BAB 7

2.1K 173 0
                                        

JANGAN LUPA KLIK VOTE.

Adit masih menunggu diluar ruang operasi yang sedang berjalan. Indira sedang berjuang di dalam untuk kelangsungan hidupnya.
Adit menoleh kearah pria yang menjadi penyebab indira berada di ruang operasi saat ini.

Pria itu bernama Damar Adi Wicaksono ia juga tidak kalah kawatir persis sama dengan kekawatiran adit. Karena bagaimana pun ia penyebab dari kecelakaan ini terjadi. Meski tidak sepenuhnya kesalahannya namun seandainya ia lebih berhati-hati semua ini mungkin tidak akan terjadi.

Mereka harap-harap cemas dengan hasil operasi yang sedang berlangsung. Mereka berharap operasinya berhasil dan indira selamat.
Elina yang kini berada diluar kota bersama devan kini Sedang dalam perjalanan kembali.

Setelah menunggu selama dua jam akhirnya operasi selesai. Dokter keluar dari ruang operasi bersamaan dengan indira yang akan langsung di pindahkan ke ruangan perawatan.

"Dokter bagaimana keadaan pasien?" Tanya Damar yang langsung menghampiri dokter.

"Tenang ya pak.. alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar.. namun untuk kepastian bagaimana keadaan pasien kita tunggu hingga pasien sadar.." jawab dokter memberi penjelasan soal keadaan indira.

Adit langsung menghampiri indira yang terbaring di ranjang. Ia dan beberapa perawat mendorong ranjang indira untuk membawa indira menuju keruangan perawatan.

Setelah indira berada di ruang perawatan adit terus menemani indira yang hingga sampai saat ini juga belum sadar.

"Raa.. bangun ra.. maafin mas karna uda bikin kamu jadi seperti ini.. maafin mas.." gumam adit sambil terus mengenggam erat tangan indira.

Sedangkan damar sedang duduk di sofa ia terus melihat ke arah indira. Rasa bersalahnya terus menerus menyeruak di hatinya.
Hingga ia tidak sadar ponselnya terus bergetar di saku celananya.
Dengan segera ia mengecek siapa yang menelfon ternyata yang menelfon adalah nomor rumahnya.

"Assalammualaikum sayang.." ujar damar.

"Waalaikumsalam papa.. papa dimana? Kenapa papa belum pulang? Anissa kan mau makan malam sama papa.." celoteh anak kecil di semberang telfon.

"Maafin papa ya sayang.. malam ini papa gak bisa pulang cepat.. kamu makan duluan aja ya nak.. jangan lupa minum susu terus bobok ya.." ujar damar dengan lembut.

Adit mendengar obrolan damar di telfon adit meyakini damar sudah memiliki keluarga karena sepertinya yang menelfonnya adalah anaknya.

"Bapak bisa pulang aja.. tidak perlu menjaga indira disini, indira bisa saya yang menjaganya.." ujar adit.

"Beneran dokter? Saya boleh pulang? Tapi apa tidak apa-apa?" Tanya damar yang merasa bersalah.

"Tidak masalah pak.. bapak bisa datang esok hari jika ingin terus mengetahui perkembangan indira.."

Karena damar beranggapan semuanya sudah terkendali dan baik-baik saja maka ia memutuskan untuk pulang kerumah.
Ia putuskan akan kembali esok hari saja.

"Kalau begitu saya permisi dulu dokter.. besok saya kembali lagi kesini.." pamit damar.

"Namanya indira.." gumam damar sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit.

***

Adit masih terjaga ia terus memandang wajah indira yang kini tengah tertidur namun bukan tertidur biasa melainkan indira sedang dalam keadaan belum sadar.
Adit berharap indira akan sadar esok hari.

Kreeekkk!!
Pintu terbuka.

Adit menoleh ke arah pintu yang terbuka, elina berjalan memasuki ruangan bersamaan dengan devan di belakangnya.
Elina menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

Indira terbaring lemah dengan jarum infus menancap di tangannya. Wajah indira yang membengkak karena memar dan kepalanya terbalut perban karena sehabis operasi.
Yang lebih menyakiti hatinya elina adalah indira terbaring dengan menutup matanya. Indira belum juga sadar padahal waktu sudah hampir pagi.

"Mas adit indira kenapa mas?kenapa bisa jadi begini? Hiks.. hiks.." tanya elina yang menangis tersedu-sedu melihat keadaan sahabatnya itu.

Devan menenangkan elina dengan menepuk-nepuk pundaknya. Ia paham bagaimana perasaan elina saat ini namun ia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya berharap indira bisa melalui ini dengan baik.

"Indira kecelakaan mobil el.." jawab adit singkat.
Adit tidak bisa menceritakan kejadian pastinya soal sebelum kecelakaan ia dan indira saling bertemu. Ia tidak ingin menambah masalah baru lagi jika ia mengatakan hal itu.

"Kenapa jadi gini ceh ra.. lo harus bangun ra.. lo kuat ra.. lo gak pengen ketemu sama ponakan lo? Gue lagi hamil ra.. lo gak mau ucapin selamat ke gue? hiks..hiks.." ujar elina sambil menangis.

Adit kaget saat mendengar ucapan elina yang mengatakan bahwa ia sedang mengandung dan itu artinya elina sedang mengandung anaknya devan.

"Lo harus sadar dit ini bukan saatnya lo mikirin sakit hati lo.." gumam adit di dalam hatinya.
Ada rasa menusuk di hatinya saat mendengar kabar kehamilannya elina. Bagaimana pun ia masih belum bisa sepenuhnya menghilangkan bayang-bayang elina di hatinya.

Bahkan saat indira menyatakan perasaannya kepadanya siang tadi. Tanpa berfikir panjang ia langsung menolak indira mentah-mentah.
Karena kenyataannya ia masih belum bisa melupakan elina sepenuhnya.

Devan membawa elina untuk duduk di sofa karena elina tidak boleh kelelahan. Ia terus menerus menangisi indira devan takut terjadi apa-apa dengan kehamilannya elina.

"Van.. lebih baik kalian pulang saja, biar mas yang menjaga indira disini.. kalo elina sudah tenang kalian bisa kembali lagi kesini.." ujar adit.

Devan hanya menjawab dengan anggukan kepala lalu ia langsung membawa elina keluar dari ruangan.
Elina masih terus menangis di sepanjang perjalanan kerumah.
Ia heran dengan apa yang terjadi dengan indira karena ia tau bahwa indira akan menyatakan perasaannya kepada adit.

Indira menelfon elina sebelum elina berangkat keluar kota dan ia mengatakan bahwa hari ini adalah hari yang baik untuknya menyatakan perasaannya.
Lantas apa yang terjadi sebenarnya dengan indira dan bagaimana bisa indira kecelakaan.

"Van.. indira kenapa bisa kecelakaan ya van.. padahal dia nelfon aku loh pagi tadi sebelum kita berangkat keluar kota.. dia bilang hari ini mau nyatain perasaannya ke mas adit.. tapi kok malah gini jadinya.. gimana bisa indira kecelakaan.." ujar elina.

"Kita belum tau cerita pastinya sayang..  kamu tenang ya, kamu gak boleh stress sayang.. inget sama anak kita dia gak boleh stress.. oke.. aku bakal nyari tau soal indira ya sayang.." ujar devan mengingatkan elina.

"Iya van .." jawab elina patuh. Lalu ia mengelus-elus perutnya.

Devan tersenyum melihat elina yang tengah mengelus-elus perutnya. Lalu ia kembali fokus menyetir menuju rumah mereka.

Adit masih fokus memandang indira namun tiba-tiba rasa kantuk menyerangnya tanpa bisa ia tahan sama sekali karena memang beberapa hari ini ia harus bergadang merawat beberapa pasien dirumah sakit.

Dalam tidurnya adit terus menerus menggenggam erat tangan indira. Tanpa sadar jemari indira perlahan bergerak.
Merasakan respon gerakan di tangan adit, adit langsung terbangun.
Ia kaget dengan apa yang dilihatnya indira sudah membuka matanya.
Indira sudah sadar namun ia masih terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Kamu sudah sadar ra.. alhamdulillah
." Ujar adit merasa bersyukur.

"Mas adit ngapain disini? Kenapa aku bisa disini? Apa yang terjadi sama aku? Bukannya besok acara nikahnya elina?" Ujar indira yang merasa heran dengan keadaannya yang sedang terbaring dirumah sakit.

Adit langsung terdiam melihat indira yang terus menoleh kesana kemari karena kebingungan kenapa dia bisa berada dirumah sakit.
Adit syok dengan apa yang dilihatnya dan ia dengar. Indira menyangka bahwa esok adalah hari pernikahannya elina.
Yang itu artinya indira melupakan setiap momen yang ia jalani setelah pernikahannya elina.

CINTA UNTUK MAS DOKTER [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang