"Apa mereka berdua mati?" tanya Samuel penasaran dengan apa yang ada di depan matanya, dua orang remaja yang sedang bertekuk lutut dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Kuharap tidak," jawab Robert. Dia mulai masuk ke dalam gudang kecil itu dan menghampiri David dan Sandra dengan bertekuk lutut. Wajah mereka berdua penuh dengan keringat. Mereka duduk saling berhadapan dengan bersandar di tembok yang saling berlawanan. "David?" panggil Robert pelan sambil mengguncangkan bahu David.
Tapi tidak ada respon sama sekali. Justru Sandra yang bergerak tiba-tiba. Matanya langsung membelalak seperti orang kaget. Nafasnya langsung memburu seperti di kejar hantu. Mulutnya pun terbuka juga untuk menggapai udara. "Sandra?" panggil Robert. Sandra menatap Robert dan Samuel bergantian, lalu menangis. "Ada apa?" tanya Robert.
Tangisannya semakin jadi, membuat Samuel bingung, begitu juga dengan Robert. Kepalanya menunduk masuk ke dalam lengkukan tubuhnya yang tertekuk. Dia menangis. Ikatan rambutnya yang terkuncir di belakangnya tiba-tiba saja lepas dan menutupi kepalanya.
"David," bisiknya di sela-sela tangisnya. Jadilah, sekarang dia menangis dengan isakannya.
"David kenapa? Dia tidak mati, kan?" tanya Robert yang sudah berlutut di depan Sandra.
Tapi isakannya semakin kencang. "Aku benci dia!" teriak Sandra yang membuat Robert terlonjak kaget. "Dia, dia... Ah! Alexa... David..." Kini Sandra sukses menangis hebat seperti orang gila. Teriakan nama David dan Sandra berayun-ayun mengisi kesunyian di gudang itu. "Bisakah kalian, lakukan sesuatu dengan tali ini?" tanya Sandra dengan emosinya sambil menunjuk tangan di belakang punggungnya dengan dagunya.
Refleks, Robert langsung membuka ikatan keras yang mengikat pergelangan kaki dan tangan Sandra. Begitu juga Samuel. Dia juga ikut membuka ikatan tali David yang masih belum sadarkan diri.
Setelah ikatan tali di pergelangan Sandra terlepas, dia langsung mengelap kedua pipinya yang lembab dan langsung bangkit. "Aku akan segera menyusulnya," kata Sandra yang sudah keluar dari gudang kecil itu meninggalkan Robert dan Samuel yang masih bingung dengan reaksi Sandra.
Lalu Sandra berbalik. "Terserah kalian mau ikut atau tidak!" katanya masih dengan emosi yang terbakar.
Robert yang langsung mengerti perkataan Sandra, langsung bangkit dan menyusul Sandra. Diikuti oleh Samuel di belakangnya.
****
"Aku tidak mengerti," kata Anna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Perlahan, kakinya mulai melangkah mundur. Menjauh karena Alexa mulai memasuki perpustakaan itu.
"Apa yang kau tidak mengerti?" tanya Alexa tapi dengan suara aslinya, tidak seperti detik-detik sebelumnya. Mungkin agar Anna terlihat nyaman berbicara dengannya. "Biarkan aku memberitahumu sebelum perang dimulai," lanjutnya yang semakin berjalan menghampiri Anna.
"Alika bilang, kalau penyihir lahir setiap tujuh keturunan. Dan, kau bilang,"
"Sayang, kau sudah baca, bagian dimana aku mau menikahi manusia? Ya! Disitulah jawabannya. Alika hanya manusia yang aku mantrai. Dia tidak tahu apa-apa," kata Alexa yang sudah cukup dekat dengan Anna. Di belakang Anna tepat dimana jendela bundar itu berada. "Dan dengan percaya dirinya, dia bilang kalau dia keturunan para penyihir? Oh tidak. Jahat sekali dia berbohong pada anak kandungnya sendiri."
"Lalu, kenapa kau memakai tubuh Alexa?" tanya Anna sambil meraba-raba jendela kaca lewat tangannya yang berada di belakang pinggulnya. "Dimana dia sekarang?" tanya Anna yang kini berteriak mengisi perpustakaan.
"Kenapa ya?" tanya Alexa pada dirinya sendiri. "Mungkin, karena aku, Alexa, adalah wanita yang cantik, seksi, dan lagi, aku Laten! Dia harus dimusnahkan!"
"Kenapa tidak aku saja?! Darahmu?!" teriak Anna. "Sudah cukup kau menyiksa orang seperti itu. Lebih baik kau bunuh aku dan kau, tidak akan mengganggu para penyihir lain."
"Ya ampun, kasihan sekali dirimu. Kau itu umur berapa sih? Hah? Gayamu sok tua!"
"Masa bodoh! Aku tidak perduli!" teriak Anna semakin kencang. "Sudahi perangmu, dan kita berdua selesai, tanpa ada yang terluka," kata Anna sambil mengangkat tangannya ke atas tanda menyerah.
"Siapa kau? Berani-beraninya membentakku dan memberiku perintah?! Disini aku ayahmu! Dan kau,"
"Bukan anakmu!" kata Anna seolah-olah tahu apa yang akan dikatakan Alexa. "Aku tidak takut padamu! Dan dengar ya, kau yang memulai ini, dan kau juga yang harus mengakhirinya!" lanjut Anna. Jujur, omongan Anna tidak semuanya kebenaran. Tentang takut, dia benar-benar takut.
"Tentu saja aku yang akan mengakhirinya, sayang," kata Alexa yang sudah tepat berdiri di depan Anna dengan kedua tangan berada di belakang seperti orang yang sedang beristirahat di tempat. "Tapi, mungkin tidak seperti yang kau bayangkan. Tidak semudah aku akan membunuhmu nanti, atau mungkin sekarang," lanjutnya.
Sangat sakit rasanya di dalam dada. Seperti tertekan, tapi itu alami. Anggap saja Anna normal dan jantungnya seperti ini memang karena sebuah alasan. Ayahnya, tidak sebodoh yang semua orang pikirkan. Dia bukan Patrick teman Spongebob. Dia juga bukan Spongebob tersebut. Dia adalah Plankton yang selalu berusaha mendapatkan sebuah formula Krabby Patty. Dia hanya menginginkan tambahan buku mantra hitam sebanyak yang Deandle punya. Dia hanya membutuhkan itu agar suatu proses yang sedang ia kerjakan, berjalan dengan baik. Yaitu membuat semua orang tunduk padanya.
"Kau tahu, ibumu adalah seorang pecinta sejarah," kata Alexa yang benar-benar sudah dekat dengan Anna. Mungkin sekitar sepuluh senti di depan Anna. Anna tidak merasa gugup ataupun grogi, karena dia sedang berdekatan dengan perempuan, bukan laki-laki. "Saat dia tahu penyihir itu ada, dia jatuh," lanjut Alexa sambil menggerakkan tangan kanannya yang kini berada di balik punggungnya. "Cinta, padaku."
Entah darimana pisau kecil itu muncul. Dan tahu-tahu, sudah tertancap ke perut Anna. Pisau kecil berujung runcing berhasil menusuk perut Anna bagian kiri. Mata Anna membelalak kaget. Dia tidak sadar gerakan cepat Alexa yang tidak tertangkap mata Anna.
Jadilah, darah merah yang kental membasahi kaus Anna. Sakit. Itu yang Anna rasakan. Seperti di tusuk oleh pisau. Dan itulah faktanya.
"Kau tahu rasanya, tinggal seorang diri tanpa mendapatkan rasa cinta sedikipun? Ya, seperti yang kau rasakan, sakit."
Alexa mendorong dada Anna hingga Anna terlempar cukup keras menghantam kaca jendela yang kini sudah pecah.
Anna jatuh. Tiga detik melayang di udara, rasanya seperti sedang terbang menuju surga. Dan setelah tiga detik berlalu, rasanya jantung sudah tidak berdetak, darah berhenti beroperasi, dan pikiran melayang-layang ke segala arah.
****
Minta maaf sebanyak-banyaknya. Kalo emg pada nunggu cerita yang mulai absurd ini aku minta maaf baru sempet ngupdate. Udah gitu pendek lagi. Aku minta maaf. Tugas menumpuk dan ujian di depan mata. Sorry ya.
Vomments..
KAMU SEDANG MEMBACA
The First Chance
AventuraAnnabelle, remaja berumur empat belas tahun ini, telah menemukan buku seorang penyihir. Buku itu seakan-akan berbicara dengan Anna. Anna pun tidak tahu mengapa dia menjadi yang terpilih. Tapi entah kenapa, Anna sangat tergila-gila pada kisah yang su...
