EMPAT

6.3K 177 0
                                        

"Ini beneran apa gimana?! Ya Allah, gue bingung."

Bella melirik pada Dewa. Apa pria itu sama sekali tak ada niatan untuk menjawab? Atau sekedar menatap nya?

Bella berdehem. "Aku...masih kuliah Tante." Jawab Bella.

Tina dan Rafa tersenyum mendengarnya jawaban bimbang dari Bella. Begitupun dengan Astrid dan Vino.

"Sayang. Kamu masih bisa kuliah kok, walaupun udah menikah nanti. Boleh sampe lulus. Gak harus berhenti." Ujar Astrid lembut.

Bella menoleh. Hatinya seakan menolak walaupun Astrid sudah mengatakan hal itu. "Tapi, Ma. Aku 'kan belum bisa apa-apa."

"Kan nanti bisa diajarin sama Dewa. Dia guru kamu juga, loh." Timpal Tina.

Bella melirik lagi pada Dewa. Pria mengangguk singkat sebagai jawaban karena Bella menatap nya.

Rafa menepuk pelan pundak putranya. "Kamu siap 'kan, ngebimbing Bella kalo sudah menikah nanti?"

Dewa mengangguk. "Iya, Yah. Dewa siap kok, biar Bella bisa jadi istri yang baik buat Dewa nantinya."

Bella mengigit bibirnya sendiri. Mengapa Dewa sangat santai bicara seperti itu di depan keluarganya. Sedangkan ia? Hanya bisa merasakan rasa abu-abu terhadap lamaran ini.

Vino tersenyum. Ia menoleh pada putrinya, yang merasa paling bingung. "Bella kalo belum bisa bilang sekarang, gapapa kok. Dadakan sih, emang. Tapi, kita semua juga gak bisa maksa. Kita kasih waktu buat kamu sama Dewa."

Rafa mengangguk. "Iya, Bella. Kamu boleh menolak, kalo kamu belum mau. Kita gak maksa."

Bella membenarkan rambutnya yang serasa berat karena kepala nya juga pusing. Helaan nafas keluar dari bibirnya, saat Astrid menyentuh tangannya lembut.

"Kasih Bella waktu. Karena Bella juga masih kuliah."

***

Bella duduk dengan tak semangat di kursinya. Ia melihat beberapa mahasiswa yang berada di kelas itu, sedang bercanda gurau atau sekedar membahas materi yang akan dipelajari nantinya.

Bella menenggelamkan wajahnya. Kepalanya sangat berat, diikuti matanya. Ia begadang tadi malam, karena terlalu memusingkan lamaran yang seharusnya tidak terlalu dibawa pusing.

Sentuhan ringan pada pundaknya, membuat Bella mengangkat kepalanya. Ia melihat Bima yang tersenyum, dan duduk di kursi yang berada di depannya.

"Sendiri?" Tanya Bima.

Bella mengangguk kecil. "Amanda kayanya belum dateng." Ujar Bella. "Kak Bima masuk kelas ini?"

Bima mengangguk. "Kebetulan banget, ya? Bisa sekelas nanti sama Lo berdua."

Bella tersenyum. "Bagus dong. Kan jadi nya ada temen nanti, selain Amanda."

"Ngomong-ngomong, tadi gue liat Lo tiduran gitu. Kenapa? Ngantuk?" Tanya Bima.

Bella mengeluarkan helaan nafas berat. "Iya. Aku begadang semalem."

"Banyak tugas?"

Bella menganggukan kepalanya. Ia tak mungkin bilang pada Bima jika ia memikirkan masa depannya yang menurutnya itu masih lama. Butuh waktu sekitar 3 tahun lagi.

Menurut Bella.

"Harusnya jangan gitu, Bel. Walaupun banyak tugas, Lo harus tetep jaga kesehatan juga. Sayang banget, kalo muka Lo yang cakep kaya gini, harus berubah cuma gara-gara begadang sehari." Tunjuk Bima pada mata Bella.

Bella mengusap matanya. "Keliatan banget itemnya, Kak?"

Bima mengangguk. "Kulit Lo itu putih. Jadi pas ada mata panda, pasti keliatan."

HELLO, MY TUTOR! [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang