"Aku sama sepertimu," bisik Robert yang masih enggan melepaskan dekapan hangatnya. Karena jika Sandra menangis, dia lebih terlihat mirip dengan Alexa. Karena Robert selalu teringat Alexa dikala seorang menangis.
Pernyataan cintanya, dihadiahkan tangisan bahagia oleh Alexa. Dan itu membuat Robert semakin mencintai wanita itu. Menangis. Apa aku boleh menangis? pikir Robert. Aku tidak tahu apa pentingnya menangis. Menangisi sesuatu yang sudah tidak ada di dunia ini tidak akan mengubahnya seperti semula. Menangisi Alexa tidak akan membuat wanita itu kembali dan tersenyum dengan manis di hadapannya.
"Orang yang kau tangisi juga meninggalkanku," bisik Robert lagi. Sial, kenapa air mata ini sudah menggumpal dan berteriak ingin turun? batin Robert. "Baiklah," kata Robert seraya melepas pelan dekapan itu. "Kita akan melanjutkan perjalanan kita. Aku yakin, perempuan Laten yang sudah membuat kita rindu itu sedang tertawa renyah melihat kita menangisinya," lanjut Robert.
Sandra, yang masih menikmati tangisannya berhenti dan mengangguk. Dia memaksakan bibirnya untuk tersenyum walau David yang sombongnya minta ampun itu masih menempel dimemorinya.
Ternyata, kisah hidupnya tidak semanis yang ia bayangkan. Bayangan pernikahan yang akan melahirkan seorang penyihir tangguh terbang begitu saja. Terbang dengan membawa sejuta kepingan emas berharga miliknya. Lalu, dia ditinggal seorang diri. Mungkin hanya bersama pelukan dingin angin-angin malam yang selalu merayapi kulit putihnya.
Entah harus berapa kali dia menangis di hari berikutnya. Rasanya satu kali menangis dalam sehari tidak akan pernah cukup menggantikan dua sosok sekaligus. Lalu, harus berapa kali aku menangis seperti ini?
"Kau tidak perlu menangis. Aku pasti akan selalu membuat bibirmu itu menyunggingkan senyuman manis untukku. Layaknya Alexa," bisik Robert di pikirannya.
Sandra melirik Robert yang kini tengah tersenyum terhadapnya. Ya ampun, pikir Sandra, lelaki ini benar-benar menjengkelkan!
****
"Kenapa aku harus memakai cadar seperti ini?" bisik Anna saat melintasi pasar yang sedang ramai-ramainya. Dia mengekori Luke yang sedang buru-buru berjalan tanpa memperdulikan pertanyaan Anna.
Semua orang di sekitar Anna berlalu lalang di kanan dan kiri. Pasar ini bukanlah pasar modern yang seperti di dunia fana. Tapi pasar dengan gubuk-gubuk kayu yang ditutupi oleh terpal. Penjualnya sama. Sayur-sayuran, daging, rempah-rempah, dan masih banyak lagi. Hanya saja, mereka tidak membayarnya dengan uang. Mereka masih menerapkan sistem barter. Jadi, si penjual bukanlah mendapat uang. Mereka mendapatkan buah-buahan/makanan atau kaus dari pertukaran yang mereka lakukan.
Sejenak mereka heran memperhatikan pakaian hitam Anna yang hampir menutupi seluruh tubuhnya itu. Mulai dari ujung rambutnya hingga ujung ibu jari kakinya. Kecuali mata indah dengan bulunya yang lentik itu. Anna sudah benar-benar seperti orang Arab yang ditakdirkan menjadi penyihir. Oh, yang benar saja!
Jalanan yang Anna lalui mulai menyepi. Anna cukup bingung mau dibawa kemana dia oleh Luke yang belum diketahui statusnya baik atau jahat ini. Kalau dia menolak, entah apa yang akan terjadi. Dia tidak tahu harus pergi kemana, menetap dimana, dan tinggal bersama siapa.
Mereka berdua mulai memasuki perumahan penduduk. Para penyihir di sana sedang sibuk membersihkan rumah mereka di saat mentari bersinar dengan damai. Yang Anna lihat, kebanyakan dari mereka adalah wanita. Walaupun sebenarnya ada beberapa dari mereka laki-laki, tapi tidak sebanyak wanita. Anna sempat berpikir kalau mungkin, suami para wanita itu sedang bekerja. Ya, pikiran Anna mulai merasa tahu dengan keadaan sekitar. Kenapa?
Lalu mereka berhenti di depan sebuah rumah yang sepertinya paling mewah dari rumah yang lain. Di sekeliling rumah itu dipagari dengan pagar besi yang tingginya kurang lebih dua meter. Seperti kuburan saja, pikir Anna.
KAMU SEDANG MEMBACA
The First Chance
AventuraAnnabelle, remaja berumur empat belas tahun ini, telah menemukan buku seorang penyihir. Buku itu seakan-akan berbicara dengan Anna. Anna pun tidak tahu mengapa dia menjadi yang terpilih. Tapi entah kenapa, Anna sangat tergila-gila pada kisah yang su...
