BAB 23

1.7K 119 2
                                        

JANGAN LUPA KLIK VOTENYA.

Indira masih terlihat canggung karena saat ini ia berada di apartement hanya berdua saja dengan adit. Adit yang masih menyeruput kopinya juga tidak kalah canggung.

"Mas.. aku pamit pulang ya.. uda malem banget soalnya.." ujar Indira.

"Ohh iya.. mas anter ya.. sebentar mas ambil kunci mobil dulu.." jawab Adit segera buru-buru mengambil kunci mobil yang ia letakkan di meja televisi.

Indira masih duduk di ruang tamu menunggu adit yang sedang mengambil kunci. Jantungnya masih deg-degan sambil melihat-lihat kesekeliling apartemen Adit yang cukup mewah.

Adit yang saat ini menjabat sebagai wakil direktur di sebuah rumah sakit besar tentunya tidak mengherankan jika ia tinggal di apartemen yang cukup mewah seperti ini. Mendadak indira mengingat kembali soal Sasya yang terlihat begitu menginginkan Adit. Sasya yang hidupnya bergelimang harta tentunya tidak sepadan dengan dirinya yang hanya seorang pemilik toko baby shop.

"Drama-dramaan kayak tadi cuma untuk ngajakin gue minum susu hangat doang?" Gumam Indira kesal

Saat Adit sudah mendekat Indira langsung kicep dan mengulum bibirnya yang sedari tadi mengomel.

"Yuukk ra mas antar pulang.." ujar Adit.

Indira hanya menganggukkan kepalanya dan pergi duluan menuju pintu. Mendadak tidak disangka-sangka Adit malah menghampiri Indira dan meraih tangan Indira. Sontak Indira kaget menatap tangannya sendiri yang di genggam Adit.

"Kenapa gue kayak anak TK yang lagi mau nyebrang jalan.. dipegangin mulu begini.." batin Indira.

Mau tidak mau Indira terpaksa patuh mengikuti Adit yang terus menggenggam tangannya hingga ke basement.

"Mas..gimana mau masuk mobil kalo kita begini terus?" Ujar Indira sambil menunjuk tangan yang masih saling menggenggam.

"Ehh.. iya mas lupa.. sorry ya.." jawab Adit yang salah tingkah.

Akhirnya mereka masuk ke mobil, Adit melajukan mobilnya menuju kosannya indira.

"Kenapa jadi begini sih, capek-capek bawa indira ke apartemen buat ngobrol malah cuma minum kopi sama susu hangat doang dan trus pulang?" Batinnya Adit.

Karena gugup Indira bahkan lupa memasang seatbeltnya. Adit menoleh dan menyadari hal itu, ia langsung menarik seatbelt membuat Indira kaget bukan kepalang. Posisi mereka sangat membuat canggung, Indira menahan nafasnya karena wajah Adit tepat berada di hadapannya.

Meski seatbelt sudah terpasang Adit juga tidak berpindah dari posisinya. Indira bahkan sudah tidak sanggup lagi menahan nafasnya.

"Bernafaslah indira.. sampai kapan kamu akan menahannya.."ujar Adit sambil terus menatap ke arah mata Indira.

Huuuhhh haaahhh huuuhhh haaahhh..
Indira menghembuskan nafasnya secara teratur setelah lama ia menahannya.

Namun belum sempat menarik nafas yang lama Indira malah mendapat serangan mendadak yang membuatnya langsung melotot tidak percaya. Tangannya meremas bajunya sendiri, bahkan jantungnya sudah tidak karuan lagi. Mungkin jika bisa meledak jantung Indira sudah meledak di saat itu juga.

Cup!!!
Adit mencium singkat bibir Indira.

"Sialan!! Apa-apaan ini? Kenapa ada adegan seperti ini? Bibir gue.. bibir gue di cium mas Adit? Kenapa gue malah diem aja.. harusnya gue ngamuk dong.." batinnya Indira.

Setelah ciuman singkat itu mendadak suasana di dalam mobil menjadi canggung. Adit tiada henti-hentinya mengusap keringat yang ada di keningnya. Padahal di dalam mobil sudah sangat dingin karena AC yang menyala. Ia sangat gugup karena untuk pertama kalinya ia mencium seorang gadis.

CINTA UNTUK MAS DOKTER [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang