BAB 9

2K 159 1
                                        

JANGAN LUPA KLIK VOTE.

Indira, elina, sabila dan damar sedang berada di mobil yang sama. Indira meminta damar untuk mengantarkan elina dulu pulang kerumah. Padahal elina sudah bersikeras ingin menjaganya di kosan namun indira juga bersikeras untuk meminta elina pulang saja.

Keadaan elina yang sedang berbadan dua membuat indira merasa iba, indira takut jika nanti terjadi sesuatu dengan kandungan elina karena terlalu kelelahan menjaganya.

"Raaa.. inget lo ya kalau terjadi sesuatu siapa yang harus lo hubungi.." ujar elina yang sudah berdiri diluar mobil.

"Iyaaaa bawell.. telfon lo kan.." jawab indira.

"Naaahh benerrr awas lo kalo gak ngasih kabar apa pun ke gue.." ancam elina.

"Uda gih sono masuk.." usir indira.

"Mas damar terima kasih ya sudah anterin saya sampe rumah.. sabila tante pulang dulu ya.. bye.." ujar elina sambil melambai-lambaikan tangannya.

Damar hanya tersenyum melihat elina yang mengucapkan terima kasih.

"Sekarang kita kemana?" Ujar damar.

"Kerumah tante indilaaaaa.." teriak sabila.

Indira dan damar tertawa melihat tingkah lucunya sabila. Sesuai perintahnya indira damar langsung mengantarkan indira pulang ke kosannya. Awalnya damar hendak mengajak indira makan di restaurant dahulu namun ia urungkan niatnya karena berfikir dirinya terlalu agresif mendekati indira.

Semenjak kejadian kecelakaan itu damar tidak pernah berhenti untuk mengunjungi indira di rumah sakit. Tidak hanya karena rasa bersalahnya karena sudah menabrak indira hingga mengalami amnesia namun benih-benih cinta hadir di hatinya damar.

Bagi damar indira adalah gadis yang baik dan ia juga merasa percaya diri karena indira bersikap terbuka dengannya. Indira tidak menjaga jarak dengannya sama sekali.
Apalagi saat ini ia tau bahwa indira sangat baik terhadap putri semata wayangnya sabila.

Damar terus memandang ke arah samping dimana indira duduk dan memanggu sabila. Mereka tertawa bersama seperti sepasang ibu dan anak. Mereka juga terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.

"Mas damar.. terima kasih ya atas semuanya.." ujar indira tiba-tiba.
"Mas uda mau bertanggung jawab dan juga mas damar selalu dateng buat jengukin aku.. aku gak marah kok sama mas damar atas kejadian ini.. meski aku juga gak inget kejadian pasti kecelakaan itu.. tapi aku harap mas damar tidak merasa bersalah lagi sama aku.. oke?"
Ujar indira panjang lebar.

Damar mendengarkan semua ucapan indira dengan baik. Ia memelankan laju mobilnya agar ia bisa fokus mendengarkan indira bicara dan menyetir.

"Terima kasih ya ra.. karna kamu uda mau memaafkan mas.." jawab damar sambil senyum.

"Ya kan memang bukan sepenuhnya salah mas damar.. bisa aja kan itu juga kesalahan aku hehehe.."

"Yauda biar adil kita sama-sama salah aja.. hehehe" ujar damar.

Akhirnya mereka sampai di kosannya indira dan ternyata kosan indira tidak terlalu jauh dari rumahnya damar hanya selang dua gang saja.

"Jadi kosan kamu disini ra?" Ujar damar tidak percaya.

"Kenapa mas? Mas yang punya kosan ini?" Jawab indira becanda.

"Hahahaha ya bukanlah ra.. kalo mas punya kos-kosan ya uda pasti mas kenal kamu duluan.."

"Hehehe iya juga ya.." ujar indira sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Rumah mas itu deket banget dari sini cuma selang dua gang aja dari sini.." ujar damar menjelaskan.

"Serius mas? Brati kita tetanggaan dong.. walaupun tetangga jauh hehehe"

Karena jarak rumah mereka yang berdekatan alhasil damar tidak harus terburu-buru pulang kerumah. Sabila juga rewel minta bertamu kekosannya indira.

"Paaaa ... kita masuk dulu yukk kerumahnya tante indila.. sabila haus.." ujar sabila dengan memperagakan memegang tenggorokannya.

Damar dan indira langsung saling pandang melihat tingkah lucu gadis kecil itu.

"Rumah kita kan deket dari sini sayang
.. minumnya bisa dirumah aja ya.. kan tante indiranya mau istirahat.." ujar damar yang sedang memberi pengertian kepada putrinya.

Sabila tampaknya terlihat ngambek karena di larang oleh papanya. Indira terkekeh geli melihat damar yang terus-terusan membujuk sabila.

"Gapapa mas.. yuk masuk dulu lagian kan sabila nya memang haus.. kasian loh.." ujar indira.

"Yeeeeyyyyy.. asyikkk.. " teriak sabila yang merasa dirinya menang karena indira sudah setuju.

Damar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat tingkah putrinya itu.  Biasanya sabila selalu mendengarkan larangan damar namun kali ini sabila bersikeras dengan keinginannya sendiri.

Di lain sisi damar merasa berterima kasih kepada putrinya itu, hasilnya ia bisa berlama-lama bertemu dengan indira.

Indira membuka pintu kosannya untuk memasukkan semua tas yang berisi pakaian yang dibawa kerumah sakit selama ia di rawat. Damar membantunya membawakan barang-barangnya masuk ke dalam kosan.
Sedangkan sabila sok-sok an membantu papanya memegang ujung tas.

"Gemes banget ceh gadis kecil ini.." gumam indira sambil terus memandang sabila.

Dengan segera ia pergi ke dapur untuk mempersiapkan minuman untuk damar dan sabila. Untungnya di lemari ea masih tersisa es batu dan fanta. Semenjak indira di rawat dirumah sakit sepertinya elina menyuruh orang untuk membersihkan kosannya.
Buktinya kosan indira tidak ada debu sama sekali.

"Mas ini minumannya.. maaf aku cuma bisa sediain ini, belum belanja bulanan soalnya." Ujar indira sambil meletakkan nampan berisi fanta dingin.

"Waahh gapapa ra.. ini aja uda bikin seger tenggorokan kok.." jawab damar.

"Untuk sabila tante punya milo dingin... kan sabila masih kecil jadi belom boleh minum minuman soda.." ujar indira lagi sambil menyodorkan segelas milo dingin untuk sabila.

Damar terus memandang interaksi indira dan putrinya. Indira juga tau bahwa anak kecil seusia sabila tidak baik untuk meminum minuman soda. Padahal indira masih muda namun sepertinya indira sudah berpengalaman soal anak kecil.

Setelah berbincang-bincang sejenak dan menikmati segarnya fanta dingin akhirnya damar pamit untuk pulang. Karena hari sudah semakin sore sabila juga harus mandi dahulu.

"Raaa.. mas pamit pulang dulu ya.. terima kasih minumannya.." ujar damar.

"Harusnya aku yang berterima kasih sama mas uda di anterin trus dibantuin lagi ngangkatin barang"

"Jangan gitu ra.. mas ikhlas loh bantu kamu.. kamu minta tolong apa pun insyaALLAH mas bantu loh.. jadi kalo kamu butuh apa-apa hubungi mas aja ya.." ujar damar.

Sabila yang berdiri di antara damar dan indira tersenyum kecil melihat interaksi papanya itu. Meski sabila masih kecil ia tau bagaimana papanya. Papanya tidak pernah seramah ini dengan wanita mana pun meski dengan wanita yang menyukai papanya sekalipun.

"Iyaaa.. terima kasih ya mas.." ujar indira sambil tersenyum ramah.

"Yauda mas pamit dulu ya ra... sabila salim dulu sama tante indiranya.." perintah damar.

"Tante indila bila pulang dulu ya.. kapan-kapan bila main lagi kesini..assalammualaikum tante indila.." pamit sabila sambil mencium tangan indira.

Akhirnya damar meninggalkan kosannya indira, indira terus memandang mobil damar yang jaraknya semakin jauh lalu ia dengan segera kembali ke kosannya.
Sebelum ia masuk ke kosannya seseorang memanggil namanya.

"Indiraaa.."

Indira reflek menoleh ke arah suara itu.

CINTA UNTUK MAS DOKTER [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang