BAB 21

1.7K 113 2
                                        

JANGAN LUPA KLIK VOTENYA.

Elina dengan santainya melambai-lambaikan tangannya sambil menggendong banyu. Sedangkan devan masuk ke toko dengan gaya yang super keren bak seorang artis hollywood. Jeans, kaos, jaket kulit dan kacamata hitam.

"Astaghfirullah.. siapa itu el kok mata gue silau amat liatnya.." tanya indira sambil menutup matanya seolah-olah cahaya begitu menyilaukan di matanya.

"Gue juga gak kenal sama ini orang.. udah gausah difikirin..sok ngartis banget deh.." jawab elina.

Devan terpelongo mendengar perkataan istrinya yang malah nyelonong pergi meninggalkan dirinya. Padahal ia sudah berusaha untuk terlihat keren. Apalagi mereka saat ini berada di kota dengan julukan Paris Van Java, bukankah ia harus terlihat keren.

"Lo apa kabar ra? Gue kangen banget.. " ujar elina sambil memeluk indira.

"Gue baik, lo gimana? Sumpah gue lebih kangen dari pada lo.." jawab indira.

"Jelas lah lo baik.. mas adit kan disini.. hahahaha" ujar elina menggoda indira.

"Ih.. apaan sih lo, apa hubungannya dengan mas adit coba.." ujar indira sambil memukul lengan elina.

"Cieeee.. malu-malu.. bilang aja sih lo seneng ketemu sama mas adit lagi.. lagian selama ini mas adit memang nyariin lo.. dia nanyain ke gue mulu alamat lo disini.. gue mah ogah ngasih tau.. eh.. ternyata mas adit malah pindah dinas kesini.. memang jodoh ya kalian.." ujar elina.

"Kebetulan aja kali el.. lagian kayak nya mas adit punya pacar deh.."
Indira mengatakannya dengan wajah yang sedikit kecewa.

Devan sedari tadi sibuk melihat-lihat barang-barang baby yang ada di tokonya indira. Karena ia seperti tidak di anggap disitu elina sibuk melepas rindu dengan sahabatnya sedangkan ia hanya sendirian. Ia memutuskan berpura-pura menjadi seorang pelanggan yang sedang melihat-lihat barang.

"Gue tau nih.. pasti yang lo maksud si sasya kan?" Tanya elina.

"Sasya? Siapa sasya el? Gue gak kenal.." jawab indira bingung,karena memang ia tidak pernah mendengar nama itu sama sekali bahkan dari elina sekalipun.

"Kan lo mikir mas adit punya pacar kan? Gue yakin yang lo liat itu sasya.."

"Kok lo tau namanya dia el? Lo kenal dia?" Tanya indira yang penasaran.

"Gak kenal sih gue.. cuma gue sempat video call sama mas adit dan kebetulan ada si sasya.. ya gitu deh sempat kenalan juga gue sama dia.. cuma gue yang keselnya dia sok-sok manjaan gitu sama mas adit.. padahal mas adit gak nyaman sama si sasya itu.." ujar elina menjelaskan kenapa ia bisa mengenal sasya.

"Kalo emang mas adit gak nyaman kenapa mereka selalu bareng? Buktinya pas gue pertama kali ketemu dengan mas adit, mas adit sama sasya barengan kesini ngebeli barang-barang buat baby.." ujar indira sambil mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan adit setelah tiga tahun tidak pernah bertemu.

"Jadi kebetulan gue sempat di ceritain sama devan.. devan kenal sama si sasya ini, soalnya papanya si sasya itu temen mertua gue ra.. jadi sasya ini punya penyakit jantung gitu.. gak ngerti deh gue gimana sasya bisa deket sama mas adit.. tapi gue yakin karna papanya si sasya ini kebetulan direktur di rumah sakit tempat mas adit kerja.. gitu!!"
Ujar elina panjang lebar.

Indira hanya terdiam mendengarnya, disisi lain ia merasa kasihan dengan sasya yang ternyata memiliki riwayat penyakit jantung. Padahal sasya itu sangatlah cantik dan anggun, indira juga merasa sasya pasti juga sangat baik. Saat datang ke toko saja sasya terlihat begitu lembut dan ramah.

Hati indira sempat bimbang saat mengetahui bahwa sasya menyukai adit apalagi keadaan sasya yang seperti itu siapa yang akan tega membuatnya menangis dan terluka.

"Lo gak lagi mikir buat ngehibahin mas adit ke si sasya kan ra?" Tanya elina tegas.

"Haaaa.. ihh engga kok.. lo sok tau banget el.." ujar indira mencoba menyangkal.

"Gausah bohong deh sama gue.. gue tau lo banget ra.. gue gak mau tau ya kalo sampe lo jadi orang yang sok baik yang cuma mikirin kebahagiaan orang lain ketimbang kebahagiaan lo sendiri.. gue gak suka..lo berhak bahagia ra.. dan bahagia lo itu sama mas adit.." ujar elina menekankan indira.

"Bener yang dikatakan elina ra.. lo berhak bahagia.." ujar devan tiba-tiba nyeletuk.

Indira benar-benar bimbang dengan hatinya, di satu sisi ia memang mengharapkan dirinya bisa bersama adit setelah perjalanan rumit kisah cinta mereka dulu. Namun di sisi lain ia tidak bisa mengesampingkan sasya yang juga hadir di kehidupan adit.

"Gue harus apa?" Gumam indira di dalam hatinya.

***

Adit masih sibuk dengan pasien-pasien rawat jalan, saat bekerja adit selalu seirus dan fokus dengan pasien-pasienya. Hanya saja saat memikirkan indira yang tak kunjung di temukan saat itu yang membuat ia sering tidak fokus bekerja. Namun berbeda dengan saat ini, ia menjadi lebih bersemangat bekerja dan ingin segera pulang untuk menemui indira di tokonya.

"Nampaknya hari ini pak dokter lagi bahagia ya.. " ujar seorang ibu yang merupakan pasien adit.

"Haaa.. kok ibu bisa tau? Kelihatan sekali ya dari wajah saya?" Jawab adit sambil menyentuh pipi dengan kedua tangannya.

"Tuh kan bener.. pasti pak dokter mikirin pacarnya.." goda ibu itu.

"Ibu bisa saja.." jawab adit malu-malu.

"Kenapa gak langsung di lamar aja dokter pacarnya.. gak baik loh lama-lama.. nanti keburu di gondol orang lain.."
Ujar ibu itu menasehati adit.

"Iya juga ya buk.. bener yang ibu katakan.. saya berjuang cukup lama soalnya..sayang kalo perjuangan saya sia-sia, baiklah saran ibu saya terima.. terima kasih bu dan semoga cepat sembuh.." ujar adit sambil tersenyum ramah.

"Sama-sama pak dokter.. saya doakan semoga berjalan dengan lancar.." jawab ibu itu lagi.

Setelah memikirkan perkataan yang di ucapkan oleh pasiennya tadi adit jadi berfikir panjang. Bukankah ia mencari indira dengan tujuan menikahinya, lantas untuk apa lagi ia menunda-nunda. Alangkah baiknya ia mensegerakan niat baiknya itu.

Buru-buru adit membereskan barang-barangnya dan segera pulang. Namun tiba-tiba masalah baru datang dan akhirnya niatnya untuk segera pulang untuk menemui indira gagal.

Kreeekk
Pintu ruangan adit terbuka.
"Adit bisa bicara sebentar?" Ujar pak bryan direktur rumah sakit yang juga adalah papanya sasya.

"Bisa pak direktur.." jawab adit.

Setelah itu adit langsung menghampiri pak bryan yang ternyata ingin mengajaknya makan malam bersama. Karena tidak enak untuk menolak akhirnya adit mengiyakan ajakan makan malam itu.

"Mas adit kita makan malam dimana?" Tanya sasya yang mulai manja dengan adit apalagi saat di hadapan papanya dan adit pun tidak bisa menolak karena tidak enak dengan atasannya itu.

"Sasya.. jangan begitu, malu dilihat orang.." ujar pak bryan memperingati sasya.

"Ihh papa.. biasanya juga kan gapapa.." jawab sasya sambil manyun.

"Kamu ini ya papa bilangin gak pernah mau denger.. yasudah yuk kita berangkat.. katanya kamu mau makan seafood langganan kita.." ujar pak bryan lagi.

"Tempat tujuan uda fix kenapa malah nanyain ke gue lagi.." gumam adit di dalam hati.

Akhirnya mereka pergi bersama-sama menuju restaurant seafood tempat langganan sasya dan papanya. Karena tidak memungkinkan papanya sasya menyetir sendiri akhirnya mereka pergi satu dengan mobil saja.

Sesampai di restaurant sasya tidak sekalipun melepas lengan adit yang selalu di rangkulnya. Adit sudah merasa sangat tidak nyaman dengan keadaannya namun ia tidak bisa apa-apa.

Saat mencari tempat duduk tanpa terduga-duga adit melihat sosok wanita yang sudah sedari tadi di rindukannya.
Indira tengah duduk bersama elina,devan dan banyu yang ada di stroller.

"Mas adit.." gumam indira.
Elina menyadari indira menyebut nama adit, dengan cepat elina menoleh ke belakang dan ternyata benar. Adit berdiri tepat di belakangnya bersama dengan sasya di sampingnya.

CINTA UNTUK MAS DOKTER [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang