BAB 11

2.1K 142 0
                                        

JANGAN LUPA KLIK VOTE.

Semakin hari kedekatan antara damar dan indira semakin intens, yang awalnya mereka hanya bertemu jika sabila yang meminta namun kali ini damar lah yang selalu mengajak indira bertemu.

Setiap sepulang indira bekerja di restaurant. Damar dengan senang hati menjemput indira.

"Tanteeee indilaaaaaa.." teriak sabila dari dalam mobil.

"Heiiiii si cantik ikut jemput tante juga?" Ujar indira.

"Iya dong tante soalnya kata papa habis ini mau makan malam sama tante indila.." jawab sabila dengan gemasnya.

Indira sedikit kaget dengan perkataan sabila karena pada dasarnya ia saat ini hanya mengenakan pakaian santai.

"Mas.. kok mendadak gini ceh mau makan malam.. aku habis pulang kerja loh kan gak banget dilihat orang.."ujar indira sambil melihat penampilannya sendiri.
Damar mendadak keluar dari mobilnya.

"Lohh mas itu kan baju dokter, jadi mas juga dokter sama kayak mas adit?" Ujar indira yang terkaget.

Karena selama ini indira tidak pernah bertanya apa pun soal pekerjaan damar. Hal itu karenakan damar juga tidak pernah menceritakan tentang dirinya secara terbuka.

"Maaf ya ra.. mas baru bilang sekarang.." ujar damar.

Selama ini damar selalu menyembunyikan identitasnya yang seorang pemilik rumah sakit swasta yang terletak agak jauh dari perkotaan.
Rumah sakit yang dikhususkan untuk orang-orang yang tidak mampu.

Rumah sakit itu memang sudah ada dari damar kecil. Kedua orang tuanya lah yang membangun rumah sakit itu. Semenjak kedua orang tuanya meninggal. Damarlah yang mengurus semuanya, karena di dalam keluarga hanya dia lah yang berprofesi sebagai seorang dokter.

Lahir dari keluarga sultan tidak membuat damar menjadi sombong dan lupa diri. Kedua orang tuanya mendidiknya dengan baik agar selalu rendah hati. Hal ini lah yang mendasarinya untuk bersedia mengelola rumah sakit peninggalan kedua orang tua.

"Waaahh keren mas.. aku salut loh mas mau mengelola rumah sakit khusus untuk orang-orang yang tidak mampu.." ujar indira.

"Jangan gitu ra.. mas jadi sombong nanti, lagian rumah sakit itu tidak memberikan layanan cuma-cuma kok ,mereka juga harus bayar dengan jaminan kesehatan yang mereka miliki. bagaimana pun rumah sakit mas kan punya karyawan dan dokter-dokter lain yang juga harus di gaji. Ya memang kelebihannya itu rumah sakit mas selalu memprioritaskan pasien dahulu urusan biaya bisa di atur belakangan." Ujar damar menjelaskan panjang lebar.

"Tapi tetep aja aku salut sama mas.. gimana pun rumah sakit mas itu benar karena selalu memperioritaskan pasien bukan hanya sekedar biaya rumah sakit. Karena yang aku tau rumah sakit kebanyakan itu selalu mengutamakan biaya dari pada keadaan pasien itu sendiri mas.. apalagi kalo yang sakit tuh orang susah.. beuhh ibaratnya tuh gini mas orang miskin itu gak boleh sakit karna kalo sakit bukannya di obati malah makin sakit mikirin soal biaya"

"Nahh itu lah hal yang mendasari kedua orang tua mas untuk membangun rumah sakit ini, pengalaman adalah guru terbaik. Orang tuanya ibu dan bapaknya mas dulu hidupnya susah saat sakit mereka harus kesulitan untuk diobati dan alasannya itu karena biaya. Jadi kedua orang tua mas jadi berinisiatif untuk membangun rumah sakit ini."

"Papa sama tante indila dari tadi ngomongin apa ceh bila gak ngerti.. mana bila di anggurin terus.." ujar sabila yang merasa kesal karena di abaikan dan tidak diajak mengobrol.

Damar langsung terkekeh saat putrinya menyela obrolan orang dewasa antara dirinya dan indira.

"Maaf sayang.. papa keasikan ngobrol sama tante indira." Ujar damar yang masih terus menyetir.

"Iya sayang maafin tante juga ya.. sabila mau ngomongin apa? Biar tante dengerin.." ujar indira.

Setelah obrolan panjang dengan damar , kini indira mengobrol panjang dengan sabila. Sepanjang perjalanan mereka asyik mengobrol hingga indira tidak sadar kini mereka sudah berhenti di sebuah rumah yang cukup mewah.

"Lohh ini rumah siapa mas? Katanya kita mau makan malam?" Tanya indira yang meresa aneh.

"Iya kita memang mau makan malam disini.." jawab damar sambil senyum.

"Ini vila? Atau restaurant berbentuk rumah?" Tanya indira lagi sambil melihat-lihat sekeliling rumah dari dalam mobil.

"Hahahaha bukan ra.. ini rumah mas.. yukk masuk.." ujar damar yang sudah membuka pintu mobilnya.

Mendengar damar mengatakan ini adalah rumahnya, jantung indira mulai berdegub kencang ia tidak menyangka bahwa rumah yang dimiliki oleh damar akan sebesar ini.
Wajaar saja damar kan memang anak sultan.

Indira keluar dari mobil dengan sedikit ketakutan dan merasa canggung. Bagaimana pun ini adalah kali keduanya menginjakkan kaki di sebuah rumah yang cukup mewah.
Kali pertama ia menginjakkan kaki dirumah mewah adalah rumahnya devan suami sahabatnya elina.

"Ayukkk masukk ra jangan sungkan.."ujar damar yang melihat indira masih berdiri di dekat mobil.

Dengan langkah kaki yang berat indira melangkah dengan perlahan. Sabila menggenggam erat jemari tangannya. Untungnya ada sabila yang menemani ia berjalan jika tidak sudah pasti indira akan hanya berdiri di tempat.

***

Di tempat yang lain adit sedang berada di ruangan kerjanya. Hari ini ia harus lembur karena harus menggantikan dokter yang meminta izin libur karena akan menikah.

Perutnya sedikit lapar karena sejak siang tadi ia belum memasukkan makanan apa pun ke dalam perutnya. Adit memutuskan untuk pergi ke kantin saja.

Sesampainya di kantin ia duduk dikursi dimana ia dan indira pernah duduk bersama. Adit kembali ke masa-masa saat ia dan indira begitu menikmati kebersamaan meski hanya sebatas berteman.

"Ra.. mas kok jadi rindu sama kamu ya.." gumam adit sambil mengaduk-aduk makanannya sedari tadi.

Mendadak suara yang di kenalnya memanggil.
"Mas adit..."

Adit langsung menoleh ia melihat elina sedang berjalan menuju ke arahnya.

"Mas adit lagi makan ya... kok gak ngajak-ngajak ceh.." ujar elina sambil manyun.

"Yaampun kamu baru dateng loh el, ya gimana mas mau ngajak kamu.. ada-ada aja ceh kamu ini.." jawab adit sambil mencubit gemas pipi elina.

"Awwwww mas adit jangan gitu.. aku bukan anak kecil lagi tau.. mas lupa ada baby di dalem perut aku?" Ujar elina sambil menunjuk-nunjuk perutnya yang sudah mulai kelihatan membesar.

"Hahaha iya iya deh yang uda mau jadi calon ibu gak mau lagi deh di anggap anak kecil.." goda adit.

"Iya dong mas.. eh iya mas kok makan sendirian temen yang lain kemana?" Tanya elina sambil menoleh kesana-kemari.

"Temen yang lain ada tugas masing-masing, mas laper jadi ya ke kantin.."

"Katanya laper tapi makanannya cuma di aduk-aduk terus.. kenapa?mas adit lagi galau yaaa..." goda elina sambil menunjuk ke arah wajah adit.

"Idih siapa yang galau coba.. kamu ngapain ceh el kesini.. gih pulang sono, gak baik lama-lama di rumah sakit." Ujar adit yang mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Yeeee main ngusir ajeeee.. yauda deh mas aku pulang dulu yaaaaa... devan uda jemput tuh.." pamit elina yang tengah menganggkat telfonnya.

Adit hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah usil mantannya itu. Namun satu hal yang ia merasa aneh hatinya tidak merasakan apa pun saat berdekatan dengan elina. Padahal selama ini ia masih menaruh hati terhadap elina dan itu jugalah alasannya menolak perasaan indira. Namun anehnya saat ini ia terlihat biasa saja dan malah seperti tidak pernah menjalin hubungan apa-apa dengan elina.

CINTA UNTUK MAS DOKTER [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang