Empat bulan yaaaaaaa.....
Lebih lagiiii.....
Author tak berguna dasar-_-
****
Kata-kata di tembok itu bagai tamparan yang keras untuk Anna. Anna memang belum mengetahuinya dengan pasti, tapi firasatnya mengatakan kalau pasukan Isaac akan mengobrak-abrik kota penyihir sebagai balas dendam pemimpin mereka dengan para penyihir. Walau sebenarnya, Anna juga tidak tahu bagaimana mereka mendapat informasi kematian Isaac secepat itu, tapi firasatanya mengatakan begitu.
"Jadi kita harus bagaimana sekarang?" tanya Samuel sambil menatap Anna yang sedang terlihat ketakutan.
"Aku tidak tahu," jawab Anna.
"Oke. Kita ke Lucas saja ya?" tanya Samuel lagi memastikan.
Anna mengangguk, lalu mulai mengikuti Samuel yang berjalan di depannya. Kepala Anna memang menunduk tapi pikirannya seperti sudah memutari suatu tempat berkali-kali. Pusing. Anna menjungkir-balikkan otaknya, berusaha berpikir, kira-kira apa maksud kata-kata itu. Apa yang akan terjadi malam ini.
Tapi pikirannya tiba-tiba saja buyar saat sesuatu yang hangat mendekap telapak tangan kirinya. Dia melirik tangannya, dan dia mendapatkan telapak tangan Samuel menempel erat di telapak tangan Anna. Dan anehnya, jantung Anna tidak terima akan perlakuan itu. Aneh memang. Rasanya pun berbeda. Anna tidak pernah merasakan semendebarkan ini jika sedang bersentuhan dengan Samuel seperti ini. Semua terasa seperti mereka adalah saudara kandung. Tapi ini?
Anna berhenti berjalan tanpa melepas gengamannya pada Samuel. Dengan kepala yang masih menunduk, Anna berkata, "Jika sesuatu yang buruk akan terjadi malam ini, aku mau kau tetap bersamaku setelahnya." Anna menunduk punya alasan, tentunya. Kini pipinya terasa panas. Dan benar saja, wajah Anna memerah.
Samuel yang sedikit terkejut akan kalimat yang Anna lontarkan, mulai mengambil telapak tangan Anna yang lain. "Dengarkan janjiku ya, aku," kata Samuel, Anna mengangkat kepalanya, "akan selalu bersamamu. Oke?"
Anna mengangguk dan Samuel tersenyum. Samuel kembali memimpin jalannya. Saat sampai di lobi, di sana sudah dipenuhi oleh para Deandle yang masih berjaga di sini. Dan Samuel sudah memastikan keberadaan Lucas setelah bertanya ke salah satu Deandle di lobi itu. Samuel berjalan keluar dari gedung pusat. Belum sampai lima meter dari gedung pusat, Samuel berhenti lalu berbalik menatap Anna dengan kening berkerut. "Kau tahu rumah Lucas?"
Anna mengangguk. "Semoga," kata Anna dengan senyum yang terlihat jahil.
"Dasar," balas Samuel.
Mereka melanjutkan jalan mereka, tapi kini dengan langkah yang sedikit terburu-buru. Entah kenapa sejak keluar dari gedung pusat perasaan Anna menjadi tidak enak. Lingkungan luar terasa lebih mengancam dari sebelumnya. Belum lagi kematian Isaac yang masih menjadi misteri. Jadi, apa Isaac sudah benar-benar mati?
Seolah tahu apa yang sedang Anna pikirkan, tiba-tiba saja Isaac muncul jauh di depan Anna dalam wujud bayangan yang kabur-kabur. Ini adalah sosok Isaac, maksudku, Isaac yang berambut pendek, Isaac yang berbadan tegap, Isaac yang berdada bidang, Isaac yang tampan dan terserah kau menilai Isaac seperti apa. Dia berdiri tiga meter jauhnya dari jarak Anna berlari. Saat dia berpapasan dengan Anna, Isaac berkata, "Kau takut, nak?"
Suara beratnya seakan menghipnotis Anna untuk berhenti berlari dan menyebabkan Samuel tersentak karena sesuatu yang menyatu dengannya berhenti dengan mendadak. Anna hanya menatap bingung pada sosok Isaac didepannya, sedangkan Samuel menatap Anna bingung. "Ada apa?" tanya Samuel.
Isaac menghilang seperti tertiup sesuatu. Dan Anna tersadar, lalu menolehkan kepalanya ke arah Samuel yang menatapnya dengan alis terangkat. Jelas sekali dengan tampang yang dihasilkan Samuel bahwa dia tidak terlihat kaget atau semacamnya. Anna menyimpulkan kalau Samuel tidak melihat ayahnya. "Hm, tidak. Tidak ada apa-apa," jawab Anna sedikit gugup.
KAMU SEDANG MEMBACA
The First Chance
AventuraAnnabelle, remaja berumur empat belas tahun ini, telah menemukan buku seorang penyihir. Buku itu seakan-akan berbicara dengan Anna. Anna pun tidak tahu mengapa dia menjadi yang terpilih. Tapi entah kenapa, Anna sangat tergila-gila pada kisah yang su...
