pudar

903 106 26
                                        

"SPARKLEEE!!! SPARKLEEE!!! JANGAN TINGGALKAN AKU! KUMOHON JANGAN PERGI! JANGAN PERGIIIII!!!!" teriak Cloudy dalam bayangan gelap melihat Maxi terus berjalan menjauh darinya.

Berdiri seorang anak berusia remaja di sisi lain Cloudy.

"Maxi??? Maxi, kumohon bantu aku. Jangan biarkan Sparkle pergi dariku!" Tangis Cloudy meminta pada anak remaja itu.

Cloudy terus menangis, dia terus memanggil pria tinggi itu, Cloudy terus mengejar langkah pria itu, namun semuanya hanya menjadikannya semakin merasa takut dan sesak bernapas.

Cloudy tersadar dari tidurnya dan segera mengambil napas yang panjang dan banyak. Cloudy segera bangun dan mengambil air minum baginya. Waktu barusaja menunjukkan hari hampir pagi.

"Apa yang terjadi? Mengapa aku bermimpi mengerikan seperti itu?" Tanya Cloudy masih gelisah akibat mimpi buruknya.

"CK! Benar kata oma, kita harus selalu berdoa sebelum tidur. Aku terlalu lelah hingga tertidur dari sore tadi hingga hampir pagi." Keluh Cloudy menganggap semuanya hanya mimpi saja.

Cloudy menghitung waktu di China lalu meraih ponselnya dan melakukan panggilan video dengan Maxi. Berharap pria itu belum tidur. Namun dia langsung terkejut saat Retha yang menerimanya dengan menangis.

"Aunty, ada apa? Kenapa aunty menangis? Dimana Maxi?"

"Cloudy, entah apa yang terjadi pada Maxi, sesaat setelah Claire pergi dari kamar ini, mendadak Maxi mengalami sakit kepala dan sangat kesakitan. Dokter terpaksa memberinya obat penenang dan oksigen padanya supaya dia bisa beristirahat malam ini. Cloudy, aunty mohon berdoalah bagi Maxi supaya besok pagi tidak terjadi hal yang buruk pada Maxi."

"Astaga! Apa mimpi itu....."

"Mimpi? Mimpi apa Cloudy?"

"Cloudy baru saja terbangun dari tidur dan mimpi buruk itu, Maxi terus berjalan menjauh dan tak kembali meski Cloudy sudah berteriak keras memanggil dan mengejarnya."

"Astaga! Apa yang sebenarnya telah terjadi saat Claire ada disini sore tadi?"

"Aunty, tenanglah dulu aunty. Belum tentu semua ini karena Claire. Sebaiknya kita tunggu Maxi terbangun besok pagi. Aunty harus tenang, itu pasti hanya mimpi buruk karena Cloudy terlalu memikirkan Maxi saja. Tidak akan menjadi nyata."

"Ya, semoga saja hanya mimpi."

"Aunty, boleh Cloudy melihat Maxi?"

Kamera ponsel pun segera berbalik arah menghadap ke arah Maxi yang sedang tenang dalam tidurnya.

Hati Cloudy kembali menjadi sedih dan menangis melihat kondisi Maxi yang kembali harus menggunakan alat bantu pernapasan dan alat pendeteksi lainnya.

"Aunty, sebaiknya aunty juga beristirahat, supaya apapun yang besok terjadi, aunty tetap memiliki kekuatan untuk menghadapinya."

"Ya, aunty akan mencobanya, meski aunty tahu bahwa aunty pasti tak akan bisa tertidur."

"Tidurlah aunty, Cloudy yang akan berdoa."

"Bye Cloudy."

"Bye aunty. Good night."

Cloudy sungguh ingin langsung terbang menyusul ke rumah sakit saat ini, tapi jarak mereka terlalu jauh saat ini. Cloudy hanya bisa berdoa di dalam kamarnya hingga pagi tiba.

MAXITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang