "Silahkan. Anggap saja rumah sendiri, ya," lanjut Alexa.

Anna mulai melepas jubah milik Alexa. Dia menggantungnya di tangan sofa yang berada di tembok sebelah kanan Anna. Dia mulai berjalan dari kanannya. Pintu pertama terkunci. Mungkin ini salah satu kamar tidur. Entah milik Alexa atau milik orang tuanya. Anna tidak tahu. Lalu dia melanjutkan jalannya. Pintu di dekat perapian. Itu tidak terkunci. Saat Anna membukanya, yang dilihat hanya kamar tidur dengan satu kasur besar dengan sprei berwarna coklat muda. Dengan dua bantal dan satu guling. Tak jauh dari kasur itu, ada sebuah lemari kayu kecil dengan empat pintu. Dan setelah dua barang itu, tidak ada lagi. Mungkin lampu yang menggantung di atasnya.

Anna menutup pintu kembali. Dia memutar badannya dan berjalan ke atah pintu sebelah kiri. Ada dua pintu di sebelah kiri. Pintu terdepan, ternyata kuncinya menggantung di tempatnya. Dia memutarnya dan membuka pintu itu. Gudang. Terlihat dari barang-barang yang tertumpuk-tumpuk di dalam sana. Dengan debu yang berterbangan juga di hidung Anna. Dia langsung menutup pintu itu sebelum debunya membuat hidung Anna gatal. Pintu terakhir di lantai satu. Tidak terkunci. Dia membukanya. Dan ternyata isinya, adalah kamar mandi. Haruskah kamar mandi ini terpisah? pikir Anna kesal.

Dia menghela nafas sebal. Dia mulai berbalik dan pergi ke tangga yang berada di dekat pintu masuk. Ditengoknya Alexa sebentar. Ternyata, matanya sudah tertutup dengan nafas yang teratur. Nyaman sekali tidurnya, pikir Anna. Setelah dia sampai di tangga, bukannya langsung menaikinya, Anna justru memperhatikan tangga itu seteliti mungkin. Tangganya dibuat dari kayu, dan sudah terlihat sangat rapuh karena dimakan rayap. Apa Anna terlalu berat bila menaiki tangga ini?

Dia mencobanya walau sedikit takut. Dia mulai menginjakkan kaki kanannya di anak tanggak pertama. Bunyi paku yang untuk menyangga anak tangga itu hampir terlepas melengking di telinga Anna. Tapi anak tangganya masih bisa menahan berat badan Anna. Dia mencoba lagi pada anak tangga kedua. Dan masih sama seperti tadi. Hanya bunyi yang sama terdengar lagi. Sampai anak tangga terakhir.

The First ChanceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang