Mencintai pria yang masih mencintai wanita lain sungguh sangat menyakitkan. Tidak pernah di sangka oleh Indira ia akan jatuh hati dengan Adit yang hatinya masih menyimpan perasaan kepada mantan kekasihnya.
Penasaran? Silahkan di baca..
Maaf jika ba...
"Maaf indira.. mas gak bisa.." ujar Adit dengan wajah yang datar.
Seketika indira merasa lemas,tubuhnya mendadak seperti tak bertulang. Jantungnya berdegub kencang, tangannya tremor dan fikirannya entsg kemana. Namun ia masih bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Mencoba berekspresi sesantai mungkin, bersikap senormal mungkin dan mencoba tersenyum senatural mungkin.
"Ah.. begitu ya mas.. maaf ya mas karena uda bikin mas gak nyaman.. sekali lagi aku minta maaf.." ujar indira sambil tersenyum kikuk.
"Ra..."
"Maaf mas.. aku harus pergi dulu, tadi elina nyuruh kerumahnya.. duluan ya mas.." pamit indira, ia langsung beranjak dari tempat dimana ia dan adit saling bertemu. Indira berjalan dengan gontai menopang tubuhya sendiri dengan tenaga seadanya. Berpura-pura kuat saat perasaannya di tolak mentah-mentah.
Ia berfikir hari ini adalah hari yang tepat untuknya menyatakan perasaannya kepada adit. Namun ternyata cintanya hanya bertepuk sebelah tanganAdit menolaknya mentah-mentah.
"Raaa.. gapapa ra.. lo baik-baik aja kok meski cinta lo di tolak.. cowok gak cuma mas adit.. masih banyak yang mau sama lo.. okee.. lo harus kuat ra.. kuat.. semangat!!" Gumam indira sambil berjalan menjauhi adit, air matanya terus menetes di balik senyuman terpaksanya itu. Ia berjalan entah kemana tidak tau tujuannya.
Tanpa sadar indira berjalan menyebrang tanpa melihat sekitar lalu tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang ke arah indira.
Bruukk!!! Tubuh indira terpental setelah ditabrak oleh sebuah mobil. Orang-orang sekitar berteriak kaget saat melihat kecelakaan dadakan. Pengendara mobil langsung keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan seseorang yang di tabraknya.
Tubuh indira lunglai tidak berdaya di aspal yang sudah bersimbah dengan darahnya sendiri. Nafas indira tersenggal-senggal dan ia menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Semua orang mengerubungi indira yang sedang tergeletak di jalanan. Pengemudi mobil langsung mendekat ke arah indira.
"Mbak sadar mbak.. maafkan saya.." ujar pria itu. "Mas tolong telfon ambulance.. cepat!!!" Teriak pria itu.
Seorang ibu-ibu dengan segera menelfon ambulance rumah sakit terdekat. Indira sudah tidak membuka matanya lagi namun nafasnya masih ada itu artinya ia hanya sedang pingsan.
Indira sudah sampai dirumah sakit terdekat, petugas rumah sakit dengan terburu-buru membawa indira menuju ruang instalasi gawat darurat. Ternyata indira dibawa kerumah sakit dimana adit bekerja karena sebelumnya indira dan adit saling bertemu di taman dekat rumah sakit dan kecelakaan itu tidak jauh dari taman itu.
Adit mendengar kegaduhan ia yang sedang berjalan menuju ke ruangannya mendadak menoleh ke arah pasien yang sedang di dorong menuju IGD yang sedang melewatinya namun ia tidak sempat melihat wajahnya.
Ia melanjutkan perjalanannya lagi karena hal sangat lumrah terjadi di rumah sakit. Adit merespon dengan tatapan yang biasa saja. Namun tiba-tiba tanpa sengaja ia menginjak sesuatu.
Crack!! Suara benda yang pecah karena diinjak oleh adit. Adit langsung mengambil benda yang ada di lantai rumah sakit dan sepertinya sudah retak. Ia berfikir mungkin benda itu milik pasien yang di bawa barusan.
Namun saat melihat benda itu dengan baik ternyata benda itu adalah sebuah jepitan rambut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
A
dit mengingat-ingat sepertinya ia pernah melihat jepitan ini sebelumnya. Lalu ia tersadar jepitan itu persis sama dengan jepitan yang di pakai oleh indira.
Karena saat pertemuannya dengan indira tadi ia melihat dengan jelas jepitan yang ada di rambutnya indira.
"Ini bukannya jepitan indira? Apa jangan-jangan.." gumam adit sambil terus memegang jepitan di tangannya. Terburu-buru ia berlari menuju ke ruangan instalasi gawat darurat.
Terlalu banyak pasien yang sedang di tangani disana adit harus mengecek satu-satu padahal ia hanya harus bertanya dengan petugas ambulan yang membawa pasien sebelumnya. Namun karena panik ia jadi tidak menyadari itu.
Ia mengecek satu-satu pasien yang ada tidak di temukannya indira. Hanya satu pasien yang belum ia cek yang tengah di tangani diujung ruangan. Perlahan adit berjalan menuju tirai yang tertutup dapat.
Tangannya sedikit gemetar saat hendak ingin membuka tirai yang tertutup. Adit menyiapkan hatinya jika ternyata memang indira yang terbaring di tempat tidur rumah sakit.
Sreeekk!! Suara roda tirai terbuka lebar. Didalamnya terdapat beberapa perawat dan seorang dokter yang sedang memeriksa keadaan pasien. Pasien itu bersimbah darah kepalanya terus mengeluarkan darah karena terbentur pinggiran jalan.
Adit terpaku di tempat detak jantungnya tidak beraturan, matanya melotot tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Indiraaaa..." gumam adit dengan suara pelan.
Adit melihat indira lemah tidak berdaya di ranjang. Ada rasa bersalah di hatinya karena membiarkan indira pergi begitu saja sendirian setelah apa yang di alaminya.
"Dokter lina apa yang terjadi dengan pasien ini?" Tanya adit panik.
"Dokter adit.. maaf dok saya hanya tau pasien ini mengalami kecelakaan mobil.. untuk kronologi pastinya dokter adit bisa menanyakan pihak kepolisian di diluar." Jawab dokter lina yang menangani indira.
Adit langsung bergegas keluar dari Instalasi gawat darurat. Ia dengan segera menanyakan pihak kepolisian bagaimana kronologi kejadian pastinya.
Pihak kepolisian mengatakan bahwa indira menyebrang dengan tanpa menoleh kiri dan kanan. Tanpa sengaja mobil yang di kendarai seorang pria menabrak indira karena tidak tau jika indira sedang menyebrang. Pria itu juga mengendarai mobil agak sedikit kencang karena terburu-buru.
Adit mengusap kasar wajahnya karena ia tau kecelakaan itu terjadi setelah pertemuannya dengan indira di taman. Adit tidak menyalahkan siapa pun karena ia sendiri lah yang bersalah atas kejadian ini. Seandainya ia mengejar indira agar mengantarkannya pulang pasti kejadian ini tidak akan terjadi.
Lalu tiba-tiba seorang pria menanyakan keadaan indira kepada adit.
"Dokter bagaimana keadaan pasien yang kecelakaan barusan? Apa dia baik-baik saja?"tanya pria itu panik.
"Maaf anda ini siapa?" Tanya adit.
"Saya yang menabrak wanita itu dokter.. saya tidak sengaja.. saya takut dia kenapa-kenapa.." ujar pria itu sambil terduduk kawatir. Ia takut jika wanita itu meninggal dan itu artinya ia secara tidak sengaja menghilangkan nyawa orang lain.
"Anda tenang saja.. pasien sedang di tangani dengan baik.. berdoa saja semuanya baik-baik saja.." ujar adit menenangkan pria itu. Karena sebagai seorang dokter ia harus lebih bisa mengendalikan dirinya sendiri meski sekarang hatinya sudah tidak karuan karena kejadian yang menimpa indira.
Adit kembali ke ruangan instalasi darurat dan ternyata indira sudah tidak berada di situ ia telah dibawa keruang operasi. Sebelumnya pria yang menabrak indira mengatakan ia akan membiayai semua biaya penanganan indira. Maka pihak rumah sakit dengan segera melakukan tindakan meski wali pasien belum terlihat hadir.
Karena indira sedang berada di ruang operasi Adit dengan segera menelfon elina, untuk memberitahukan kabar indira kecelakaan. Adit tidak tau harus menghubungi siapa karena indira hidup sebatang kara dan ia hanya memiliki elina sahabatnya.