Tok-tok-tok
Yang ada dipikiran Samuel adalah membuat Anna tertawa. Pizza? Dia saja tidak tahu sedang berada di daerah mana. Bagaimana dia ingin memesan pizza? Lagi pula, dia tidak membawa uang satu rupiah pun. Jadi, cara alternatif adalah mengembalikan senyum Anna agar menempel di wajahnya.
Tok-tok-tok
"Samuel," bisik seseorang di ujung lorong.
"Oh, kau. Ada apa?" tanya Samuel sambil menghampiri Alexa di ujung lorong yang sedang menjulurkan kepalanya ditembok. Seperti bermain petak umpet saja, pikir Samuel.
"Anna sedang apa?" tanya Alexa yang kini sudah berdiri tegak.
"Menangis. Aku tidak tahu alasannya. Katanya, dia merasa bersalah," jawab Samuel seolah-olah mengetahui pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan Alexa.
"Oh, ya aku mengerti itu," kata Alexa yang mengangguk-anggukan kepalanya. "Kau ada waktu?" tanya Alexa lagi.
"Jika kau bertanya seperti itu, jawabannya aku punya. Tapi hanya akan ku gunakan untuk menemani Anna yang sedang bertempur dengan dirinya yang lain," jawab Samuel singkat.
"Hm, tapi ini ada sangkut pautnya dengan Anna dan," kata Alexa yang menggantung kalimatnya. "Dan ayahnya," lanjutnya.
Samuel mendadak berdebar. Alexa berbicara seperti ini seolah-olah ini adalah permasalahan yang serius. Takut terjadi apa-apa dengan Anna-nya yang sedang sesenggukan. Takut ini akan memperburuk keadaan Anna yang memang sedang buruk.
"Kau, bisa menemui David sebentar?" tanya Alexa lagi yang membuat Samuel kembali ke dunianya.
"Ya, aku bisa. Tapi," jawab Samuel ragu.
"Ya, aku bisa membacanya dari matamu," kata Alexa yang sudah mengetahui rencana-rencana Samuel untuk mengembalikan Anna-nya. "Aku bisa meminta pizza pada temanku. Tapi, Anna tidak boleh tahu, kalau kita akan membicarakannya dengan ayahnya."
"Caranya?" tanya Samuel sambil berpikir keras.
"Obat tidur," kata Alexa yang membuat Samuel menatapnya kaget. "Jangan cemas. Obat itu tidak akan berdampak buruk dengan kesehatannya. Justru, memulihkan tubuh Anna."
Samuel langsung mengangguk mengerti mendengar penjelasan Alexa tentang obat tidur itu. "Sekarang, kau tinggal mengambil pizza itu di ruangan David. Obat tidurnya ada di laci meja. Sudah kusiapkan," kata Alexa seperti sudah menulis dialog untuk dirinya dan bahan-bahan yang akan digunakannya.
"Bagaimana kau,"
"Sudahlah. Cepat Sam! Nanti Anna curiga kau tinggal lama-lama," kata Alexa yang memegang pundak Samuel. Lalu membalikkannya dan mendorong Samuel hingga benar-benar memasuki ruangan David.
Di dalam ruangan, David dan Sandra sedang saling berkomunikasi, lalu tiba-tiba Samuel masuk dan membuat mereka diam dan menatap Samuel aneh.
"Maaf," kata Samuel. Sepertinya, dia baru saja merusak kenyamanan yang sedang mereka rasakan tadi. Tanpa berkata lagi, Samuel langsung keluar membawa apa yang disuruh Alexa. Lalu membawanya kehadapan Anna
****
"Kau ingat kan, kalau dia seorang Laten?" tanya Samuel sambil memasuki kamar dengan susah payah karena ada Anna yang menghalangi jalannya. "Maaf, permisi. Aku mau lewat."
Setelah Samuel berhasil masuk ke dalam, dia menaruh tumpukan pizza itu di atas meja di samping tempat tidur. Lalu dia mengambil satu kotak pizza dan menaruhnya di lantai. Dia pun juga duduk di lantai berhadapan dengan kotak pizza itu. "Apa yang kau tunggu disana?" tanya Samuel yang melihat Anna masih berdiri di depan pintu. "Aku perhatikan, sepertinya kau hanya meminum air putih semenjak ke pondok ini. Kau tidak merasa lapar?" tanya Samuel sekali lagi.
Anna langsung menutup pintu dan berjalan ke arah Samuel. Dia duduk berhadapan dengan Samuel dengan pizza diantara mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
The First Chance
AdventureAnnabelle, remaja berumur empat belas tahun ini, telah menemukan buku seorang penyihir. Buku itu seakan-akan berbicara dengan Anna. Anna pun tidak tahu mengapa dia menjadi yang terpilih. Tapi entah kenapa, Anna sangat tergila-gila pada kisah yang su...
