BAB 3

2.7K 198 0
                                        

JANGAN LUPA DI VOTE.

Indira tengah berada di sebuah rumah sakit bukan karena ia sakit atau sedang menjenguk kerabat yang sakit.
Melainkan ingin bertemu dengan mas adit untuk mengembalikan baju yang digunakan indira saat pesta pernikahannya elina.

Indira berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk mencari dimana ruangannya mas adit. Ini adalah kali pertamanya menemui mas adit di rumah sakit jadi tentu sangat wajar jika indira sama sekali tidak mengetahui dimana ruangannya.

Karena bingung indira menelfon mas adit kembali.
"Hallo mas.. ruangan mas dimana? Aku kayaknya nyasar deh ini.." ujar indira.

"Kamu sekarang dimana? Biar mas nyusul kesitu.." tanya mas adit di telfon.

"Aku kayaknya di dekat ruangan mawar deh mas.." ujar indira sambil menoleh kesana kesini.

"Apa kamu di ruangan mawar?" Mas adit sedikit kaget.

"Memangnya kenapa mas?" Tanya indira kaget dengan reaksinya mas adit.

"Kamu tunggu disitu jangan gerak-gerak kemana-mana ya.. stop disitu aja oke.. mas langsung kesana.."
Mas adit langsung menutup telfonnya dan segera menghampiri indira.

Sesuai dengan perintah mas adit, indira sama sekali tidak bergerak kemana pun. Ia berdiri tepat dimana ia berdiri dari awal hingga mas adit datang.

"Raaaa... " teriaak mas adit di ujung lorong.

"Ehh mas.." ujar indira sambil melambaikan tangannya.

Mas adit langsung menghampiri indira.
"Kamu kok sampe kesini ceh.. ini uda jauh banget dari ruangan mas.." ujar mas adit.

"Hehehe gak tau mas aku jalan terus malah nyampenya kesini.. abis rumah sakitnya besar banget.. ini juga kali pertama aku masuk kesini.."jawab indira tersenyum malu.

"Yauda yuk kita pergi dari sini.." mas adit langsung mengajak indira ke kantin rumah sakit.

Indira hanya mengikuti kemana mas adit membawanya. Dengan wajah yang tersenyum malu-malu ia merasa bangga bisa berjalan berdampingan dengan mas adit yang wajahnya sangat tampan.
Bahkan para pengunjung rumah sakit sering curi-curi pandang untuk melihat ke arahnya mas adit.

"Ra kita minum dulu yukk atau kamu mau makan? Mas traktir deh.." ujar mas adit sambil tersenyum.

"Minum aja deh mas kalo makan nanti lama.. mas kan harus ngerawat pasien lagi.." jawab indira.

"Hhaha iya juga ya.. perhatian banget ceh kamu ra sama pasien-pasien mas.." ujar mas adit sambil mengusap lembut kepalanya indira.

Mendapat perlakuan lembut seperti itu indira langsung terdiam kaku dan jantungnya tidak bisa dikendalikannya.  Tempo detakannya semakin cepat mungkin jika di periksa, mungkin dokter akan menyatakan ia memiliki riwayat penyakit jantung.

Kenapa jantung gue deg-degan gini ya.. jadi beneran kalo gue suka sama mas adit..gumam indira di dalam hati.

Indira terus menerus melamun karena ia sedang berperang dengan hati dan fikirannya. Hatinya mengatakan bahwa ia memang sedang menyukai mas adit dan fikirannya mengatakan bahwa mas adit tidak mungkin bisa menyukainya.

Mas adit melihat indira sedari tadi melamun terus.
Ia agak sedikit takut jika indira kenapa-kenapa.

"Raaa.. kamu gapapa?" Tanya mas adit sambil melambai-lambaikan tanganya ke arah wajah indira.

"Ehh maaf mas tadi aku mikirin sesuatu..hehehe" jawab indira yang malu-malu kucing.

"Mas fikir karna tadi kamu di deket kamar mayat trus kamu jadi ngeliat sesuatu yang aneh-aneh.."ujar mas adit santai.
Ia tidak sadar bahwa saat ini indira sudah melotot kaget mendengar perkataan darinya.

"Ka-m-ar ma-y-at? Mak-sud mas ta-di ak-ku.." ujar indira yang terkaget-kaget.

"Iya kamu tadi berdiri tepat di dekat kamar mayat.. makanya mas suruh jangan kemana-mana lagi.."

Indira langsung berlari mendekat ke arah mas adit. Awalnya ia duduk di berlawanan arah dengan mas adit namun karena ketakutan ia sengaja duduk di dekat mas adit.

"Mas kenapa gak bilang waktu di telfon ceh.. jadi kan aku gak lama-lama disitu mas.." ujar indira yang kini sudah mengapit lengannya mas adit sambil melihat kesana-kesini seperti yang ia dengar selama ini rumah sakit adalah tempat angker apalagi kamar mayatnya.

"Hahahaha kalo mas langsung bilang waktu di telfon yang ada nanti kamu kabur trus mas malah susah nemuin kamu dirumah sakit sebesar ini ra.." ujar mas adit terkekeh geli melihat indira yang tengah ketakutan.

"Iya ceh mas.. yauda deh ah aku mau pulang dulu mas.. aku takut lama-lama disini.. oh iya ini mas baju yang kemarin aku balikin.." ujar indira sambil menyodorkan paper bag ke atas meja kantin.

"Lohh kok di kembaliin ra.. kamu pake aja loh bajunya..kenapa harus dibalikin ceh.." ujar mas adit yang sedang melihat isi paper bag.

"Ehhh jangan mas.. ini baju couple soalnya.. kan gak lucu nanti pas aku pake trus ketemu sama mas yang juga lagi pake baju itu mana lagi sama pacar mas nanti.. dikiranya nanti aku ada hubungan yang engga-engga lagi sama mas..hehehe" jawab indira sambil nyengir,, padahal di dalam hatinya ia malah yang ingin memiliki hubungan lebih dengan mas adit.

"Hahahaha bisa aja kamu ra.. yauda kalo begitu mas terima ya.. oh iya mas lupa.. makasi ya ra karna kemarin kamu uda nolongin mas.. kapan-kapan mas teraktir makan ya kalo lagi gak sibuk.." ujar mas adit sambil tersenyum manis membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.
Indira pun tidak bisa tidak terpesona dengan wajah tampan yang ada di hadapannya kini.

"Iya mas sama-sama.. yauda aku pulang dulu ya mas.. harus ke restaurant lagi soalnya.. bye mas adit.."pamit indira, lalu ia pergi meninggalkan mas adit yang masih memandangnya dari kantin rumah sakit.

Indira terus berjalan menuju keluar rumah sakit. Selama perjalanannya ia tersenyum-senyum sendiri. Bahkan orang-orang sampai memandang aneh ke arahnya.
Namun indira tidak memperdulikannya karena hari ini ia akan bertekad pada dirinya sendiri.

"Boleh kan kalo gue kali ini egois sama perasaan gue sendiri.. boleh kan kali ini gue mau coba berjuang demi cinta gue sendiri.. kalo gue beruntung pasti mas adit mau nerima cinta tulus gue.. okee gue bakal berusaha untuk memperjuangkannya.. semangat..." gumam indira yang tengah menuggu ojek online yang di pesannya barusan.

Mas adit sudah berada di dalam ruangannya, ia memandang nanar baju yang sebelumnya di pakai oleh indira. Ia mengingat baju itu dipakai oleh indira saat pergi ke acara resepsi elina.

"Apa aku buang aja baju ini juga baju yang aku pake.. toh ini hanya akan mengingatkan aku pada elina.." gumam mas adit sambil memandang baju yang ia pegang di tangannya.
Saat pintu ruangannya di ketuk ia langsung buru-buru menyimpan baju itu di dalam loker yang ada di belakang kursinya.

CINTA UNTUK MAS DOKTER [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang