BAB 39

2.7K 148 4
                                        

JANGAN LUPA KLIK VOTENYA.

Adit dan Indira sedang berada di IGD karena harus mengobati luka-luka yang ada di tubuhnya Adit. Indira duduk menunggu sedangkan Adit tengah ditangani oleh perawat jaga IGD. Adit terus menatap ke arah Indira tanpa berkedip. Seolah-olah ia takut Indira akan hilang dari penglihatannya.

"Mbak Indira gak bakalan kemana-mana kok mas Adit.. takut banget sampe di liatin sampe sebegitunya.." ujar Sasya.

"Untuk apa kamu kesini Sya.. cuma mau godain aku?" Ujar Adit.

"Idihhh mas Adit galak amat.. kalau mbak Indira gak ketemu aku dijalan tadi pasti mas gak bakalan ketemu sama mbak Indira.." jawab Sasya.

Adit melihat Sasya sambil mencibir namun ia sangat berterima kasih karena berkat Sasya lah ia tau dimana keberadaan Indira. Diam-diam Sasya mengirim pesan kepada Adit dan memberitahukan jika Indira dan dirinya sedang dalam perjalanan kerumah sakit.

Adit pun segera menuju kerumah sakit dan benar saja ia melihat Indira tengah bersama dengan Airin.
Mendadak Indira terlihat beranjak dari duduknya, Adit langsung bergerak dari duduknya padahal perawat sedang mengobati lukanya.

"Dokter jangan pergi dulu saya belum selesai mengobati lukanya dokter.." ujar Perawat.

"Tapi itu kekasih saya mau pergi.." jawab Adit.

"Kekasih dokter tidak akan kemana-mana, dokter tenang saja.." ujar Perawat sambil tersenyum melihat tingkahnya Adit yang begitu takut jika Indira pergi.

Sontak Sasya tertawa terbahak-bahak melihat Adit yang terlihat sangat panik. Bagi Sasya Adit sangat terlihat konyol jika memang begitu takut kehilangan Indira bagaimana bisa ia membuat Indira pergi seperti itu.

"Mas Adit.. mas Adit.. dasar.. makanya mbak Indiranya di jaga baik-baik jangan malah dibuat pergi kayak tadi.. mbak Indira itu sayang banget loh sama mas Adit tapi kok bisa-bisanya mas Adit malah percaya sama foto dari pada mbak Indira.." ujar Sasya.

"Rasa cemburu yang membutakan semua dan aku menyesalinya.. terima kasih Sasya berkat kamu aku masih bisa melihatnya.." ujar Adit sambil melirik ke arah Indira yang tengah berbincang-bincang dengan keluarga pasien yang ada di IGD.

Sasya menyunggingkan senyumnya melihat Adit yang begitu terlihat sangat mencintai Indira. Dulu ia sempat ingin mendapatkan Adit untuk dirinya sendiri begitu beruntungnya jika Adit juga merasakan perasaan yang sama dengannya. Namun cinta sedang tidak memihaknya karena Adit mencintai wanita lain bukan dirinya.

Tidak ingin kehilangan segalanya Sasya mencoba untuk mengikhlaskan semuanya. Memgikhlaskan jika Adit memang tidak di takdirkan untuknya. Beruntung setelah mencoba untuk ikhlas hubungannya dengan Adit menjadi lebih baik. Adit yang biasanya bersikap acuh padanya kini menganggapnya seperti seorang adik dan Sasya pun memiliki teman baru yaitu Indira.

"Sekeras apa pun aku mencoba melawan takdir.. takdir mas dengan mbak Indira tidak akan pernah bisa goyah.. tapi aku tidak menyesal mas pernah menyukai mas Adit dulu.. justru aku beruntung pernah menyukai pria hebat seperti mas Adit.." gumam Sasya di dalam hatinya.

Tidak butuh waktu lama setelah selesai si obati Adit langsung pergi menuju Indira yang tengah berbincang dengan keluarga pasien.

"Ra.. yukk kita pulang.." ujar Adit.

Indira langsung menoleh saat mendengarnya. Namun ia malah menyuruh Adit untuk duduk sejenak.

"Mas duduk dulu sini.. aku mau minta tolong sama kamu, kamu kan wakil direktur dirumah sakit ini.. bisa gak sih bantu ibu ini, ibu ini dan anaknya ngalamin kecelakaan.. gerobaknya di tabrak tapi penabraknya kabur mas.. ibu ini gak punya biaya buat bayar perawatan.. mas bisa bantu ibu ini?" Ujar Indira yang terlihat memohon.

CINTA UNTUK MAS DOKTER [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang