"Sekarang kita dimana?" tanya Samuel sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Tapi yang dapat dilihatnya hanyalah segerumbulan pepohonan yang menjulang tinggi tanpa memberi celah untuk bebas dari hutan itu. "Kalian... benar-benar belum pernah ke sini?" tanya Samuel lagi karena merasa frustasi tidak ada yang menanggapinya.
Robert dan Sandra saling bertukar pandang mencari jawaban. Tapi, keduanya sama-sama frustasi karena mereka berdua belum pernah ke hutan. Dan yang bisa mereka jawab, hanyalah gelengan kepala.
"Baiklah. Ayo kita lanjutkan perjalanan tanpa arah ini, atau terjebak di sini sampai mati. Aku khawatir akan keadaan Anna," kata Samuel dengan nada cemas.
Sandra dan Robert tidak bisa menjawab apa-apa. Mereka benar-benar tidak tahu wilayah hutan ini dan bagaimana cara keluar dari sini. Yang mereka ketahui tentang hutan ini adalah, hewan bernama Raboo. Itu pun, mereka ketahui karena satu bulan yang lalu, ada pembunuhan yang diduga dikarenakan oleh Raboo. Tulang-tulang kering dan bau darah segar tercium di dekat sungai. Para Deandle juga sebenarnya tidak yakin dengan mayat yang ditemukan. Karena baru kali ini, Raboo meninggalkan tulang belulang mangsanya di tempat terbuka seperti itu.
Lalu mereka mendengar suara burung hantu yang sedang memperhatikan mereka. Burung hantu itu bertengger di ranting pohon yang cukup besar tepat di belakang mereka. Mereka bertiga pun akhirnya berbalik. Burung itu terus berbunyi seperti memanggil seseorang. Bulunya berwarna coklat gelap dengan garis-garis putih yang mencoreng ujung kepalanya. Kakinya digelangkan sebuah pita kecil berwarna merah terang di kedua sisinya. Dan Robert sadar akan hal itu.
"Sshtt!!" desis Robert sambil memperhatikan burung hantu itu. "Itu burung hantu milik Frankie, salah satu bagian dari mentri di kota," kata Robert memberitahu.
"Frankie? Dan Frankie maksudmu?" tanya Sandra sedikit kaget.
Robert mengangguk. "Beri hormat! Cepat membungkuk!" perintah Robert. Lalu dia mulai membungkuk dan hormat kepada burung hantu itu sesopan mungkin layaknya seorang pelayan terhadap rajanya. Diikuti oleh Sandra dan Samuel.
"Kenapa harus hormat seperti ini? Siapa Dan Frankie?" tanya Samuel yang masih membungkukkan badannya.
"Seorang penjaga bagian kehutanan yang diangkat oleh Pak Christoff. Dia orang yang misterius. Tapi entah bagaimana caranya, dia bisa di pilih oleh Pak Christoff. Dan alasan kenapa kita harus hormat seperti ini, adalah agar dia tahu kalau kita datang ke sini dengan tujuan penting. Banyak orang datang ke sini dan menebang pohon atau memburu bintang. Jadi, kalau kita hormat seperti ini, dia akan tahu kalau kita adalah orang terpandang dan tidak akan merusak hutan," kata Robert panjang lebar.
"Lalu... harus berapa lama kita hormat seperti ini?" tanya Sandra.
"Tunggu sampai dia mengepakkan sayapnya dan pergi meninggalkan kita. Itu caranya," kata Robert.
Tiba-tiba, Samuel menegakkan punggungnya lalu menatap burung hantu itu. Robert dan Sandra bangkit dan tampak kaget dengan gerakan Samuel yang tiba-tiba. Dan burung hantu itu pun terlihat terkejut. Lalu, Samuel menatap tajam burung hantu itu seolah dia ingin memangsa burung itu. Samuel terus menatapnya hingga burung hantu itu mengepakkan sayapnya dan terbang meninggalkan mereka bertiga.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Robert dengan nada yang cukup tinggi.
"Aku tidak punya banyak waktu," jawab Samuel singkat dan langsung pergi meninggalkan Sandra dan Robert yang masih tidak percaya akan kelakuan Samuel. Walau Samuel sedikit tidak yakin dengan arah yang ditujunya, dia merasa ada sesuatu yang menariknya dan menyuruh Samuel untuk mengikutinya.
Dor! Dor!
Suara tembakan pistol terdengar dan menggema di hutan. Mereka bertiga, dan para hewan yang tinggal di sana tentu merasa kaget dengan suara itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The First Chance
AdventureAnnabelle, remaja berumur empat belas tahun ini, telah menemukan buku seorang penyihir. Buku itu seakan-akan berbicara dengan Anna. Anna pun tidak tahu mengapa dia menjadi yang terpilih. Tapi entah kenapa, Anna sangat tergila-gila pada kisah yang su...
