BAB 8

2.1K 153 1
                                        

JANGAN LUPA KLIK VOTE.

Hari ini adalah kepulangan indira dari rumah sakit. Karena memang saat ini indira sudah lebih baik dan di nyatakan sehat oleh dokter. Hanya saja indira harus menajalani rawat jalan setiap minggunya.

"Ra... lo uda selesai kan? Bisa kita berangkat sekarang?" Tanya elina yang sedang membereskan barang-barangnya indira.

Indira yang tengah menatap ke arah luar jendela kamarnya langsung menoleh.

"Oke.. yuk pulang el.." jawab indira.

Saat ini indira mengalami amnesia retrogade hilangnya memori untuk peristiwa yang terjadi sebelum trauma. Adit adalah orang pertama yang mengetahui bahwa indira mengalami amnesia karena pada saat indira sadar aditlah yang menjaganya.

"Assalammualaikum.." ucap damar yang tiba-tiba hadir.

"Waalaikumsalam" jawab indira dan elina serentak.

"Mas damar.." ujar indira yang kaget karena kedatangan damar.

Semenjak indira dirumah sakit damar selalu menjenguknya disaat ia punya waktu dan kali ini dia membawa seseorang.

"Ucapin salam sayang sama tante indira juga tante elina.." perintah damar kepada seorang gadis mungil dan lucu.

"Assalammualaikum tante indila juga tante ebina.." ucap gadis mungil nan lucu itu. Karena dia masih berumur tiga tahun bicaranya pun terkadang masih celat.

"Waalaikumsalam sayang.. kamu cantik sekali.. nama kamu siapa sayang?" ujar indira sambil mensejajarkan dirinya dengan gadis kecil itu. Ini adalah kali pertama damar membawa putrinya untuk menjenguk indira. Karena selama ini damar tidak pernah menceritkan tentang kehidupannya kepada indira.

"Nama aku sabila tante.. panggil aja bila.." jawab sabila dengan gemasnya.

Indira dan elina sangat gemas melihat cara ngomongnya sabila yang keimut-imutan. Apalagi elina yang saat ini sedang mengandung sudah pasti ia merasa sangat senang saat melihat anak kecil.

"Maaf ya ra.. saya jadi harus membawa anak saya kesini.. soalnya mbak yang menjaganya hari ini izin tidak datang.." ujar damar yang merasa canggung.

"Gapapa mas.. memangnya mamanya kemana mas?" Tanya indira tanpa menoleh ke arah damar, ia masih terus mengusap kepala sabila dengan lembut.

"Mama uda pergi ke surga tante.. " jawab sabila sambil tersenyum. Entah ia mengerti atau tidak bahwa ibunya sudah tidak berada disisinya lagi.

Indira jadi merasa tidak enak hati karena mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Indira menoleh ke arah damar, damar hanya menyunggingkan senyumnya yang berarti ia baik-baik saja.

"Mama uda disurga ya sayang.. itu artinya mama bila uda bahagia disana.. jadi bila juga harus bahagia disini ya sayang.. " ujar idira sambil memeluk sabila.

Sabila merasa bahagia diperlakukan dengan hangat oleh indira. Ia seperti sedang merasakan kasih sayang seorang ibu. Karena sabila sedari bayi sudah ditinggal ibunya, ibunya meninggal saat melahirkan sabila ke dunia.
Semenjak saat itu sabila di rawat oleh ayahnya sendiri. Jika damar harus pergi bekerja sabila di jaga oleh mbak yang di pekerjakan oleh damar.

Damar yang mengetahui hari ini indira  sudah boleh pulang dari rumah sakit. Ia langsung segera berangkat menuju rumah sakit, awalnya ia tidak berniat membawa sabila. Namun tiba-tiba mbak yang menjaga sabila izin tidak masuk bekerja. Dengan terpaksa damar harus membawa serta sabila ikut kerumah sakit.

Kreeekkk!!!
Pintu kamar inap indira terbuka yang ternyata adit yang datang membawa berkas-berkas dan obat yang hendak dibawa pulang oleh indira. Karena adit dokter di rumah sakit itu ia sendiri yang mengurus segala keperluan yang dibutuhkan indira selama dirumah sakit.

"Eh mas adit.. indira uda bisa boleh pulang kan? Semuanya uda beres kan?" Tanya elina.

Namun bukannya menjawab pertanyaan elina, adit sibuk memandang ke arah indira yang tengah sibuk bermain dengan sabila.
Indira terlihat tertawa bahagia bersama sabila.

Elina menyadari sesuatu keanehan pada adit, elina mamandang ekspresi adit saat melihat indira. Terlihat rasa bersalah di matanya dan juga ia merasa iri dengan kedekatan indira dengan damar.

"Mas.. mas adit.." panggil elina membuat adit langsung tersadar.

"El ini berkas-berkas kepulangan indira dan ini obat yang bisa indira minum selama seminggu ini.. setelah itu indira harus menjalani rawat jalan setiap seminggu sekali.. yauda mas permisi dulu ya.. ada pasien yang harus mas atasi.." ujar adit yang langsung pergi meninggalkan ruangan indira, meski adit hadir di ruangan itu indira sama sekali tidak merespon apa pun ia masih sibuk dengan sabila.

Karena memang pada dasarnya indira hanya mengingat kejadian sebelum ia mengalami trauma. Dan saat itu hubungannya dengan adit hanyalah sebatas saling mengenal karena ia menjadi sahabatnya elina. Pantas saja jika ia tidak begitu perduli dengan keberadaan adit.

"El.. tadi mas adit ngapain?" Tanya indira tiba-tiba.

"Ohh.. ini mas adit nganterin berkas-berkas kepulangan lo.." jawab elina sambil memperlihatkannya kepada indira.

"Nanti kalo lo ketemu sama mas adit lagi.. sampein terima kasih gue ya el.." ujar indira.

Elina mengganggukkan kepalanya.
Elina sudah tau kejadian pasti bagaimana indira sahabatnya itu mengalami kecelakaan. Sesuai janjinya devan benar-benar mencari tau segalanya diam-diam.

Setelah mengetahuinya sendiri elina tidak bisa berbuat apa-apa. Karena pada dasarnya tidak ada yang salah disini dan tidak ada pihak yang harus di salahkan. Adit berhak menentukan apa pun soal perasaannya dan kecelakaan indira memang murni karena kurang hati-hatinya indira meski itu terjadi karena setelah pertemuan antara indira dan adit terjadi.

Elina tiba-tiba mendapatkan telfon dari devan ia katanya tidak bisa menjemput mereka di rumah sakit di karenakan ada meeting dadakan. Damar yang mendengar itu langsung mengajukan dirinya untuk mengantarkan mereka pulang.

Indira tampaknya setuju saja karena memang tidak mungkin mereka harus menunggu taksi dipinggir jalan sedangkan indira dalam keadaan baru saja sembuh.

"Yuk bila kita berangkat.." ujar damar kepada putrinya.

"Pa tante indila sama tante ebina naik mobil sama kita ya?" Tanya sabila

"Iya sayang.. karena tante indira sama tante elina tidak ada yang menjemput.." jawab damar.

"Asyikkk.. bila mau duduk sama tante indila ya pa.." pinta sabila.

"Gak boleh sayang.. tante indiranya baru aja sembuh.. sabila kan berat.."

Mendengar papanya melarang sabila sedikit kecewa ia memanyunkan bibirnya.
Indira yang mengetahui hal itu menjadi iba karena tidak sampai hati melihat gadis kecil itu kecewa.

"Gapapa mas.. sabila biar duduk bareng aku aja.." ujar indira.

"Horeeeeee.. sabila duduk sama tante indilaaaa.." teriak sabila sambil loncat-loncat kegirangan.

Indira tersenyum manis melihat sabila yang begitu bahagia saat ia izinkan duduk bersamanya di mobil. Damar pun merasa senang karena sabila di terima dengan baik oleh indira. Awalnya damar merasa takut jika indira tidak menyukai keberadaan putrinya disini.
Namun ternyata ia salah indira malah sangat senang berada dekat dengan putrinya.

CINTA UNTUK MAS DOKTER [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang